Jombang (beritajatim.com) – Seorang pengarang Amerika, Zig Ziglar pernah menuliskan dalam bukunya, “Kamu tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi luar biasa.”
Agaknya kalimat itu pantas disematkan pada H Warsubi, mantan Kepala Desa Mojokrapak Kecamatan Tembelang, yang kini menjadi calon Bupati Jombang 2025-2030. Bagaimana tidak?
Ketika pemerintah pusat dan kabupaten belum memiliki program untuk memberikan bantuan makanan langsung pada balita stunting, sejak tahun 2022, Warsubi sudah menjalankan program tersebut bersama sang istri yang ketika itu merupakan ketua tim penggerak PKK.
Bagi Warsubi, stunting ini hal yang menjadi prioritas penanganan di Desa Mojokrapak. Sebab, anak-anak merupakan investasi masa depan bagi sebuah wilayah. Sebisa mungkin kebutuhan gizi anak-anak harus tercukupi agar tumbuh kembang bisa berjalan maksimal.
Stunting sendiri merupakan kondisi di mana tinggi badan anak lebih pendek dari rata-rata anak seusianya, yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Ditandai dengan badan yang pendek dan berat badan yang statis.
Agustus 2023, tiba-tiba Desa Mojokrapak menjadi desa dengan lokus stunting. Sebanyak 43 balita dinyatakan stunting dengan berbagai kondisi yang menjadi penyebab.
“Kabupaten Jombang sendiri merupakan kabupaten yang angka stuntingnya cukup tinggi. Tapi dari pemerintah pusat dan kabupaten belum ada program untuk memberikan bantuan makanan langsung,” ujar Warsubi, Senin (30/9/2024).
Ia menyebut, dari tahun 2022 pihaknya sudah bekerja sama dengan berbagai sektor untuk melakukan program penanganan stunting. Salah satunya dengan memberikan bantuan makanan langsung pada masyarakat yang stunting atau berisiko.
“Jadi tidak hanya edukasi yang dilakukan olah kader Posyandu, kami juga memberikan bahan pangan langsung berupa telur, ayam dan nugget. Selain itu juga sirup zink dan beras. Nah baru pada tahun 2024 bantuan dari pemerintah pusat masuk. Berupa susu dan bahan makanan tambahan seperti biskuit atau makanan bayi instan yang memenuhi nilai standar gizi balita,” jelasnya.
Bisa dikatakan, tindakan Warsubi menangani stunting ini merupakan tindakan pelopor yang membuat pemerintah pusat akhirnya turut memberikan makanan langsung pada anak-anak yang mengalami stunting.
Yuli Nugrahani, sang istri yang saat itu merupakan ketua tim penggerak PKK juga berinisiatif untuk membuat program bersama Kader Posyandu. Beberapa diantaranya, program memasak makanan sehat bersama.
“Kadang ketika kita memberikan bantuan bahan makanan, anaknya belum tentu mau makan. Jadi kita buat program itu. Ibu-ibu berkumpul di balai desa untuk memasak makanan sehat, kemudian anak-anak bersama-sama menyantap makanan sehat langsung di lokasi. Sehingga kita bisa memastikan asupan gizi yang sudah dibuat masuk di anak-anak,” ungkap perempuan yang akrab disapa Yuli ini.
Terus Berjalan

Kini, angka stunting di Desa Mojokrapak berkurang hingga 50 persen. Seluruh program tersebut masih terus dijalankan oleh Penjabat Kepala Desa, Lia Aprilianna Isna Sari.
“Saat ini balita stunting di Desa Mojokrapak turun. Dari 43 balita menjadi 21. Dan sepertinya akan terus turun. Karena edukasi terus kami lakukan dari rumah ke rumah. Program pemberian bantuan pangan juga terus berjalan. Kami terus bekerja sama dengan pihak puskesmas dan kader Posyandu,” terang Lia.
Menurut Lia, ada program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) yang merupakan program yang digagas oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengasuh anak, terutama anak balita.
“Dalam program SOTH, orang tua akan mengikuti kelas dan mendapatkan materi, sementara anak-anak mereka bisa bermain untuk melatih gerak motoriknya. Fasilitas pendukung seperti trampolin, jungkitan, ayunan, perosotan, dan lainnya juga disediakan. Setelah belajar, balita akan mendapatkan makanan bergizi, seperti susu atau makanan bergizi lainnya. Ini juga menjadi ikhtiar dalam mengurangi balita stunting,” tutupnya. [suf]






