Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin kamu pernah tahu bebek yang sedang berenang di atas permukaan air? Saat kamu melihatnya, ia tampak tenang dan santai menikmati pemandangan sekitar. Namun, di balik itu, di dalam air sebenarnya ia sedang menggerak-gerakkan kakinya.
Itulah kemudian kenapa ada istilah duck syndrome. Di mana seseorang dengan kondisi tampak baik-baik saja di luar atau tempat umum, sebenarnya sedang berusaha menghadapi kerasnya kehidupan. Biasanya otak dan hatinya sedang dipenuhi oleh pikiran yang kita mungkin tidak tahu.
Mereka sadar betul bahwa hidup memang penuh tantangan, dan setiap orang punya kesulitannya masing-masing. Terlebih karena ia juga sadar, bahwa tak semua hal bisa ditunjukkan pada orang lain. Itulah kenapa para duck syndrome lebih memilih menyimpannya sendiri.
Hal ini mungkin tampak sebagai suatu hal yang positif. Namun, jika terlalu berlebihan juga tidak baik. Seseorang bisa menjadi lebih mudah stres hingga depresi. Biasanya orang-orang yang mengalami duck syndrom karena mengalami beberapa lain, seperti;
Tuntutan pekerjaan
Biasanya orang-orang seperti ini karena tuntutan pekerjaan. Di mana terlalu banyaknya pekerjaan, membuat ia tidak punya waktu untuk sekadar berkeluh kesah. Terlebih jika hal itu dirasa sangat penting atau rahasia. Tentu saja tidak boleh sembarang orang tahu.
[berita-terkait number=”3″ tag=”penyakit”]
Pengalaman traumatis
Pengalaman traumatis seperti pengkhianatan, rasa bersalah, atau rasa kecewa pada orang yang ia percaya, juga bisa memicu seseorang jadi menutup diri di hadapan orang lain.
Keinginan tampil sempurna
Selain beragam permasalahan, tak sedikit orang yang mengalami duck syndrom karena memang ia ingin tampil sempurna. Seperti layaknya tak ada hal cacat sedikitpun dalam hidupnya. Hal ini mungkin tak lepas untuk mendapatkan sebuah pengakuan dari orang lain. (Fyi/ian)






