Kurang 10 hari menjelang pelaksanaan muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Lampung pada 23-25 Desember 2021, muncul nama baru sebagai calon ketua umum (Ketum) PBNU. Siapa dia? KH As’ad Said Ali.
Kiai As’ad bukan nama baru di NU. Kaum Nahdliyyin telah lama mengenalnya. Dia memiliki karir cukup istimewa. Orang pertama NU yang pernah menduduki jabatan penting di Badan Intelijen Negara (BIN), sebagai Wakil Kepala BIN. Masa jabatannya cukup lama. Lebih dari 5 tahun.
Di periode kepemimpinan pertama KH Said Aqil Siradj sebagai orang pertama di tanfidziyah NU, Kiai As’ad menjabat sebagai Wakil Ketua Umum. Jabatan itu diembannya periode 2010-2015, sesuai hasil muktamar NU di Kota Makassar.
Lahir di Kabupaten Kudus, Jateng, 19 Desember 1949, sejak tahun 2001 As’ad menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala BIN, ketika lembaga tilik sandi tersebut dipimpin Letjen Purn AM Hendripriyono.
Munculnya nama alumni Fisipol UGM yang pernah lama nyantri di Pondok Al Munawwir Krapyak Yogyakarta itu, cukup mengejutkan. Sebab, selama lebih dari 2 bulan, wacana yang mengemuka ke publik tentang calon ketum PBNU adalah KH Said Aqil Siradj (Kiai Said) dan KH Yahya Cholil Staquf (Kiai Yahya). Muktamar NU ke-34 di Lampung yang diprediksi menghadapkan kedua tokoh tersebut secara head to head, kemungkinan besar gugur.
“Ada sejumlah kiai NU di Jatim yang meng-endorse Kiai As’ad,” ujar sebuah sumber beritajatim.com. Sebagai tokoh lama NU, tentu Kiai As’ad memiliki pengaruh dan pengikut di wilayah dan cabang NU, termasuk di Jatim. “Cuilan-cuilan dukungan mungkin saja ada. Tapi, kita yakin posisi Kiai Yahya tetap kuat di Jatim,” tambah sumber beritajatim.com tersebut.
Kiai As’ad yang lama nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dan alumni jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM ini masuk ke BAKIN (saat ini BIN/ Badan Intelejen Negara) sejak tahun 1982-1999.
Sejak 2001, dia menjabat sebagai Wakil Kepala BIN selama 9 tahun, mulai era Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY. Sebelum itu, intelijen berlatar santri Islam Tradisional ini sempat bertugas lama di Timur Tengah, seperti di Arab Saudi, Yordania, Suriah, Lebanon, sejumlah negara di Benua Eropa, dan Amerika serikat.
Satu catatan penting bahwa salah satu kiai NU yang mendukung, mendorong, dan meng-endorse Kiai As’ad tampil sebagai calon ketum PBNU adalah KH Asep Syaifuddin Chalim, pendiri dan pimpinan Pondok Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet, Mojokerto.
Kiai Asep tak masuk dalam struktural kepemimpinan NU di Jatim maupun nasional. Kiprah dan pengaruh Kiai Asep mulai bersinar dan menguat sejak Pilgub Jatim 2018. Kiai Asep bersama kiai NU lainnya, khususnya KH Solahuddin Wahid (Gus Solah), pimpinan Pondok Tebuireng Jombang, adalah patron utama pencalonan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak di Pilgub Jatim 2018. Kubu ini merepresentasikan kekuatan Poros Tebuireng di kontestasi politik tersebut.
Di sisi lain, ada pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarnoputra yang diusung PDIP, PKB, Partai Gerindra, dan PKS. Pasangan ini juga banyak didukung kiai NU yang duduk di posisi struktural NU Jatim, dengan KH Anwar Manshur (pimpinan Pondok Lirboyo Kediri) sebagai figur sentralnya. Kubu ini merepresentasikan kekuatan Poros Lirboyo di Pilgub Jatim 2018.
Sebagai figur lama di NU, Kiai As’ad bukan kali pertama berkontestasi di muktamar NU. Pada muktamar NU ke-33 di Kabupaten Jombang tahun 2015, Kiai As’ad juga masuk dalam bursa calon ketum PBNU. Dalam proses voting, Kiai As’ad berada di posisi kedua dengan raihan 107 suara, Gus Solah meraih 10 suara, Hilmi Muhammadiyah 3 suara, Gus Mus 1 suara, M Adnan 1 suara, dan abstain 2 suara. Sedang Kiai Said tampil sebagai pemenang dengan meraih 287 suara.
