Trenggalek (beritajatim.com) – Kantor Kementerian Haji (Kemenhaj) Kabupaten Trenggalek mematangkan koordinasi antara Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dan PPIH Kloter guna menjamin pelayanan optimal bagi 437 jemaah haji asal Trenggalek pada musim haji 1447 H/2026 M.
Langkah strategis ini dilakukan melalui pertemuan silaturahmi di Gedung Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Trenggalek, Jumat (13/2/2026), untuk menyelaraskan persepsi tugas dan fungsi petugas di lapangan.
Pertemuan ini menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci. Sebanyak 437 jemaah dijadwalkan berangkat tahun ini, dengan jemaah terbanyak berasal dari Kecamatan Watulimo yang mencapai 71 orang. Kehadiran negara melalui petugas yang solid diharapkan mampu memitigasi kendala teknis maupun non-teknis yang mungkin muncul selama proses ibadah.
Kepala Kemenhaj Kabupaten Trenggalek, H. Subkan Hamzah, MSI, menegaskan bahwa komunikasi yang intensif antarpetugas adalah prasyarat utama keberhasilan penyelenggaraan haji.
Ia meminta seluruh elemen PPIH, mulai dari Ketua Kloter hingga petugas kesehatan, untuk mengedepankan solusi kolektif dalam setiap permasalahan yang dihadapi jemaah.
“Sinergi dan komunikasi menjadi kunci utama. Jika terdapat persoalan, hendaknya segera dikoordinasikan dan dicarikan solusi bersama demi kenyamanan dan keselamatan jemaah,” terang Subkan Hamzah saat memberikan arahan kepada para petugas.
Koordinasi ini melibatkan berbagai unsur penting dalam struktur PPIH, termasuk Pembimbing Ibadah, Petugas Kesehatan, Petugas Konsumsi, serta Media Center Haji (MCH). Selain itu, para pembimbing dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) turut hadir untuk mensinkronisasikan materi bimbingan yang akan diberikan kepada jemaah di tingkat kabupaten.
Salah satu poin penting dalam diskusi tersebut adalah rencana pelaksanaan Manasik Kubra. Agenda ini akan menjadi puncak pembekalan jemaah di tingkat kabupaten setelah seluruh rangkaian manasik di tingkat kecamatan rampung dilaksanakan. Manasik Kubra dirancang untuk menyimulasikan kondisi riil di Arab Saudi agar jemaah lebih mandiri secara ritual dan fisik.
Subkan Hamzah menekankan bahwa profesionalisme petugas akan sangat memengaruhi tingkat kepuasan jemaah. Dengan formasi petugas yang lengkap dan responsif, Kemenhaj Trenggalek optimistis dapat menghadirkan standar pelayanan prima yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
“Melalui koordinasi ini, diharapkan seluruh unsur PPIH Kabupaten Trenggalek semakin solid dan siap menghadirkan pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kepuasan jemaah,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Bahrul Munir, memohon kelancaran dan keberkahan bagi seluruh petugas dan jemaah Trenggalek. Kemenhaj mengimbau seluruh PPIH untuk tetap menjaga komunikasi aktif di grup koordinasi internal hingga masa operasional haji 2026 berakhir. [ian]






