RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj RI memusatkan lini pelayanan penuh untuk mengawal 5 persen jemaah haji Indonesia yang masih tersisa di Madinah.
- Otoritas Daker Madinah sukses memfasilitasi penerbitan 165.486 dokumen Tasreh Raudhah bagi jemaah Gelombang I dan II.
- Akumulasi data mencatat 194.319 jemaah dan 2.011 petugas dari 509 kelompok terbang telah mendarat aman di tanah air.
- Sebanyak enam debarkasi regional di Indonesia resmi merampungkan seluruh sirkulasi operasional kedatangan jemaah.
Jakarta (beritajatim.com) — Memasuki hari operasional ke-71 penyelenggaraan ibadah haji 1447 H / 2026 M, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) memusatkan konsentrasi pelayanan pada sisa lima persen jemaah haji reguler yang masih berada di Madinah.
Otoritas kementerian menegaskan komitmennya untuk tidak mengendurkan standar fasilitas penunjang ibadah hingga seluruh rombongan pamungkas berhasil dievakuasi pulang ke tanah air.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan, pengetatan pengawasan ini mencakup draf pemenuhan logistik katering konsumsi, kelayakan pemondokan hotel, ketersediaan Bus Shalawat, hingga aspek proteksi kesehatan. Seluruh instrumen di Kota Nabawi dipastikan tetap beroperasi normal satu komando di bawah kendali Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan jemaah yang masih berada di Madinah dapat menuntaskan rangkaian ibadah dengan tenang, nyaman, dan khusyuk sebelum kembali ke Tanah Air. Komitmen pelayanan Kemenhaj tidak berkurang meskipun operasional haji telah memasuki fase akhir,” urai Juru Bicara Kemenhaj RI, Maria Assegaff, dalam siaran pers tertulis di Jakarta.
Maria memaparkan salah satu capaian krusial tim perlindungan ibadah di Madinah, yakni keberhasilan merampungkan draf izin masuk makam Rasulullah dan Raudhah. Otoritas kementerian sukses memfasilitasi penerbitan total 165.486 dokumen Tasreh Raudhah yang sah secara hukum agar jemaah terhindar dari draf sanksi pihak keamanan Arab Saudi.
Secara rigid, draf manifes perizinan tersebut terbagi menjadi 54.506 lembar tasreh untuk jemaah Gelombang I yang sempat transit pasca-Makkah, serta 110.980 lembar tasreh untuk jemaah Gelombang II yang masuk melalui sirkuit Madinah. Langkah digitalisasi dokumen ini terbukti efektif memberikan jaminan keamanan dan ketertiban bagi para tamu Allah saat berziarah di area Masjid Nabawi.
Statistik Manifes Penerbangan Internasional dan Pemetaan Sektor Debarkasi
Berdasarkan draf sirkulasi data kepulangan hingga akhir Juni, akumulasi logistik udara mencatat sebanyak 509 kelompok terbang (kloter) telah sukses lepas landas meninggalkan Arab Saudi. Manifes pemulangan mencatat sebanyak 194.319 jemaah dan 2.011 petugas kloter (total 196.330 orang) telah menginjakkan kaki di tanah air.
Dari total sirkulasi penerbangan internasional tersebut, sebanyak 267 kloter dievakuasi melalui pintu gerbang Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah. Sementara untuk koridor evakuasi Gelombang II, sebanyak 242 kloter diterbangkan langsung melalui Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah.
Di kaveling domestik, sirkulasi pemulangan menunjukkan tren penyelesaian yang masif. Enam wilayah kerja resmi menutup operasional kedatangan, antara lain Debarkasi Banten, Medan, Lombok, Padang, Palembang, dan Aceh.
Sementara sepuluh debarkasi lain termasuk Surabaya, Solo, Jakarta Pondok Gede, Bekasi, Kertajati, Makassar, Yogyakarta, Balikpapan, Batam, dan Banjarmasin dipastikan terus melayani draf kedatangan jemaah secara maraton.
Sebagai penutup, Kemenhaj mengajak jemaah yang telah berkumpul bersama keluarga di Indonesia untuk menjadi motor penggerak kebaikan di lingkungan sosial masing-masing.
“Kami berharap kemabruran haji tidak berhenti sebagai capaian pribadi, tetapi menjadi kekuatan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Mari bersama-sama mewujudkan Tri Sukses Haji, yaitu sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses peradaban dan keadaban, sehingga nilai-nilai haji dapat terus hidup dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat,” pungkas Maria. [ian/MCH]






