Surabaya (beritajatim.com) – “Pesantren harus mandiri dan tidak boleh lagi keliling dengan membawa-bawa proposal.” Kalimat itu terucap langsung dari Dr. H. Anas Al-Hifni, S.E.I, M.Si., menggambarkan betapa pentingnya kemandirian ekonomi dalam denyut nadi pesantren. Menjadi penegas, pesantren bukan lembaga penerima donasi namun harus mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), menjadi penggerak, bahkan inspirasi bagi umat.
Dr. H. Anas Al-Hifni, S.E.I, M.Si, akrab disapa Gus Anas, saat ini mengampu sebagai Direktur Perekonomian Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Dia bercerita banyak tentang bagaimana Pondok Pesantren Sunan Drajat membangun beragam lini usaha, yang akhirnya menjadi penopang utama pesantren terkemuka di Kota Soto itu dalam hal ekonomi.
Kopontren, atau Koperasi Pondok Pesantren, merupakan inisiatif dan menjadi salah satu lini usaha dari PP Sunan Drajat Lamongan. Pengaruhnya ternyata cukup besar, tidak hanya bagi pondok namun juga masyarakat luas.
Kopontren Sunan Drajat Lamongan saat ini membawahi sejumlah lini usaha. Di antaranya toko serba ada (toserba), restoran, hotel, serta Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Dari keempat lini tersebut, lini toserba yang diberi nama Toserba Sunan Drajat berkembang sangat pesat.
Omzet yang dihasilkan tidak main-main. Angkanya menyentuh miliaran rupiah. Pada 2023 saja, Kopontren Sunan Drajat Lamongan mampu meraup omzet mencapai Rp115 miliar. Angka yang cukup mengesankan.
Saat ini, Toserba Sunan Drajat telah memiliki 11 cabang di Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dan Gresik. Ada rencana besar untuk mengembangkan lagi 20 hingga 60 toko di berbagai kota lain, terutama di kawasan Madura.
Toserba Sunan Drajat kini menjelma menjadi retail modern terkemuka dan mampu bersaing denga brand-brand retail. Bahkan, di beberapa titik, salah satunya Paciran, Lamongan, Toserba Sunan Drajat sudah dianggap sebagai Mall-nya Orang Paciran.
Dalam pengembangan bisnis, terang Gus Anas, Kopontren Sunan Drajat tidak bergerak sendirian. Melainkan membangun hubungan kemitraan dengan para santri, alumni, serta pesantren lain. Skema ini diterapkan mulai dari pasokan hingga distribusi dan pengembangan.
Seluruh komoditas yang disediakan Kopontren Sunan Drajat diupayakan berasal dari aset pesantren, produk para santri serta alumni, serta dari pesantren-pesantren mitra. “Hanya produk yang tidak bisa dipenuhi sendiri, kita kerja sama dengan suplier prinsipal,” kata Gus Anas.
Kemitraan saling menguntungkan menjadi skema yang dipegang Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan melalui seluruh bidang usahanya. “Ponpes Sunan Drajat tak mau untung sendiri, tapi juga ingin memberikan manfaat dengan memberdayakan santri dan pesantren,” terang Gus Anas. [beq]






