Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendesak para guru SMK di Jawa Timur untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan kreativitas dalam menghadapi dinamika kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri dan Kerja (DUDIKA).
Pernyataan ini disampaikan Khofifah dalam Forum Peningkatan Kompetensi Guru SMK yang diikuti 120 guru di Surabaya, Senin (21/4/2025) kemarin. Khofifah menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang pesat.
“Di tengah kebutuhan DUDIKA yang semakin dinamis dan tantangan teknologi yang kompleks, guru harus tetap produktif melalui program-program inovatif dan kreatif,” ujarnya.
Forum tersebut menghadirkan para ahli dari berbagai bidang, termasuk Pusat Inovasi dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), untuk berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, seperti Teaching Factory.
Salah satu tantangan besar SMK saat ini, menurut Khofifah, adalah membangun ekosistem dengan program akselerasi untuk menyesuaikan diri dengan dinamika dan peluang DUDIKA, baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.
Ia mencontohkan keberhasilan siswa SMK Jawa Timur yang direkrut perusahaan Malaysia untuk bidang kosmetika, serta siswa SMK di Ponorogo yang mengolah limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik yang dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Jawa Timur. Kedua contoh ini menunjukkan peran guru yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran yang aplikatif.
Khofifah juga mendorong SMK untuk menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) agar dapat meningkatkan kualitas dan mengelola dana hasil kompetensi siswa secara mandiri. Contohnya, SMK di Situbondo yang memproduksi cover seat motor dan mobil memiliki potensi besar untuk menjadi BLUD.
“Dengan BLUD mereka akan terdorong dan bersemangat untuk meningkatkan kualitasnya, karena mengelola dana hasil kompetensi mereka sendiri,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kompetensi guru meskipun ada efisiensi anggaran.
Pelatihan dilakukan secara daring dan tatap muka, dengan menghadirkan pemateri ahli untuk membahas tantangan guru dalam era teknologi 5.0 dan cara menjadi guru yang inovatif dan kreatif.
“Hingga saat ini kami Dinas Pendidikan Jawa Timur tidak terganggu dengan adanya efisiensi. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk terus membantu guru-guru kita meningkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan yang kita gelar,” tandasnya. [ipl/beq]