“Saya kalah pinter, kalah pengalaman dari Kiai Said. Dengan ini saya serahkan semuanya kepada Kiai Said, sekali lagi saya terima kasih kehadiran saya disini tetap sebagai orang NU,” kata Kiai As’ad usai pemilihan di muktamar NU di Jombang tahun 2015 silam.
Munculnya nama Kiai As’ad makin mendinamisasi proses pemilihan ketum PBNU di muktamar Lampung pada 23-25 Desember 2021 mendatang. Ketiga figur yang muncul: Kiai Said, Kiai Yahya, dan Kiai As’ad memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ketiganya juga mempunyai ideologi ke-NU-an yang kuat, konsisten memperjuangkan nilai-nilai Aswaja dan Islam Rahmatan Lil Aalamin dalam bingkai NKRI maupun di tataran global.
Perpaduan model pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi umum juga melekat erat di antara ketiganya. Kiai As’ad dan Kiai Yahya pernah lama nyantri di Pondok Al Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Maksum. Keduanya juga alumni Fisipol UGM Yogyakarta.
Di sisi lain, Kiai Said sebelum melanjutkan pendidikan S-2 dan S-3 di Arab Saudi, lama menimba ilmu keagamaan di Pondok Lirboyo Kediri, sebuah lembaga pendidikan yang dikenal memiliki reputasi jempolan di komunitas kaum santri Islam Tradisional yang cukup lama berdiri dan memiliki ribuan alumni yang tersebar luas di seluruh Indonesia.
Kiai As’ad sekiranya terus berproses dalam pemilihan ketum PBNU di muktamar Lampung pada 23-25 Desember 2021, setidaknya bisa memecahkan pola pertarungan head to head, yang tak menutup kemungkinan berlakunya prinsip the winner taken for all. Maka dengan tampilnya Kiai As’ad iklim kontestasi perebutan jabatan ketum PBNU kemungkinan bisa agak dingin dan suhunya tak cenderung terus naik.
Poin penting lain adalah muktamirin dihadapkan pada pilihan-pilihan calon ketum PBNU dengan reputasi dan track record yang diketahui secara gamblang dan transparan. Dalam konteks demikian, pertarungan visi dan misi bisa saja menentukan pilihan akhir muktamirin, sejauh dari ketiga calon tersebut tak ada yang mengundurkan diri dalam proses pemilihan.
Perkembangan dan dinamika ini mengindikasikan iklim sehat dalam tubuh NU dan mengharuskan pada kandidat untuk bisa mempersuasi muktamirin secara meyakinkan.
Kiai Said memiliki keunggulan sebagai petahana, yang memiliki pemahaman utuh terhadap jejaring struktural organisasi, mempunyai legacy kinerja yang bisa dikemas sebagai materi kampanye, dan pengalaman 10 tahun memimpin NU.
Sedang Kiai Yahya diuntungkan dengan menguatnya wacana regenerasi, tokoh yang sempat dikader langsung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), memiliki visi internasional (global) yang kuat dan telah dikemas sebagai bahan kampanye, dan ada pengaruh tak langsung dari kepemimpinan adiknya, Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai orang pertama di Kementerian Agama. Dukungan banyak kiai sepuh NU di Jatim, sebagai teritori penting NU dalam lanskap organisasi ini secara nasional, adalah poin lain yang memberikan kredit menguntungkan kepada Kiai Yahya.
Kiai As’ad sebagai figur lama NU, berpengalaman di birokrasi pemerintahan (badan intelijen), warna pendidikan formalnya lengkap yang memadukan antara model pendidikan pondok pesantren dan lembaga pendidikan umum, pengalaman di organisasi NU cukup lama, dan lainnya adalah realitas intrinsik yang mendasari track record, reputasi, dan kredibilitasnya sebagai tokoh NU. Poin tersebut penting dalam konteks kontestasi langsung seperti di muktamar nanti.
Muktamar NU ke-34 di Lampung akan berlangsung dinamis dan konstruktif bagi kepentingan jam’iyyah ini di masa depan sejauh diwarnai dengan pertarungan ide dan gagasan besar menjelang usia 100 tahun ormas Islam ini. Kemungkinan adanya ‘intervensi’ dan pengaruh eksternal adalah realitas yang mungkin saja terjadi. Terlebih-lebih sekarang ini, banyak agenda organisasi yang selalu dikait-kaitkan dengan banyak agenda politik di 2024 mendatang. NU dengan jamaahnya yang besar adalah kekuatan yang rawan ‘diintervensi’ kekuatan lain demi kepentingan jangka pendek bersifat pragmatis. [air/kun]
Oleh: Ainur Rohim (Penanggung jawab beritajatim.com)






