Surabaya (beritajatim.com) – Komnas PA Surabaya aktif mengawal kasus rudapaksa siswi SMPN di Surabaya dan mendesak semua sekolah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
“Kami mengawal kasus ini. Dan mendorong agar ada peran [aktif] Sekolah Ramah Anak. Termasuk adanya TPPK di tiap sekolah,” kata Ketua Komnas PA Surabaya, Syaiful Bahri, Minggu (6/10/24) hari ini.
Dengan adanya TPPK di setiap sekolah Surabaya, Syaiful ingin program ‘Sekolah Ramah Anak’ tidak hanya sekedar jargon. Namun, memang berperan melakukan pencegahan – penanganan kekerasan anak.
“Efektivitasnya TPPK di lingkungan sekolah harus diperhatikan. Mereka [sekolah] ini perlu punya SK petunjuk pelaksanaan, sehingga teknis [pencegahan dan penanganan kekerasan] mereka paham,” tegasnya.
Selain itu, kata Syaiful, peran serta dari orang tua atau orang dewasa dalam mendidik dan mengawasi anak ini penting. Kata dia, ini sebagai usaha menghilangkan pola pola tindak kekerasan sejak dini.
“Ayo jadi orang tua jangan sampai lengah. Orang tua harus bisa memposisikan diri sebagai teman dan sahabat bagi anak. Coba untuk banyak curhat, memahami dan mendampingi anak,” ucap dia.
Diketahui sebelumnya, kasus pemerkosaan siswi SMPN di Surabaya, anak dari Ibu SL (34) ini telah dilaporkan ke kepolisian pada Kamis (25/7/2024). Laporan tersebut mencakup dugaan tindak pidana pemerkosaan dan penyebaran video asusila.
“Sudah ditangani oleh PPA dan saat ini prosesnya sudah penyidikan. Kasusnya masih terus berlanjut,” ujar Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Haryoko Widhi. [ram/aje]






