Surabaya (beritajatim.com) – Maraknya aksi perundungan atau bullying di sekolah membuat pihak sekolah berupaya keras agar aksi tersebut tidak sampai terjadi di sekolah.
Karena dampak dari aksi bully bisa berakibat tekanan psikis bahkan juga bisa berakibat fatal bagi peserta didik. Untuk itu sekolah akan diharapkan memberi pendamping kepada peserta didik agar kasus bullying bisa direda.
Seperti yang dilakukan oleh Inspirasi School Sidoarjo, dengan selalu mengawasi dan memberi perilaku disiplin di area sekolah terutama di dalam kelas, disamping itu juga komunikasi antara guru dan peserta didik juga harus dilakukan agar terjadi kedekatan antara keduanya.
Bibie Nareswari Kepala sekolah Inspirasi School menyebut setiap anak juga dibekali dengan body sistem dimana setiap anak harus ada temannya ketika ada bertemu dengan orang lain yang berpotensi terjadi bullying bisa dikurangi karena ada temannya.
“Selanjutnya juga ada aturan didalam kelas yang dimana aturan tersebut telah disepakati oleh anak dan juga orang tua,” kata Bibie..
Sementara itu perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo Netti Lastiningsih menyebut kasus bullying ini sendiri tidak hanya terjadi di sekolah, namun juga bisa terjadi di area sekitar seperti keluarga, lingkungan, dan lainnya.
“Jika terjadi di area sekolah Dinas Pendidikan mewajibkan pembentukan tim penanggulangan dan pencegahan tindak kekerasan di sekolah, dimana sekarang seluruh SD dan SMP sudah memiliki tim tersebut,” kata Netti.
Didalam tim itu juga dibentuk alur penanganan jika terjadi tindak bullying di arena sekolah dan bagaimana cara cepat mengatasinya, agar peserta didik tidak terlalu dalam tekanan psikisnya karena efek bully.
Di Indonesia sendiri kasus bullying di area sekolah masih tinggi dimana tahun 2023 ada 3 ribu 800 kasus perundungan yang terjadi. (way/ted)






