Ringkasan Berita:
- Damkarmat Bojonegoro mencatat 338 kejadian kebakaran sepanjang Januari-Agustus 2026.
- Sebanyak 237 kebakaran terjadi pada Juli dan Agustus, atau sekitar 70 persen dari total kasus.
- Pembakaran sampah menjadi penyebab terbanyak dengan 153 kejadian, disusul korsleting listrik sebanyak 67 kasus.
- Total kerugian mencapai Rp14,43 miliar, sementara aset sekitar Rp129,98 miliar berhasil diselamatkan.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Kasus kebakaran di Kabupaten Bojonegoro melonjak tajam saat musim kemarau 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro mencatat 338 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dengan lonjakan paling tinggi terjadi ketika kondisi lahan dan lingkungan mulai mengering.
Peningkatan kasus terlihat drastis dalam dua bulan terakhir. Pada Juni, Damkarmat Bojonegoro mencatat 29 kejadian kebakaran. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 125 kejadian pada Juli dan masih tinggi dengan 112 kejadian pada Agustus.
Dengan demikian, terdapat 237 kejadian kebakaran hanya dalam dua bulan, yakni Juli dan Agustus. Jumlah tersebut setara sekitar 70 persen dari total 338 kasus kebakaran yang tercatat di Bojonegoro sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Damkarmat Bojonegoro, Ahmad Agus Salim, mengatakan kondisi lingkungan yang kering selama musim kemarau membuat api lebih mudah muncul dan cepat merambat.
“Ketika memasuki musim kemarau, potensi kebakaran memang meningkat. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar, terutama apabila ada aktivitas pembakaran yang tidak diawasi,” ujar Agus Salim, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data Damkarmat Bojonegoro, kebakaran yang paling banyak terjadi meliputi kebakaran lahan, pekarangan, sampah, jerami hingga rumpun bambu. Jenis kebakaran tersebut secara keseluruhan mencapai 164 kejadian.
Kebakaran lahan hutan juga tercatat cukup tinggi dengan 30 kejadian. Sementara kebakaran yang terjadi pada permukiman atau rumah mencapai 33 kejadian.
Selain itu, Damkarmat Bojonegoro mencatat 29 kejadian kebakaran yang berkaitan dengan meteran listrik, kabel, trafo maupun gardu listrik.
Jika dilihat berdasarkan penyebabnya, pembakaran sampah menjadi pemicu kebakaran paling dominan. Aktivitas tersebut tercatat menyebabkan 153 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Penyebab terbanyak berikutnya adalah korsleting atau arus pendek listrik dengan 67 kejadian. Sementara kebakaran yang diduga sengaja dibakar oleh pihak tertentu mencapai 59 kejadian.
“Pembakaran sampah ini menjadi salah satu yang paling banyak,” tegas Agus Salim.
Tingginya kasus kebakaran selama periode tersebut juga berdampak terhadap kerugian material. Damkarmat Bojonegoro mencatat total kerugian akibat kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar Rp14,43 miliar.
Di sisi lain, upaya pemadaman dan penyelamatan yang dilakukan petugas berhasil mengamankan aset dengan nilai jauh lebih besar. Nilai aset yang berhasil diselamatkan Damkarmat Bojonegoro mencapai sekitar Rp129,98 miliar.
Menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung, Damkarmat Bojonegoro mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati menggunakan api, terutama ketika membakar sampah atau material lain yang mudah terbakar.
“Jangan menganggap api kecil tidak berbahaya. Dalam kondisi kemarau, api bisa cepat menjalar. Kalau melihat adanya kebakaran, segera laporkan agar petugas bisa melakukan penanganan secepat mungkin,” pungkasnya. [fif/beq]






