Ringkasan Berita:
- Dokkes Polda Jatim memastikan 15 fragmen yang diperiksa dalam kasus pembunuhan ibu dan anak di Madiun merupakan tulang manusia.
- Hasil pemeriksaan DNA yang keluar pada 30 Oktober 2026 menunjukkan kecocokan antara fragmen tulang dan sampel darah ibu korban.
- Salah satu fragmen berhasil diidentifikasi sebagai bagian dari tulang panggul, sedangkan fragmen lainnya sulit dikenali karena berukuran kecil.
- Kabid Dokkes Polda Jatim menyebut 15 fragmen tulang tersebut berasal dari dua orang manusia berbeda.
Surabaya (beritajatim.com) – Dokkes Polda Jawa Timur mengidentifikasi 15 fragmen tulang yang diperiksa dalam kasus pembunuhan ibu dan anak di Madiun sebagai tulang manusia. Pemeriksaan DNA juga menunjukkan hasil identik antara sampel fragmen tulang dan sampel darah pembanding yang diambil dari ibu korban.
Kepastian tersebut disampaikan Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes Pol Dr. dr. Wahono Edhi P, Sp.PD, dalam keterangan pers di Surabaya, Rabu (4/11/2026).
“Hasil dari pemeriksaan terhadap 15 fragmen tulang yang diserahkan kepada kami di Dokkes Polda Jawa Timur, sudah kita identifikasi bahwa itu adalah tulang manusia,” ujar Wahono.
Untuk memastikan identitas fragmen tersebut, tim Dokkes Polda Jatim melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode DNA. Sebagai pembanding, petugas mengambil sampel darah dari ibu korban.
Hasil pemeriksaan DNA tersebut telah keluar pada 30 Oktober 2026. Pengujian menunjukkan adanya kecocokan atau identitas DNA antara fragmen tulang yang diperiksa dan sampel darah pembanding dari ibu korban.
“Hasilnya sudah jadi tanggal 30, bahwa betul tulang dengan pembanding dari ibu yang kita ambil darahnya itu adalah identik. Jadi bisa dipastikan bahwa fragmen tulang itu adalah fragmen tulang punyaannya almarhum korban,” kata Wahono.
Meski identitas melalui pemeriksaan DNA telah diketahui, tim masih kesulitan merinci bagian anatomi dari seluruh fragmen tulang tersebut. Kondisi tulang yang sudah terpotong menjadi bagian-bagian kecil membuat proses identifikasi anatomi tidak mudah dilakukan.
“Kalau merincikan 15 fragmen itu sangat sulit karena kondisinya kecil-kecil. Tulang kalau sudah dipotong menjadi kecil-kecil kita susah,” ujarnya.
Namun, berdasarkan bentuk anatominya, tim berhasil mengidentifikasi salah satu fragmen sebagai bagian dari tulang panggul. Sementara fragmen lainnya hanya berupa serpihan kecil sehingga sulit ditentukan bagian anatomi asalnya.
Wahono juga mengungkapkan bahwa 15 fragmen tulang yang diperiksa tidak seluruhnya berasal dari satu individu. Berdasarkan hasil pemeriksaan, fragmen tersebut berasal dari dua orang manusia berbeda.
“Fragmen tulang ini adalah dari dua orang manusia, dari sumber manusia yang berbeda,” tegasnya. [uci/beq]






