Bondowoso, (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis, penyakit yang ditularkan melalui bakteri Leptospira yang dibawa tikus. Hingga pertengahan 2026, tercatat tujuh kasus leptospirosis di Kabupaten Bondowoso.
Kepala Dinkes Bondowoso, dr. Moh. Jasin, mengatakan leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui bakteri Leptospira yang terdapat pada air kencing, kotoran, maupun air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir, seperti hidung dan mulut.
“Selama tikus itu mengandung bakteri Leptospira, maka berpotensi menularkan. Media penularannya bisa dari kencing, kotoran, atau air liur yang mengenai tubuh manusia,” katanya, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, gejala awal leptospirosis umumnya berupa demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, nyeri otot, dan sakit kepala. Jika tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi lebih berat hingga menyerang organ vital, terutama ginjal.
Meski demikian, kondisi kasus di Bondowoso dinilai masih terkendali. Jumlah penderita tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Seluruh pasien juga dilaporkan tidak mengalami komplikasi berat, seperti gagal ginjal yang membutuhkan tindakan cuci darah.
“Alhamdulillah tidak ada yang sampai cuci darah. Tren kasus juga menurun dibandingkan tahun lalu, tapi kewaspadaan tetap harus ditingkatkan,” ujarnya.
Untuk menekan risiko penularan, Dinkes terus mengintensifkan pengendalian populasi tikus melalui metode trapping atau pemasangan jebakan.
Cara tersebut dipilih karena dinilai lebih aman dibandingkan penggunaan racun tikus yang berpotensi mencemari lingkungan melalui bangkai dan cairan tubuh tikus yang mati.
Selain itu, masyarakat, khususnya petani, diimbau menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot saat bekerja di area persawahan. Langkah ini penting untuk mencegah bakteri masuk melalui luka kecil pada kaki yang kerap tidak disadari.
Dr. Jasin juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis. Penanganan sejak dini dinilai sangat penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih serius.
“Kalau ada gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun rumah sakit. Jangan menunggu parah,” tegasnya.
Dinkes Bondowoso berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan alat pelindung saat beraktivitas di daerah berisiko dapat terus menekan angka kasus leptospirosis di Kabupaten Bondowoso. (awi/aje)






