Bangkalan (beritajatim.com) – Sebagai bentuk optimalisasi penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf), LMI kembali berkolaborasi dengan Universitas Airlangga (Unair) dan Bank Indonesia (BI) dengan menggelar program pemberdayaan kelompok nelayan di Kabupaten Bangkalan.
Berdasarkan laporan Puskas Baznas, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 350 triliun pertahun. Hingga saat ini, potensi zakat tersebut belum dapat digarap dengan baik, sehingga diperlukan sinergi bersama dari berbagai pihak.
Muhammad Jaenudin, Manajer Pengembangan Program dan Kolaborasi LMI mengungkapkan program tersebut ditunjukkan pemberdayakan masyarakat nelayan melalui optimalisasi dana Ziswaf dengan memberikan pelatihan dan praktik skill produktif pengolahan hasil tangkapan laut.
“Program kolaborasi ini menghadirkan pendampingan pada ibu- ibu nelayan, diantaranya adalah edukasi pengelolaan keuangan hingga pelatihan cara mengolah hasil tangkapan laut agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” terangnya saat ditemui usai acara simbolisasi penutupan kegiatan di Dusun Jarat Lanjang, Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Kamis (30/11/2023) kemarin.
Menurut pria yang akrab disapa Jejen ini mengungkapkan, program tersebut sudah berjalan selama dua bulan, sejak bulan November hingga Desember. Kondisi masyarakat nelayan Jarat Lanjang yang hanya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan dapat dikatakan masih kurang cukup untuk memenuhi kehidupan mereka.
Mayoritas mereka mengaku bahwa pendapatan yang diterima hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari sekali habis, sehingga pada saat tangkapan ikan sedikit atau cuaca tidak mendukung untuk melaut, masyarakat jarat lanjang cenderung berhutang kepada rentenir demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Hanya sedikit masyarakat yang memiliki kemampuan lain untuk mencari pendapatan. Terlebih, wawasan pengelolaan keuangan, seperti tabungan juga masih rendah,” tambahnya.
Baca Juga:
Hilang 6 Hari, Nelayan Bangkalan Ditemukan Tersangkut Bakau
Dalam program ini, para istri nelatan diberikan edukasi pengelolaan keuangan, diantarannya adalah pencatatan cash flow, pemberian buku kas, dan celengan. Tujuannya adalah untuk meningkatan kemandirian kebutuhan primer sekaligus meningkatkan kesadaran untuk menyimpan dana cadangan.
Arofik, Ketua Kelompok Nelayan menyampaikan kondisi lingkungan dan pemukiman masyarakat yang dekat laut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya ikan dengan menggunakan jaring. Tidak hanya itu, para istri nelayan juga dapat mengoptimalkan hasil olahan tangkapan laut.
“Ibu-ibu nelayan akan diajarkan untuk membuat surimi, yaitu bahan dasar pembuatan bakso ikan, nugget, yang nantinya akan menjadi frozen food. Mereka akan didampingi untuk mempraktikkan pengolahan hasil ikan yang higienis dan memiliki sanitasi yang baik, khususnya untuk produk ikan asin,” ujarnya.
Sementara itu, Didit Sulistianto, Asisten Analis Bank Indonesia Jawa Timur menyampaian dukungannya terhadap program ini. Pihaknya berharap setelah mengikuti pendampingan pelatihan ini, masyarakat akan lebih berdaya, baik secara ekonomi maupun sosial.
“Harapannya dengan mengimplementasikan materi pelatihan, ibu-ibu ini akan lebih berdaya untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan keluarga mereka,” tandasnya.[sar/ted]






