Ringkasan Berita:
- Jembatan apung sepanjang 90 meter menghubungkan Desa Tamban dan Desa Gamping di Tulungagung.
- Warga kini dapat memangkas waktu perjalanan dari sekitar 10 menit menjadi hanya 2 menit.
- Jembatan dibangun menggunakan dana pribadi dan mulai beroperasi sekitar satu bulan lalu.
- Tarif melintas dipatok Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp1.000 bagi pesepeda serta pejalan kaki.
Tulungagung (beritajatim.com) – Keberadaan jembatan apung yang menghubungkan Desa Tamban, Kecamatan Pakel, dengan Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, memberikan kemudahan bagi warga dalam beraktivitas. Jembatan yang baru beroperasi sekitar satu bulan tersebut mampu memangkas waktu tempuh perjalanan sehingga akses antardesa menjadi lebih cepat dan efisien.
Jembatan apung ini merupakan milik swasta yang dibangun menggunakan dana pribadi. Untuk melintasinya, masyarakat dikenakan tarif sesuai jenis kendaraan yang digunakan. Meski berbayar, keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat membantu karena mengurangi jarak tempuh yang sebelumnya harus memutar hingga sekitar 5 kilometer.
Salah seorang penjaga jembatan apung, Susianto, menjelaskan jembatan memiliki panjang sekitar 90 meter. Konstruksinya menggunakan material kayu dengan tong plastik sebagai pelampung sehingga mampu menopang kendaraan ringan yang melintas.
“Sebelumnya sudah dilakukan uji coba, untuk kemanannya cukup kuat, tapi jembatan ini hanya bisa dilalui oleh motor, sepeda dan kendaraan roda tiga saja,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Pengelola menetapkan tarif Rp2.000 untuk setiap sepeda motor yang melintas. Sementara itu, pesepeda dan pejalan kaki dikenai tarif Rp1.000 sekali melintas.
Menurut Susianto, jembatan apung tersebut setiap hari dimanfaatkan berbagai kalangan masyarakat, mulai dari petani, pedagang, pelajar hingga warga yang berolahraga. Aktivitas pengguna biasanya meningkat pada akhir pekan.
“Yang lewat biasanya petani, pedagang, pelajar maupun yang mau berolahraga, biasanya ramai Sabtu dan Minggu,” terangnya.
Salah seorang warga, Siti, mengaku kehadiran jembatan apung membuat mobilitas masyarakat menjadi jauh lebih mudah. Sebelum jembatan tersedia, ia harus memutar melalui wilayah Campurdarat dengan waktu tempuh sekitar 10 menit untuk menuju Desa Gamping.
Kini, perjalanan tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih efisien.
“Sangat terbantu biasanya memutar melewati Campurdarat sekarang tidak perlu, dua menit sudah sampai,” pungkasnya.
Selain memangkas waktu perjalanan, jembatan apung ini juga mendukung kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di dua desa. Keberadaannya menjadi akses alternatif yang mempermudah mobilitas warga, terutama bagi petani, pedagang, pelajar, maupun masyarakat yang rutin melintasi jalur tersebut setiap hari. [nm/beq]






