Surabaya (beritajatim.com) Kapal De Ruyter kembali bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya Kamis (14/5/2026) pagi. Kapal asal negeri Belanda itu datang ke Surabaya bukan untuk berperang seperti yang terjadi delapan dekade lalu saat Perang Dunia II. Namun. Membawa pesan persahabatan dan hubungan diplomasi maritim antara Indonesia dan Belanda.
Laut Jawa tentu tidak asing dengan nama De Ruyter. Delapan dekade lalu atau saat Perang Dunia II terjadi pada 27 Februari 1942, kapal perang Jepang berhasil menembakan torpedo ke HNLMS De Ruyter. Dari jurnal BRIN “Pertempuran Laut Jawa 1942: Kekalahan Koninklijke Marine”, HNLMS De Ruyter lalu tenggelam di laut Jawa bersama dengan HNLMS Java serta Kortenaer. Total, 915 personel termasuk Laksamana legendaris Belanda Laksamana Karel Doorman.
Kedatangan Kapal De Ruyter ke Terminal Jamrud, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya bukan hanya agenda seremonial. Tetapi juga simbol diplomasi maritim dan perjumpaan sejarah antara Indonesia-Belanda. Dalam tur bertajuk Pacific Archer 2026, Kapal De Ruyter akan berlayar selama 160 hari mengunjungi mitra di negara Indo-Pasifik dan berhenti di sejumlah kota seperti Surabaya, Kochi, Manila, Hai Phong, Incheon, dan Tokyo.
Di Surabaya, Kapal dengan panjang mencapai 144 meter ini disambut oleh pasukan TNI AL dari Koarmada II Lantamal V yang melakukan jajar kehormatan. Ketika peluit kapal tanda sandar sempurna dilakukan, para anggota langsung melakukan penghormatan yang dibalas oleh awak kapal De Ruyter.
Selama di Surabaya, awak kapal De Ruyter akan melakukan berbagai kegiatan. Seperti tur kapal bagi awak media. Kunjungan kehormatan ke pejabat daerah dan perwira TNI AL, serta kunjungan ke makam perang di Surabaya. Nantinya, akan dilaksanakan Diskusi UNCLOS yakni Forum diskusi mengenai hukum laut internasional bersama Uni Eropa yang bertempat di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. (ang/aje)






