Surabaya (beritajatim.com) – Kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026 menuai respons dari ekosistem olahraga elektronik. Menepis kekhawatiran terhambatnya regenerasi atlet muda, Pengurus Provinsi E-Sports Indonesia (ESI) Jawa Timur memastikan pembinaan usia dini tetap berjalan dengan pendekatan lebih terstruktur.
Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Komdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang mengatur pembatasan akses platform digital bagi anak.
Ketua Harian ESI Jawa Timur, Daniel Agung, menegaskan pihaknya telah mengkaji dampak kebijakan tersebut dan menyiapkan langkah preventif, termasuk memperjelas batas antara kecanduan gawai dengan aktivitas latihan atlet profesional usia dini.
Ia mencontohkan fenomena game Roblox yang banyak dimainkan anak-anak dan kerap menjadi sorotan publik. Menurutnya, permainan tersebut tidak termasuk dalam kategori esports kompetitif.
“Hal ini sudah kami sosialisasikan kepada orang tua dan anak-anak. Roblox bukan merupakan game yang dipertandingkan di level keatletan. Itu adalah game kasual dan tidak ada hubungannya dengan jejak prestasi para atlet muda,” tegas Daniel.
Daniel juga menyoroti pandangan yang kerap menyamaratakan screen time dalam konteks esports. Ia menegaskan bahwa durasi penggunaan gawai dalam pembinaan tidak bisa disamakan dengan kecanduan digital.
“Pembinaan itu memiliki jadwal latihan terukur, target peningkatan skill, evaluasi performa oleh pelatih, serta pengawasan dari pembina dan orang tua. Sementara kecanduan digital biasanya ditandai aktivitas tanpa kontrol, tanpa tujuan prestasi, dan mengganggu keseimbangan hidup anak. Harus dibedakan, apakah teknologi digunakan untuk konsumsi hiburan tanpa batas, atau untuk latihan terstruktur yang dibina profesional,” paparnya.
ESI Jawa Timur juga menilai pentingnya pemisahan antara platform media sosial dengan ruang kompetisi esports. Platform yang berpotensi adiktif umumnya memiliki algoritma yang mempertahankan perhatian pengguna tanpa batas serta interaksi publik luas tanpa moderasi.
Terkait tingginya angka cyberbullying yang menjadi salah satu latar belakang kebijakan Komdigi, ESI Jatim memandang hal tersebut sebagai risiko nyata di ruang digital, termasuk dalam komunitas gaming.
Menurut Daniel, pembatasan akses media sosial memiliki tujuan positif untuk melindungi anak dari interaksi digital yang tidak terkontrol, termasuk potensi perundungan siber.
Namun demikian, ESI Jatim mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembatasan, tetapi juga edukasi karakter dan literasi digital bagi atlet muda.
“Pembinaan esports harus menanamkan sportivitas, etika kompetisi, serta literasi digital sejak dini. Pendekatan kami bukan hanya pembatasan, tetapi juga edukasi karakter agar atlet muda mampu menghadapi dinamika kompetisi secara sehat,” jelasnya.
Dalam implementasinya, ESI Jatim merumuskan tiga pilar utama perlindungan anak yang harus berjalan beriringan, yakni peran orang tua sebagai pengawas utama aktivitas digital anak, akademi atau klub sebagai pembina pola latihan dan lingkungan kompetisi yang sehat, serta organisasi ESI sebagai penentu standar pembinaan dan etika kompetisi.
Selain itu, pembinaan atlet di bawah usia 16 tahun akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, fokus diarahkan pada pengenalan game sehat, pengembangan motorik, kerja sama tim, serta literasi digital.
“Untuk masuk ke ekosistem kompetitif yang lebih serius, diperlukan kesiapan emosional dan kedisiplinan. Kami memahami kehati-hatian pemerintah. Pembinaan tetap berjalan, tetapi dengan pendekatan terkontrol dan tidak terlalu cepat memberikan eksposur publik yang besar kepada anak-anak,” ungkap Daniel.
Secara prinsip, ESI Jawa Timur menyatakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam tata kelola sistem elektronik anak. Namun, sebagai induk olahraga, ESI juga berkepentingan memastikan kebijakan tersebut tidak menghambat proses pencarian dan pembinaan talenta muda.
“Pendekatan kami adalah kolaboratif, bukan konfrontatif. Saat ini kami sedang konsolidasi dengan klub, akademi, dan pengurus daerah. Kami juga menyiapkan pedoman pembinaan usia dini yang lebih aman melalui serangkaian roadshow dan event. Tujuannya sederhana supaya anak-anak tetap terlindungi, namun ekosistem pembinaan esports Jatim tetap berkembang dan berkelanjutan,” pungkasnya. [hrs/beq]






