Pamekasan (beritajatim.com) – Di tengah derasnya arus globalisasi, mahasiswa yang memiliki background pesantren harus selalu menunjukkan eksistensi dan identitasnya sebagai generasi muda yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Identitas tersebut tidak hanya tercermin dalam penampilan, tetapi juga dalam cara berpikir, bersikap, dan berkontribusi di ruang akademik maupun sosial. Khususnya bagi mereka yang menempuh pendidikan tinggi, tidak terkecuali di Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, baik mahasiswa maupun para lulusan (alumni).
Hal tersebut disampaikan Ketua Yayasan Al-Khairat Pamekasan, KH Achmad Mahfud Abdul Qodir saat memberikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Ke-28 dan Wisuda Magister Ke-1 IAI Al-Khairat Pamekasan, di Ballroom Azana Style Hotel Madura, Jl Jokotole 282 Pamekasan, Kamis (25/12/2025).
“Sekarang kita berada di zaman ikutan fyp, membuktikan bahwa zaman ini era fyp, sehingga kita perlu beradaptasi, karena bagaimanapun orang yang berakal itu senantiasa bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa melupakan akar budaya kita, dan tanpa meninggalkan identitas kita,” kata KH Achmad Mahfud Abdul Qodir.
Perpaduan antara ilmu agama dan pengetahuan umum menjadi ciri khas yang membedakan dari mahasiswa pada umumnya. Di era global, mahasiswa dengan background pesantren dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan budaya dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan spiritual. “Sebuah identitas itu penting. Sebab kemanapun kita pergi akan selalu ditanya tentang identitas, karena itu identitas perlu dijaga,” ungkapnya.
“Oleh karena itu kami berpesan, khususnya kepada kami secara pribadi, terutama teman-teman wisudawan atau para mahasiswa, atau bahkan berstatus apapun nanti. Identitas harus senantiasa dijaga, karena identitas itu akan senantiasa diperlukan, jangan sampai identitas kita tercabut dari kita,” tegas tokoh muda yang tercatat sebagai Wakil Bupati Sampang, Periode 2024-2029.
Memang tidak jarang sebuah identitas dengan background pesantren bisa menjadi kekuatan di tengah persaingan global. Sebab di kalangan dunia pesantren selalu diajarkan untuk berpikir kritis, berakhlak, dan tetap rendah hati. Terlebih nilai-nilai pesantren cukup relevan dengan beragam situasi dan medan.
Eksistensi tersebut juga harus terlihat dari keterlibatan mereka dalam berbagai forum nasional maupun internasional, organisasi kemahasiswaan, hingga kegiatan sosial berbasis masyarakat. Di antaranya melalui penguasaan bahasa asing hingga teknologi digital, sehingga nantinya mampu menyuarakan Islam moderat dan toleran di ruang global.
Mahasiswa dengan background santri juga memiliki peran strategis sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas, mereka diharapkan mampu menjaga identitas keislaman sekaligus menjadi agen perubahan yang membawa nilai perdamaian dan kebijaksanaan.
Di era globalisasi seperti saat ini harus ditunjukkan bahwa identitas lokal dan nilai religius tidak menjadi penghalang untuk bersaing secara global, tetapi justru menjadi fondasi kuat dalam membangun masa depan bangsa. [pin/kun]






