Blitar (beritajatim.com) – Musim kemarau yang berkepanjangan selama beberapa bulan terakhir telah mengakibatkan gagal panen bagi petani jagung di Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Kurangnya pasokan air dan suhu panas yang tinggi telah menyebabkan tanaman jagung tidak tumbuh dengan baik dan mengering.
Kondisi ini berdampak pada hasil panen jagung petani, yang mengalami penurunan hingga mencapai 70 persen dari biasanya. Husain, seorang petani di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, mengungkapkan bahwa hasil panen jagungnya hanya mencapai 3 kuintal, meskipun luas lahan pertaniannya mencapai 200 ru.
“Tanaman mengering dan daun menguning karena suhu panas yang tinggi. Bahkan dengan pemupukan, kondisi tanaman tidak pulih,” kata Husain, petani jagung, pada Senin (2/10/2023).
Kondisi serupa dialami oleh petani lain di sekitar lahan Husain. Diperkirakan puluhan hektar lahan pertanian di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar mengalami kekeringan.
BACA JUGA:
Tak Tersentuh Bantuan, Ibu di Blitar Rawat 3 Anak Keterbelakangan Mental di ‘Gubuk Reyot’
Husain menjelaskan bahwa aliran air irigasi di sawah mereka telah berkurang selama beberapa bulan terakhir. Kondisi ini diperparah oleh suhu panas yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, yang merusak tanaman jagung petani.
“Debit air berkurang drastis selama beberapa bulan terakhir, sehingga tanaman jagung tidak tumbuh dengan baik,” tambahnya.
Akibat gagal panen ini, para petani menghadapi kerugian finansial yang signifikan. Selama musim kemarau, biaya perawatan tanaman jagung meningkat drastis karena para petani harus menyewa pompa air untuk mengairi lahan mereka. Biaya sewa pompa air ini mencapai Rp30 ribu per jam, dan untuk mengairi lahan jagung seluas 200 ru, diperlukan waktu sekitar 5 jam.
“Biaya pengairan saja sudah meningkat menjadi sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu,” jelasnya.
BACA JUGA:
Kandang di Blitar Terbakar, 8 Ribu Ekor Ayam Hangus
Selain itu, hargapupuk non-subsidi yang mahal juga menjadi beban tambahan. Harga pupuk non-subsidi di tingkat petani kini mencapai Rp450 ribu per sak, yang menjadi masalah bagi para petani. Harga jagung juga telah turun menjadi Rp5.800 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp6.200 per kilogram.
“Kondisi ini sangat merugikan petani. Kami merasa ditinggalkan dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah,” tutupnya. [owi/beq]






