Jember (beritajatim.com) — Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengakui banyak calon penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum terdata di dalam sistem.
“Terutama banyak santri yang tidak terdata di Kementerian Agama, dan banyak anak balita yang tidak memiliki NIK (Nomor Induk Kependudukan), terutama balita-balita dari pernikahan dini, pernikahan siri, dan mungkin ada beberapa yang memiliki anak karena ‘kecelakaan’ (hamil di luar nikah),” kata Dadan di Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).
Dadan menyebut Jember sebagai salah satu kabupaten yang cermat dalam memberikan data penerima manfaat MBG. “Kami selalu berusaha untuk datang ke Jember, karena Jember sering disebut sebagai salah satu contoh kelengkapan data dalam menerima manfaat,” kata ahli serangga (entomologi) dari Institut Pertanian Bogor ini.
BGN memperkirakan sepertiga penduduk Indonesia berhak menerima MBG. “Jadi kalau (penduduk Jember) 2,6 juta, ya memang sekitar 800-an ribu (penerima manfaat MBG),” kata Dadan.
Dengan banyaknya sasaran penerima manfaat MBG, Dadan memperkirakan 400 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan dibangun di Kabupaten Jember. “Sekarang sudah operasional 207, dan itu artinya Rp207 miliar per bulan sudah mengalir uang di Jember dan saya kira menggerakkan roda ekonomi,” katanya.
Dadan menegaskan, 93 persen anggaran Badan Gizi Nasional dikucurkan melalui virtual account di seluruh SPPG. Setiap SPPG menerima Rp1 miliar setiap bulan.
Tujuh puluh persen uang itu untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, nelayan, dan usaha mikro kecil menengah. Dua puluh persen untuk membayar operasional, termasuk gaji 47 relawan SPPG. “Sepuluh persen untuk mengembalikan investasi bagi mitra yang membangun SPPG,” kata Dadan.
Menurut Dadan, relawan akan mendapatkan besaran upah seperti upah minimum kabupaten. “Jadi saya kira sudah merupakan pendapatan yang luar biasa. Dari pengalaman, yang bekerja di SPPG adalah ibu rumah tangga yang tadinya tidak punya pendapatan, tiba-tiba punya pendapatan,” katanya.
Hal ini berdampak terhadap tingkat kesejahteraan pegawai SPPG. “Tidak heran angka penjualan motor tahun 2025 naik, karena para relawan SPPG yang tadinya tidak mampu mencicil motor, akhirnya bisa membeli motor. Enam puluh persen pegawai SPPG memiliki motor. Jadi ini hal yang luar biasa,” kata Dadan.
Sepuluh persen dana yang diberikan kepada SPPG digunakan untuk mengembalikan investasi dapur MBG. Dadan berterima kasih kepada mitra yang sudah membangun SPPG, sehingga percepatan program MBG dapat dilaksanakan.
“Mudah-mudahan bermanfaat bagi penerima manfaat, sehingga anak-anak tumbuh sehat, cerdas, kuat, dan ceria, serta seluruh masyarakat mendapatkan efek baik dari program Makan Bergizi Gratis,” katanya. [wir/kun]






