Ringkasan Berita:
- Festival Kimsin Reunion di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban tetap digelar 1-3 Mei 2026 tanpa rekomendasi Polres.
- Polres Tuban menilai administrasi belum lengkap dan potensi kerawanan masih tinggi.
- Panitia menyebut acara bertujuan memberi hiburan di tengah konflik internal klenteng selama 14 tahun.
- Aparat kepolisian tetap melakukan pengamanan ketat selama kegiatan berlangsung.
Tuban (beritajatim.com) – Meski tidak memperoleh rekomendasi resmi dari Polres Tuban, kegiatan Kirab Kimsin atau Kimsin Reunion Festival di Klenteng Kwan Sing Bio tetap dilaksanakan selama tiga hari mulai 1 hingga 3 Mei 2026 dengan pengamanan ketat aparat kepolisian.
Kegiatan ini berlangsung di tengah konflik internal berkepanjangan di lingkungan umat Klenteng Kwan Sing Bio yang telah berlangsung sekitar 14 tahun. Polres Tuban sebelumnya tidak menerbitkan izin resmi lantaran persyaratan administrasi dinilai belum lengkap dan potensi kerawanan keamanan masih cukup tinggi.
Penggagas kegiatan, Go Tjong Ping, menyatakan festival tersebut digelar sebagai bentuk hiburan sekaligus upaya membangun solidaritas umat di tengah konflik panjang.
“Acara ini bukan apa-apa, selama ini kan Klenteng bertengkar terus saya jadi ketua klenteng selalu digugat, kalau secara De jure saya belum jadi ketua umum, tapi secara De facto saya ketua Klenteng Kwan Sing Bio,” ujar Go Tjong Ping, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, festival ini juga menjadi ajang menguji kemampuan komunitas dalam menyelenggarakan kegiatan besar yang mendapat respons peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Memang acara ini untuk ngetes, tapi yang lebih berat itu berita-berita yang diulang-ulang katanya gak jadi, harusnya Kimsin ada 100 yang datang, tapi ini cuman 15, pengaruhnya berita-berita itu luar biasa,” imbuhnya.
Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 3 Mei 2026 melalui Kirab Kimsin yang direncanakan melintasi jalur nasional dari Klenteng Kwan Sing Bio menuju Klenteng Tjoe Ling Kiong di kawasan Alun-Alun Tuban.
Namun, pelaksanaan kirab masih dibayangi ketidakpastian karena belum mengantongi izin resmi dari kepolisian.
“Karena pejabat sudah komentar berbeda-beda, saya bingung sebenarnya sebagai warga Tuban, yang satu mengizinkan yang satu melarang. Saya gak berani janji-janji atau apa gak berani berkomentar, saya gak berani melawan sama pemerintah,” terang Go Tjong Ping.
Meski demikian, panitia berharap kirab tetap dapat berlangsung karena dianggap telah mendapat persetujuan spiritual melalui ritual Pakwe, sekaligus sebagai momentum mengakhiri konflik berkepanjangan di lingkungan klenteng.
Go Tjong Ping juga menyoroti besarnya antusiasme masyarakat dan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal jika kegiatan tersebut dibatalkan.
“Hari ini melihat antusiasnya masyarakat Tuban luar biasa, yang dari luar yang masih takut-takut, kalau acara ini batal kasihan UMKM nanti sepi,” pungkasnya.
Kegiatan festival ini menjadi sorotan publik karena mempertemukan dimensi budaya, ekonomi lokal, dan dinamika konflik internal keagamaan yang masih berlangsung di salah satu klenteng terbesar di Indonesia. [dya/beq]






