Surabaya (beritajatim.com) – Kadindik Jatim Aries Agung Paewai menantang calon kepala (cakep) dan kepala sekolah (kasek) di Jatim membuat inovasi dalam kurun waktu 6 bulan sejak menerima Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP).
Dindik Jatim, pagi tadi (9/10), melakukan pembinaan terhadap 184 kepala SMA, SMK dan SLB yang dilantik oleh Gubernur Jatim beberapa waktu lalu. Mereka terdiri dari 90 cakep kategori rotasi promosi. Sedangkan 94 lainnya merupakan kasek yang dimutasi.
“Kita berharap mereka punya inovasi. Kenapa inovasi? Karena inovasi ada gairahnya dan ada pergerakan di lingkungan sekolah dengan adanya inovasi,” ujar Aries, Senin (9/10/2023).
Menurut Aries, jika kepala sekolah terbiasa berinovasi maka akan juga terbiasa menyelesaikan persoalan di satuan pendidikan yang dipimpin. Sebab, awal mula tercetus inovasi berasal dari setiap masalah yang ditemui, dan harus ada pemecahan masalah.
“Jadi selama enam bulan ini mereka harus pemetaan untuk melakukan langkah strategis. Seperti menakar kembali iuran dan sumbangan sekolah, perlu atau tidak,” kata Aries.
Ia menerangkan, jika tidak ada inovasi maka akan dilakukan evaluasi. Bahkan, jika tidak cocok dengan jabatan kasek rotasi promosi akan dikembalikan menjadi guru.
Ia menyampaikan tantangan inovasi sekaligus menjawab isu adanya tunduhan jual beli jabatan kepala sekolah yang dilakukan ‘oknum’ cakep. Melalui inovasi, pihaknya akan mengetahui, kualitas cakep promosi maupun kasek mutasi.
“Jika ada yang bilang jual beli jabatan buktikkan hitam di atas putih maka akan kita tindak lanjuti. Saya komitmen pada seluruh perangkat Dindik Jatim, kalau ada yang bilang terkait jual beli jabatan maka kami dengan senang hati minta ada bukti. Kalau perlu kita tantang buktinya yang mengarah kesana,” ungkapnya.
Sementara itu, Analis Kebijakan Badan Strategi Kebijakan dalam Negeri Kemdagri Isman AP menyebut pentingnya membangun elemen dalam membudayakan inovasi. Sudut pandang ini sangat berpengaruh pada hadirnya inovasi baru. Seperti dari organisasi, keuangan, dan keterbatasan.
Ia menuturkan, bahwa hingga saat ini masyarakat luas bahkan orang birokrasi masih terjebak dalam mindset inovasi yang berkaitan dengan anggaran. “Sebaliknya, justru melalui inovasi ini dapat mengefektifkan anggaran yang sudah ada menjadi lebih hemat dan bisa melakukan terobosan baru,” tuturnya.
Ia mencontohkan, salah satunya dengan mengganti perpustakaan konvensional menjadi digital. Menurutnya, ini akan menghemat anggaran yang digunakan untuk pembangunan gedung ataupun pembelian rak dan buku.
“Jika menggunakan e-library maka akan mempermudah semua pihak dapat mengakses tanpa mengeluarkan anggaran baik untuk pembangunan gedung atau pembelian fasilitas perpustakaan,” tandasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Kadindik Jatim Dorong Kepala Sekolah Bangun Komunikasi dan Leadership






