Bojonegoro (beritajatim.com) – Dalam menghadapi perubahan iklim dan menurunkan emisi karbon, perhatian dunia kini tertuju pada pengembangan lingkungan berkelanjutan. Industri hulu migas juga ikut mengambil peran aktif dalam mengatasi isu ini, termasuk PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Regional Indonesia Timur. Melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM), PEPC berkomitmen untuk berkontribusi pada pengurangan dampak perubahan iklim dengan dukungan penuh dari Dewan Komisaris dan manajemen perusahaan.
PEPC memandang serius peran mereka dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Hal ini dibuktikan dengan peninjauan langsung oleh manajemen ke lapangan untuk memastikan bahwa program yang diimplementasikan dapat mencapai target yang tepat.
Komisaris Utama PEPC, Taufan Hunneman, menegaskan bahwa perusahaan berupaya mencapai target net zero emission pada tahun 2060. Saat melakukan monitoring di kawasan hutan sekitar fasilitas produksi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru, Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, Taufan mengungkapkan pentingnya tindakan nyata untuk mencapai target tersebut.
Salah satu langkah konkret PEPC adalah melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial Berbasis Ekologi Melalui Sistem Agrosilvopastoral Fishery, yang dikenal sebagai Program Pesona Hutan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi kawasan hutan, mendukung konservasi keanekaragaman hayati, dan pertanian berkelanjutan. Program yang dilaksanakan pada tahun 2024 ini menunjukkan komitmen PEPC dalam pelestarian lingkungan dan dekarbonisasi.
Taufan menggarisbawahi pentingnya dukungan semua pihak dalam upaya mengurangi emisi karbon. Menurutnya, sinergi antara industri, masyarakat, dan stakeholder terkait adalah kunci keberhasilan dalam menanggulangi perubahan iklim. “Kami akan terus mendukung kegiatan yang berorientasi pada lingkungan dan berupaya menginisiasi program yang memberikan manfaat nyata dalam pengurangan emisi karbon seperti Program Pesona Hutan ini,” ujarnya.
Program Pesona Hutan menargetkan peningkatan luas tutupan lahan hingga 3 persen di kawasan hutan Petak 52-A1. Selain meningkatkan populasi keanekaragaman hayati, program ini juga memperbaiki kualitas tanah. Pada tahun 2023, program ini berhasil menyerap emisi karbon sebesar 170,667 CO2 equivalent. Selain itu, PEPC juga mengunjungi komunitas Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH) yang mengolah sampah dan produksi maggot, yang turut mendukung serapan karbon sebesar 2,0295 CO2 equivalent.
Dalam kunjungan manajemen PEPC, dilakukan juga simbolisasi pembangunan gedung Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Wana Bhakti. Taufan Hunneman menyampaikan apresiasinya kepada para tenaga pendidik yang berdedikasi mencerdaskan bangsa.
“Mencerdaskan bangsa adalah amanat konstitusi, kita perlu menghargai usaha para tenaga pendidik yang berkontribusi bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.
Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Juwanto, menyatakan apresiasinya terhadap program PEPC di wilayahnya. Menurutnya, program ini meningkatkan kapasitas para petani dalam mengelola lahan dan meningkatkan perekonomian mereka. “Program Pengembangan Masyarakat ini cukup strategis dan kami berterima kasih atas kerjasama yang telah terjalin,” ujarnya.
Sejak fase proyek hingga fase operasi, PEPC konsisten dalam mengurangi emisi karbon. Pada fase proyek, PEPC menanam 25 ribu pohon trembesi di beberapa kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, termasuk di jalur utama Bojonegoro – Ngawi. Pohon trembesi ini mampu menyerap lebih dari 100 ribu ton CO2 equivalent. Dalam menjalankan bisnisnya, PEPC berpedoman pada prinsip Environment, Social & Governance (ESG).
Sebagai negara hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam pengurangan emisi dengan menekan angka deforestasi dan degradasi hutan. Upaya PEPC dalam menghadapi perubahan iklim adalah manifestasi dari komitmen mereka untuk masa depan yang berkelanjutan. Sinergi antara industri, masyarakat, dan stakeholder menjadi semangat yang harus dijaga agar tujuan dekarbonisasi tercapai. [beq]






