Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 25 grup karawitan ikut ambil bagian dalam Festival Karawitan Umum Grebeg Suro 2025. Acara tahunan ini digelar di Pendopo Agung Pemkab Ponorogo. Suasana pentas berlangsung rancak dengan iringan gamelan khas Jawa. Para peserta berasal dari berbagai kalangan dan wilayah di Bumi Reog.
Di antara seluruh peserta, grup Dwija Budaya Laras dari SMPN 2 Balong, keluar sebagai juara pertama. Mereka mencuri perhatian dewan juri lewat sajian musik yang utuh dan harmonis.
“Penilaiannya dari segi garapan, dari segi penyajian, dan dari segi rasa. Dan, mereka itu bisa menyajikan sesuai dengan porsinya,” kata Sunarya, salah satu juri, Jumat (20/6/2025).
Menurut Sunarya, kualitas peserta tahun ini cukup merata. Semua grup menunjukkan kemampuan yang konsisten di atas panggung.
“Bagus-bagus. Kami sebagai juri jujur saja kewalahan dalam arti nilai semuanya itu bagus. Semua hampir rata nilainya itu,” katanya.
Grup Panji Laras Iromo dari Desa Gelang Lor, Kecamatan Sukorejo, berhasil meraih posisi kedua. Grup ini tampil di hari kedua dengan nomor undian 15. Sementara, juara ketiga ditempati Manuhara dari komunitas guru MGMP Bahasa Jawa SMP Ponorogo.
Para pemenang tidak hanya mendapat piala dan uang pembinaan. Panitia juga menjanjikan hadiah tambahan berupa seperangkat alat musik gamelan. Ini menjadi bentuk dukungan konkret bagi pelestarian seni karawitan lokal.
Penjurian dilakukan oleh tiga tokoh karawitan berpengalaman. Mereka adalah Sunarya, Sarji, dan Bagus Danang Surya Putra. Dari total 25 grup yang mendaftar, hanya 15 yang akhirnya tampil di panggung utama.
Meski jumlah peserta tidak penuh, jalannya lomba tetap kompetitif. Ragam gaya penyajian membuat dewan juri harus ekstra cermat dalam menilai. Para sinden dan pengrawit menampilkan keharmonisan nada dan rasa yang menyatu.
“Banyak panggung di Ponorogo sekarang menampilkan karawitan. Ini melahirkan banyak pemain andal dari berbagai kecamatan,” ungkap Sunarya mengapresiasi perkembangan karawitan di daerahnya.
Sunarya menilai, kemajuan karawitan di Ponorogo cukup menggembirakan. Kini, grup-grup lokal tak lagi kesulitan mencari pengrawit dari luar. Semua bisa digarap secara mandiri oleh warga setempat.
“Saya amat sangat mengapresiasi kemajuan seni karawitan di Ponorogo karena setiap tahun pasti ada event karawitan, tidak hanya 1–2 kali,” tambah Sunarya.
Penyerahan penghargaan dilakukan langsung oleh Bupati Sugiri Sancoko. Didampingi Wakil Bupati Lisdyarita dan Kepala Disbudparpora Judha Slamet Sarwo Edi, mereka menyerahkan piala kepada para pemenang.
Dalam sambutannya, Bupati Sugiri menyampaikan harapannya. Orang nomot satundi Ponorogo itu ingin festival ini bisa lebih besar dan meriah di tahun-tahun berikutnya. Hal ini dianggap penting untuk menjaga warisan budaya tetap hidup dan berkembang.
“Tahun depan semoga bisa lebih meriah lagi. Ini penting karena kita nguri-uri budaya supaya tidak punah ditelan zaman,” pungkas Bupati Sugiri. (end/but)






