Surabaya (beritajatim.com)– Dulu, melihat kumbang di sekitar rumah bukan hal yang langka. Di taman, kebun, bahkan di halaman belakang, kita bisa menemukan serangga kecil berkilau dengan cangkang keras itu sedang hinggap di daun atau terbang rendah di antara bunga. Anak-anak sering menjadikannya mainan atau sekadar penasaran melihat warnanya yang unik dan bentuknya yang lucu.
Tapi sekarang, pemandangan seperti itu rasanya mulai jarang terlihat, bahkan di pedesaan sekalipun. Bukan tanpa alasan, hilangnya kumbang dari sekitar kita ternyata disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari berkurangnya lahan hijau, penggunaan pestisida yang berlebihan, hingga perubahan iklim yang membuat habitat mereka semakin sempit.
Lingkungan yang dulu jadi rumah nyaman bagi kumbang kini perlahan berubah menjadi area pemukiman dan perkebunan intensif. Akibatnya, banyak jenis kumbang yang dulu mudah ditemukan di Indonesia kini sudah langka, bahkan ada yang benar-benar tak terlihat lagi.
Misalnya kepik atau ladybug yang dikenal sebagai serangga mungil berbentuk bulat atau oval dengan warna tubuh mencolok seperti merah, oren, hijau, hingga hitam yang sering dihiasi bintik-bintik lucu di punggungnya, kini hampir tidak dapat dijumpai lagi keberadaannya. Dulu, serangga kecil ini mudah ditemukan di taman rumah, kebun sayur, hingga lahan pertanian yang dipenuhi bunga liar.
Namun, seiring makin banyaknya penggunaan pestisida kimia dan berkurangnya ruang hijau, populasi mereka perlahan menyusut. Padahal, kepik dan kumbang bunga punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mereka membantu penyerbukan tanaman dan memangsa hama kecil yang merusak daun.
Selain kepik, kumbang emas kini juga hampir tidak dapat ditemui lagi keberadaannya. Serangga berkilau ini dikenal dengan tubuhnya yang keras dan berwarna metalik keemasan, seringkali tampak memantulkan cahaya saat terpapar sinar matahari.
Ukurannya tidak terlalu besar, dengan bentuk tubuh oval dan sayap pelindung yang halus berkilau seperti logam. Di balik tampilannya yang indah, kumbang emas punya karakter lembut dan aktif di siang hari, biasanya terbang rendah di antara bunga atau dedaunan untuk mencari nektar dan serbuk sari.
Mereka juga berperan penting dalam membantu proses penyerbukan alami, mirip seperti kumbang bunga. Kumbang emas biasanya dijumpai daun-daun tanaman berbunga pada pagi hari.
Hilangnya kepik dan kumbang emas bukan hanya menunjukkan berkurangnya keindahan kecil di alam, tapi juga menjadi cermin bahwa lingkungan kita mulai kehilangan keseimbangannya. Padahal, mereka punya peran besar meski tampak kecil, membantu penyerbukan, menjaga tanaman dari hama, dan menjadi bagian penting dari siklus hidup alam.
[Erlina Damayanti]






