Sumenep (beritajatim.com) – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep mengintensifkan pemantauan terhadap hewan kurban yang dijual di pasar ternak maupun lapak-lapak dadakan menjelang Idul Adha.
“Tenaga kesehatan kami sudah mulai keliling ke tempat-tempat penjualan hewan kurban. Frekuensi pemantauannya kami tingkatkan menjelang lebaran kurban,” kata Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Sumenep, drh. Zulfa, Kamis (30/05/2024).
Ia menjelaskan, ada 40 tenaga medis dan paramedis kesehatan hewan yang melakukan pemantauan kesehatan hewan kurban, baik sapi maupun kambing. Sejauh ini, tidak ditemukan adanya penyakit hewan ternak, baik penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD) atau lato-lato.
“Kasus LSD terakhir kami temukan sekitar 3 bulan lalu. Sampai saat ini tidak lagi ditemukan kasus serupa. Bisa dibilang aman lah untuk hewan kurban,” paparnya.
Selain mengintensifkan pemantauan, lanjut Zulfa, pihaknya juga memberlakukan prosedur ketat untuk pemeriksaan kesehatan hewan yang akan dikirim ke luar daerah.
“Hewan ternak yang akan dikirim ke luar harus divaksin terlebih dahulu. Vaksin PMK dan LSD. Ini demi menghindari penyebaran penyakit pada hewan ternak. Termasuk yang dijual di dalam Sumenep juga harus divaksin,” ujarnya.
Sedangkan untuk hewan ternak yang akan digunakan untuk kurban, harus mengantongi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH), setelah melalui pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis yang bertugas.
“Sekarang SKKH ini sudah tidak lagi manual, tapi melalui aplikasi. Jadi setelah hewan kurban diperiksa dan dinyatakan sehat, maka keterangan kondisi kesehatannya akan dientry melalui aplikasi SKKH,” terangnya. (tem/but)






