Sepak bola tidak jarang disebut sebagai “bahasa universal”. Di lapangan bola, negara-negara yang mungkin berseteru di meja diplomasi, bahkan yang pernah saling berhadapan di medan perang, tetap bisa berdiri sebagai lawan yang setara.
Tim dan pemain tidak dipisahkan oleh senjata maupun ideologi, melainkan oleh garis tengah lapangan. Di situlah salah satu daya tarik olahraga ini, sepak bola memberi ruang bagi persaingan tanpa harus membawa permusuhan.
Namun kita juga tahu, olahraga tidak pernah sepenuhnya steril dari politik. Dari waktu ke waktu, lapangan pertandingan acap kali justru menjadi “panggung simbolik” tempat ketegangan geopolitik sering ikut terbawa.
Komentar Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tentang tim nasional Iran menjelang Piala Dunia 2026 memperlihatkan dinamika itu dengan jelas. Seperti dilaporkan Harian Kompas pada 13 Maret 2026, Trump mengatakan bahwa meskipun Iran secara resmi diperbolehkan mengikuti turnamen tersebut, ia merasa “tidak pantas bagi mereka untuk berada di sana, demi kehidupan dan keselamatan mereka sendiri.” Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat-Israel vis a vis Iran dalam konflik militer di Timur Tengah belakangan ini.
Sekilas, pernyataan tersebut terdengar seperti kekhawatiran soal keamanan. Tetapi jika dipikirkan lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yakni: sampai sejauh mana konflik politik seharusnya memengaruhi dunia olahraga?
Sejak awal, Piala Dunia dirancang sebagai ruang global yang relatif netral. Turnamen ini berada di bawah otoritas FIFA, bukan di bawah keputusan politik pemerintah negara tuan rumah. Prinsipnya jelas, negara yang lolos kualifikasi FIFA berhak bertanding, apa pun situasi politik yang sedang berlangsung di dunia.
Karena itu, respons tim nasional Iran yang menegaskan bahwa Piala Dunia adalah ajang internasional yang diatur FIFA sebenarnya menjawab esensi persoalan.
Sepak bola global dibangun di atas gagasan bahwa apa yang terjadi di lapangan tidak boleh ditentukan oleh konflik politik di luar stadion.
Karenanya, jika negara “tuan rumah” mulai mempertanyakan siapa yang “pantas” bermain berdasarkan pertimbangan geopolitik, maka batas antara olahraga dan politik menjadi semakin tipis, bahkan kabur.
Ironinya, alasan keamanan yang digunakan untuk meragukan kehadiran Iran di negara tuan rumah, Amerika Serikat, justru menghadirkan paradoks lain. Dalam setiap turnamen internasional, kita semua tahu bahwa tanggung jawab utama negara penyelenggara adalah memastikan keamanan semua peserta. Jika keamanan dijadikan alasan untuk mempertanyakan partisipasi suatu tim, maka yang sebenarnya dipertanyakan bukanlah tim tersebut, melainkan kemampuan tuan rumah sendiri dalam menjamin keselamatan turnamen.
Lebih jauh, sejarah olahraga sendiri memberi banyak contoh bahwa konflik politik tidak selalu harus menghentikan pertandingan di lapangan hijau.
Misalnya, hubungan antara Inggris dan Argentina setelah Perang Malvinas (Falklands) pada 1982 sering dijadikan contoh menarik. Perang Malvinas itu singkat tetapi sangat intens, serta meninggalkan “luka politik” yang tidak kecil bagi kedua negara.
Namun, Inggris dan Argentina tetap bertemu di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pertandingan itu sarat emosi, tentu saja. Tetapi sepak bola tetap berjalan. Dari laga Argentina versus Inggris tersebut lahir dua gol Diego Maradona yang kemudian menjadi legenda, gol “Tangan Tuhan” dan gol solo yang melewati hampir seluruh pemain Inggris.
Banyak orang melihat pertandingan itu sebagai refleksi dari rivalitas politik yang masih membekas. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah, kedua tim tetap bermain bola bola, fair dan indah.
Singkatnya, sepak bola tidak berhenti hanya karena perang yang terjadi.
Di situlah kekuatan simbolik olahraga terlihat. Sepak bola mungkin tidak bisa menghapus konflik, tetapi setidaknya ia dapat menciptakan ruang di mana konflik tidak menjadi satu-satunya bahasa yang tersedia.
Menurut hemat penulis, dalam era ketika ketegangan geopolitik terjadi secara intens, ruang olah raga, seperti sepak bola, justru menjadi semakin esensial keberadaannya.
Namun, komentar Trump, sebagai pemimpin negara tuan rumah, tentang tim nasional Iran sejatinya memperlihatkan dimensi lain dari konflik modern, yakni: pertarungan narasi.
Dalam politik internasional hari ini, konflik tidak hanya terjadi di medan militer atau di meja diplomasi. Ia juga berlangsung dalam cara dunia memahami, menafsirkan dan memberi narasi atas suatu peristiwa.
Pakar hubungan internasional Joseph S. Nye Jr. menyebut kekuatan ini sebagai soft power, kemampuan memengaruhi persepsi dan membentuk narasi global.
Ketika kehadiran Iran di Piala Dunia dipertanyakan, narasi yang secara implisit ingin dibangun oleh AS adalah bahwa Iran merupakan ancaman yang bahkan melampaui arena politik dan militer. Seolah-olah, bahkan tim sepak bolanya pun menjadi bagian dari masalah.
Namun narasi yang dibangun AS seperti itu juga memiliki risiko tersendiri. Dalam banyak kasus, upaya mengecualikan dan mengucilkan suatu negara dari panggung global justru memperkuat persepsi bahwa negara tersebut sedang diperlakukan tidak adil. Maka sentimen underdog yakni bersimpati, membela, mendukung tim yang diperlakukan tidak adil, akan menguat. Artinya, langkah AS justru kontraproduktif bagi dirinya.
Padahal selama ini sepak bola justru sering menjadi salah satu bentuk soft power yang paling efektif. Piala Dunia bukan hanya sekadar kompetisi olahraga, ia juga simbol keterhubungan global. Di dalam stadion, negara-negara yang mungkin berseteru tetap bisa berdiri di lapangan yang sama.
Dan mungkin di situlah makna terdalam olahraga internasional yang bernama sepak bola.
Sepak bola memang tidak pernah menjanjikan dunia tanpa konflik. Namun sejak lama ia menawarkan sesuatu yang lain, sebuah ruang di mana negara-negara yang berseteru tetap dapat bertemu tanpa membawa peluru.
Piala Dunia, karena itu, tidak pernah dimaksudkan menjadi kepanjangan dari perang geopolitik, melainkan panggung global yang justru mengingatkan bahwa persaingan tidak selalu harus berubah menjadi permusuhan.
Ketika negara penyelenggara mulai ragu menjamin keselamatan tim yang secara politik berseberangan, yang dipertaruhkan bukan hanya prinsip dasar olahraga, tetapi juga kepercayaan publik dunia terhadap kredibilitasnya sebagai tuan rumah.
Dan ketika kepercayaan itu mulai retak, yang hilang bukan sekadar sebuah pertandingan sepak bola, melainkan salah satu simbol paling ikonik: bahwa dunia masih memiliki ruang untuk bertemu tanpa perang. []
Agus Trihartono
Dosen Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jember; Rektor UI Cordoba, Banyuwangi






