Surabaya (beritajatim.com) – Kasus viral Yai Mim-Sahara telah memecah opini publik di media sosial. Dalam waktu singkat, warganet terbelah. Ini menunjukkan betapa mudahnya isu sensasional menyedot perhatian dan menciptakan distraksi dari persoalan yang lebih penting.
Dosen Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Intan Fitranisa menjelaskan bahwa fenomena ini menunjukkan kekuatan algoritma media sosial dalam membentuk arah percakapan publik.
“Algoritma platform digital cenderung menonjolkan konten yang memicu engagement tinggi. Jadi, isu yang mengandung unsur sensasional atau konflik cepat sekali menyebar,” ujar Intan, Jumat (10/10/2025).
Ia menambahkan, konteks budaya Indonesia yang komunal dan religius membuat isu yang melibatkan figur agama lebih mudah memantik emosi publik. “Sebelum ada klarifikasi atau verifikasi, publik cenderung sudah mengambil posisi dan menyebarkan opini,” katanya.
Tingginya minat publik pada drama dibanding substansi, menurut Intan menjadi indikator lemahnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis masyarakat.
“Banyak orang menilai kebenaran dari seberapa viral sebuah konten, bukan dari sumber atau konteksnya. Literasi digital itu bukan cuma soal bisa main media sosial, tapi juga memahami motif di balik pesan,” ujar Intan.
Jika hal ini terus dibiarkan, masyarakat akan semakin mudah terseret arus misinformasi dan kehilangan kemampuan membedakan mana fakta, mana opini.
Ditanya soal media sosial menjadi lahan subur distraksi isu, Intan menyebut, fenomena pengalihan isu lewat media sosial bukan hal baru. Menurutnya, perhatian publik di dunia digital sangat cepat bergeser. Ini menjadikan media sosial sebagai kanal efektif menciptakan distraksi publik.
“Perhatian publik cepat berubah dan terfragmentasi. Namun, tidak semua viralitas disengaja. Kadang isu berkembang secara organik karena publik lebih tertarik pada aspek dramatis ketimbang hal serius seperti kebijakan atau isu sosial,” jelasnya.

Intan menilai pola ini bisa dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengarahkan fokus publik ke isu tertentu, terutama ketika ada kepentingan politik atau ekonomi di baliknya.
Oleh karena itu, Intan mengingatkan bahwa publik perlu bijak menghadapi isu viral di media sosial.
“Dari kasus Yai Mim-Sahara, kita belajar bahwa tidak semua yang viral itu penting, dan tidak semua yang penting itu viral. Publik harus bertanya dulu, apakah narasumbernya kredibel? Siapa yang diuntungkan dari viralitas ini?” katanya.
Ia menegaskan, penting bagi lembaga pendidikan, media, dan komunitas digital untuk terus mendorong peningkatan literasi media dan etika komunikasi publik agar masyarakat tidak mudah terbawa arus opini tanpa dasar jelas.
Secara khusus, Intan juga mengingatkan pentingnya peran media arus utama agar tidak ikut memperkuat distraksi.
“Media seharusnya berpegang pada etika jurnalisme verifikasi. Sebelum mempublikasikan isu yang sedang ramai, pastikan konteks dan sumbernya kredibel,” tegasnya. [ipl/ian]






