RINGKASAN BERITA:
Salat di masjid hotel di seluruh wilayah Makkah memiliki keutamaan pahala 100.000 kali lipat setara Masjidil Haram.
PPIH mengimbau jemaah lansia, disabilitas, dan risiko tinggi untuk mengoptimalkan ibadah di pemondokan demi menjaga kesehatan.
Jemaah diingatkan untuk tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram guna menghindari risiko tersesat dan kelelahan fisik ekstrem.
Makkah (beritajatim.com) – Salat di masjid hotel yang berada di wilayah Makkah memiliki keutamaan pahala yang sama dengan beribadah di Masjidil Haram, yakni dilipatgandakan hingga 100.000 kali lipat karena masih berada dalam lingkup Tanah Haram.
Penegasan ini disampaikan oleh Tim Layanan Bimbingan Ibadah (Bimbad) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daker Makkah guna meluruskan pemahaman jemaah yang kerap memaksakan diri beribadah ke Masjidil Haram meskipun kondisi fisik tidak memungkinkan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, imbauan ini menjadi krusial mengingat suhu udara di Makkah yang kini menyentuh angka 39 hingga 43 derajat Celsius.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut sangat berisiko bagi keselamatan jemaah, terutama bagi warga asal Jawa Timur dan daerah lainnya yang belum terbiasa dengan kelembapan rendah dan panas menyengat di Tanah Suci.
Tim Pelaksana Bimbad PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Abdul Aziz Siswanto, menjelaskan bahwa seluruh wilayah Tanah Haram memiliki kemuliaan yang sama. “Seluruh wilayah Tanah Haram ini memiliki keutamaan seperti Masjidil Haram. Salat di sini pahalanya 100 ribu kali lipat,” ujar Aziz seusai kegiatan Visitasi, Konsultasi, dan Edukasi (Visduk) di Hotel Lulua Almasher Syisyah, Makkah, Selasa (5/5/2026).
Prioritas Menjaga Jiwa (Hifdz Nafs)
Aziz menekankan bahwa meskipun keinginan beribadah langsung di depan Ka’bah adalah hal yang wajar, jemaah harus mengutamakan prinsip hifdz nafs atau menjaga jiwa. Ia mengingatkan agar jemaah yang sehat tidak memprovokasi jemaah lain yang memiliki keterbatasan fisik untuk selalu berangkat ke Masjidil Haram.
“Pengennya kesana, salat, tidak salah, kalau memang fisiknya memungkinkan. Tapi harus ingat nih, waktu apel pagi disampaikan Pak dr Eddy itu, beliau menyampaikan, di sini ladang untuk berbuat baik. Tapi yang paling baik ialah orang yang bisa memberikan kesempatan baik pada orang untuk berbuat baik. Maka jangan sampai kita memonopoli,” lanjut Aziz.
Menurutnya, memaksakan diri tanpa pendampingan yang jelas dapat memicu berbagai risiko di area Masjidil Haram yang sangat luas. Potensi jemaah tersesat, kelelahan, hingga dehidrasi akibat berdesakan menjadi ancaman nyata, terutama saat proses keluar-masuk pintu masjid yang berjumlah ratusan.
Optimalisasi Ibadah di Pemondokan
Untuk memitigasi risiko kesehatan dan keamanan, PPIH meminta jemaah yang masuk dalam kategori rentan untuk mengoptimalkan masjid yang tersedia di hotel masing-masing.
Fasilitas ibadah di hotel-hotel jemaah Indonesia saat ini telah didesain nyaman dan mampu menampung jemaah dalam jumlah besar tanpa harus terpapar panas matahari langsung.
“Siapa nanti yang bertanggung jawab ngedorong? Nggak ada yang mendampingi. Siapa yang mendampingi? Sementara begitu masuk ke area Masjidil Haram, bisa jadi orang tersesat jalannya. Banyak pintu. Lupa pintunya, lupa naruh sendalnya, lupa tempat wudunya, lupa tempat pertemuannya. Ini sering terjadi, jemaah hilang di Masjidil Haram,” ucap Aziz mengingatkan.
Secara spesifik, Aziz mengarahkan tiga golongan jemaah untuk lebih bijak dalam mengatur aktivitas ibadah mereka sebelum puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Sebaiknya bagi jemaah yang bermasalah, terutama dari tiga golongan, lansia, disabilitas dan jemaah dengan risiko tinggi, silahkan dioptimalisasikan ibadahnya di pemondokan masing-masing,” pungkasnya. [ian/MCH]






