Lamongan (beritajatim.com) – Dalam rangka turut serta melakukan penanggulangan Covid-19 dan bencana Alam serta dampaknya di Kabupaten Lamongan, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Lamongan mencanangkan program Peningkatan Ketangguhan Masyarakat dalam menghadapi Covid-19 dan bencana alam di Kabupaten Lamongan.
Diketahui, program tersebut merupakan hasil kerjasama yang dilakukan antara LPBI NU Lamongan dengan Pemerintah Australia, yakni Departmen of Foreign Affairs and Trade (DFAT) melalui Siap Siaga Palladium. Dalam pelaksanaannya, LPBI NU juga terus bersinergi dan melibatkan pemerintah desa dengan menyasar masyarakat penerima program. Sasaran utama dalam kegiatan ini adalah anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas.
“Seiring dengan beragamnya kebijakan yang diambil pemerintah, mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Lockdown, hingga Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), untuk itu LPBI NU Lamongan juga turut berupaya menekan penyebaran Covid-19 berbasis masyarakat, yakni dengan melaksanakan Program Peningkatan Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Covid-19,” ungkap Ketua LPBI NU Lamongan, Ainur Rofiq, Kamis (11/8/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”NU”]
Adapun beberapa agenda kegiatan dari program yang telah dilakukan oleh LPBI NU Lamongan dalam mencegah penyebaran Covid-19, Ainur menyebutkan, di antaranya adalah kampanye publik melalui poster dan banner, sosialisasi di rumah ibadah, penyusunan SOP pencegahan Covid-19 berbasis masyarakat, distribusi masker, penyediaan fasilitas pendukung seperti cuci tangan portabel dan thermogun, fasilitas karantina, serta distribusi bantuan bahan pokok non tunai.
“Program ini sebenarnya sudah kami realisasikan sejak tahun lalu dan ada 2 tahapan. Untuk tahap pertama, berlangsung mulai Juli 2020 hingga Maret 2021 atau selama 9 bulan. Sedangkan untuk tahap keduanya, dimulai pada Juli 2021 sampai Mei 2022 atau 11 bulan. Untuk lokasinya, berada di 3 RW yang berada di Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng, 4 RW di Desa Mayong Kecamatan Karangbinangun, dan 4 RW di Desa Pucangro Kecamatan Kalitengah,” terang Ainur kepada beritajatim.com
Tak hanya itu, pada tahap kedua ini, Ainur menjelaskan, bahwa LPBI NU Lamongan juga menambah fokusnya terhadap penanganan bencana alam. “Karena menjadi persoalan tersendiri, ketika ada bencana alam tetapi di saat pandemi itu kan harus ada perlakuan khusus, makanya kami ada penambahan fokus terhadap bencana alam juga. Intinya, bagaimana kita juga melakukan kegiatan-kegiatan penanganan bencana alam secara bersamaan di saat masih pandemi Covid-19,” sambungnya.
Sehubungan dengan itu semua, LPBI NU dengan DFAT melalui Siap Siaga Palladium, telah melakukan perekrutan Kelompok Kerja (Pokja) berbasis RW di desa/kelurahan yang menjadi target program. Adapun jumlah Pokja yang dibutuhkan di masing-masing RW adalah 7 orang, minimal 2 orang di antara mereka harus perempuan. Lalu bagi penyandang disabilitas di RW terkait, mereka juga mendapatkan kesempatan dan akses yang sama untuk menjadi Pokja.
Pokja tersebut, lanjut Ainur, direkrut berdasarkan penilaian kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan, utamanya terkait pengetahuan tentang Covid-19, pengorganisasian masyarakat, advokasi, komunikasi publik, dan pengelolaan data. Menurutnya, Pokja harus melakukan kerja-kerja pendampingan masyarakat, pemantauan rutin, pemutakhiran data warga berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui aplikasi, dan mengawal pelaksanaan distribusi bantuan sembako melalui mekanisme non tunai.
“Kami juga berharap, Pokja terus mengoptimalkan tugas dan fungsinya dalam pencegahan Covid-19 secara massif dengan menyesuaikan kondisi budaya masyarakat setempat. Maka, Pokja harus terus mendorong penerapan kebijakan dan Standar Operational Procedure (SOP) dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19 di desa/kelurahan, karena desa/kelurahan posisinya sangat strategis dalam memutus mata rantai penularan Covid-19,” jelas Ainur.
[berita-terkait number=”5″ tag=”NU-Lamongan”]
Lebih jauh, Ainur menuturkan, guna mengetahui sejauh mana program ini memiliki pengaruh terhadap sasaran dan perubahan yang terjadi, pihak LPBI NU Lamongan bersama Pemerintah Australia melalui Siap Siaga Palladium juga melakukan evaluasi dari program tersebut dengan pihak-pihak yang terlibat, meliputi pelaksana program di tingkat lokal, perwakilan Pokja, penerima manfaat, dan perwakilan pemangku kepentingan setempat, serta vendor yang terlibat dalam program.
“Agar bisa diketahui apakah program yang dilakukan ini sesuai rencana atau tidaknya, maka proses evaluasi harus dilakukan secara demokratis, tidak terkesan menghakimi dan lebih bisa memahami faktor-faktor tersembunyi yang telah menyebabkan keberhasilan maupun kegagalan dari program yang telah dilaksanakan. Dengan cara mengukur dari sudut waktu dan muatannya, terutama dari sudut tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,” tuturnya.
Terakhir, Ainur membeberkan, pihaknya sedang menyusun beberapa rekomendasi berdasarkan hasil ketercapaian program untuk melaksanakan program lanjutan ke depan yang lebih baik. Ia juga meminta kepada seluruh komponen masyarakat untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat.
“Berdasarkan survei dan evaluasi yang kami lakukan, tingkat pemahaman masyarakat tentang Covid-19 meningkat sejak dilakukan kampanye publik dan sosialisasi melalui rumah ibadah. Demikian juga kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker. Namun, dengan berbagai alasan, masih terdapat masyarakat yang abai untuk menerapkan prokes, padahal itu adalah kunci ketangguhan dalam menghadapi Covid-19,” pungkasnya.[riq/kun]






