Yogyakarta (beritajatim.com)- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. (H.C.) K.H. Yahya Cholil Staquf, menyoroti urgensi peningkatan kualitas pendidikan pesantren di Indonesia. Adapun kualitas Pendidikan di pesantren juga berkaitan dengan ulama sebagai ujung tombak pondok pesantren.
Peran Ulama dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Gus Yahya mengingatkan para ulama untuk lebih terbuka terhadap perubahan sosial dan politik yang terjadi di luar pesantren. Sejak disahkannya Undang-Undang Pesantren, peran pesantren telah mendapat pengakuan di tingkat suprastruktur politik. Namun, untuk menjaga relevansi, pesantren perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tantangan global yang terus berubah.
Tantangan Globalisasi dan Teknologi untuk Pesantren
Sementara Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, menyampaikan tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan dalam dunia kerja dan keagamaan menuntut pesantren untuk terus beradaptasi.
“Pesantren saat ini harus mampu mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam hal teknologi digital dan globalisasi. Tanpa itu, pesantren akan kesulitan bersaing dan menghadapi ekspektasi publik,” ungkap Alissa.
Alissa juga menekankan bahwa sifat pesantren yang mandiri dan otonom sering kali membuat manajemen pesantren kurang kuat. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan yang lebih terstruktur untuk meningkatkan daya saing pesantren.
Rencana Pengembangan Pesantren 2025-2029
Alissa Wahid memaparkan rancangan program pengembangan pendidikan pesantren untuk periode 2025–2029. Program ini akan mencakup peta jalan (roadmap) pengembangan yang dirancang untuk menghadapi tantangan di setiap tahunnya. Dengan target progresif yang sudah disusun, diharapkan pesantren dapat terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang adaptif dan inovatif.
Melalui siaran pers yang diterima beritajatim.com Rabu pagi (9/10/2024), kolaborasi Ketum PBNU dengan putri Gus Dur ini disampaikan dalam Simposium Pesantren yang berlangsung di Auditorium Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengangkat tema “Strategi Penguatan Pesantren Sebagai Pilar Masa Depan Indonesia”,
Kolaborasi Pesantren dengan Pemerintah dan Dunia Usaha
Terkait hubungan pesantren dengan pemerintah, Gus Yahya, menekankan perlunya sinergi antara pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, serta sektor swasta. Ia menegaskan, kolaborasi ini penting agar pesantren dapat terus berkembang di tengah tantangan global. Menurutnya, keberhasilan pesantren di masa depan harus berakar pada realitas yang dihadapi masyarakat, bukan berdasarkan stereotip atau mitos yang berkembang.
“Pesantren harus menjadi bagian dari solusi pendidikan nasional, dan itu membutuhkan kolaborasi luas,” ujar Gus Yahya. Ia juga menekankan bahwa pengelola pesantren tidak bisa hanya fokus pada lingkup pesantren semata, tetapi harus mempertimbangkan tantangan yang lebih besar di tingkat masyarakat.
Gus Yahya menegaskan dengan kolaborasi lintas sektor dan pengembangan program strategis, pesantren memiliki potensi besar untuk terus berperan penting dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tantangan globalisasi dan teknologi perlu dijawab dengan inovasi dan adaptasi, agar pesantren tetap menjadi pilar masa depan Indonesia. [aje]






