Ponorogo (beritajatim.com) – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung terhadap penyelenggaraan ibadah umrah. Situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif membuat sejumlah penerbangan mengalami penyesuaian, termasuk proses pemulangan jemaah. Kondisi ini turut dirasakan oleh jemaah asal Ponorogo yang tengah menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (KHU) Ponorogo, Marjuni, memastikan jemaah yang saat ini berada di Makkah maupun Madinah dalam kondisi aman dan tetap bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk. Meski demikian, terdapat kendala dalam proses kepulangan sebagian jemaah akibat situasi penerbangan. Tercatat, 13 jemaah dari salah satu Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) sempat tertahan di Jeddah selama tiga malam.
“Terkait yang sedang melaksanakan ibadah umrah di Makkah maupun di Madinah bisa berjalan dengan aman dan nyaman ibadahnya. Hanya saja info yang kami terima, 13 jemaah ibadah umrah dari PPIU tertentu, ini saatnya pulang mereka tertahan di Jeddah. Kalau kita hitung sampai dengan kemarin sudah tiga malam. Ada overstay tiga malam,” terang Marjuni, Rabu (4/3/2026).
Marjuni menjelaskan, jemaah yang tertahan tersebut berada di sekitar area bandara Jeddah sembari menunggu kepastian jadwal keberangkatan. Penundaan itu dilakukan demi mempertimbangkan faktor keamanan penerbangan di tengah eskalasi konflik yang masih tinggi. Namun, pihak PPIU disebut tetap bertanggung jawab penuh dalam memberikan pelayanan kepada jemaah. “Yang di Jeddah mestinya di penginapan sekitar bandara, sambil menunggu kepastian keberangkatan dan keamanan bandara,” ungkapnya.
Marjuni menambahkan, perkembangan terbaru menunjukkan kabar baik. Berdasarkan informasi yang diterima KHU Ponorogo, jemaah yang sempat tertahan kini sudah diberangkatkan dari Jeddah dan mendarat melalui Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Seluruh jemaah juga dipastikan dalam keadaan sehat.
“Insya Allah PPIU bertanggung jawab senantiasa melayani jemaah. Pagi ini kami dapat informasi sudah diterbangkan dari Jeddah kemudian mendarat lewat Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Informasi dari PPIU alhamdulillah semua jemaah sehat,” jelasnya.
Di sisi lain, KHU Ponorogo telah menyampaikan imbauan resmi kepada masyarakat dan PPIU menyusul edaran dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta Kementerian Haji dan Umrah. Selama eskalasi konflik di Timur Tengah belum mereda, pemberangkatan jemaah umrah untuk sementara waktu ditunda. Kebijakan ini dilakukan demi keselamatan jemaah.
“Dari kami di Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Ponorogo sudah menyampaikan informasi baik itu dari Kemenlu maupun dari Kementerian Haji dan Umrah terkait dengan imbauan dan edaran bahwa selama eskalasi ini belum melembut, masih tinggi seperti ini di Timur Tengah, maka tidak ada pemberangkatan jemaah umrah. Adapun untuk pemulangan masih terus diupayakan jalannya. Begitu aman langsung dipulangkan. Yang sedang beribadah dalam keadaan sehat dan aman baik di Makkah maupun Madinah,” paparnya.
Penundaan pemberangkatan ini berlaku hingga adanya pencabutan resmi dari Pemerintah Pusat. KHU Ponorogo juga meminta seluruh PPIU untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada calon jemaah agar bersabar menunggu situasi benar-benar aman. Prinsip kehati-hatian diutamakan agar ibadah tetap berjalan lancar tanpa risiko keselamatan.
“Sesuai dengan mereka melakukan perjalanan. Adapun untuk penundaan ini sampai dengan dicabutnya imbauan dan edaran dari Kemenlu dan Kementerian Haji dan Umrah. Kami senantiasa meminta PPIU menahan jemaahnya untuk diberikan pengertian dan edukasi. Berangkat menunggu aman,” pungkasnya. (end/kun)






