Probolinggo (beritajatim.com) – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah, harga sapi di Kota Probolinggo mengalami lonjakan yang cukup tinggi. Kenaikan harga tersebut tercatat mencapai 40 persen dibandingkan dengan harga normal.
Husein (58), seorang pedagang sapi di Pasar Hewan Jrebeng Kidul, Kecamatan Kedopok, menyatakan bahwa tren kenaikan ini mulai terlihat sejak Selasa (6/5/2025). Ia mengatakan bahwa hampir semua jenis sapi mengalami kenaikan harga secara merata.
“Dari harga sapi yang biasanya berkisar Rp10 juta, kini menjadi Rp14 hingga Rp16 juta. Bahkan, sapi yang biasanya dihargai Rp17 juta sekarang naik menjadi Rp22 juta,” ujar Husein.
Menurut Husein, lonjakan harga sapi ini sudah menjadi hal biasa setiap kali memasuki masa jelang Idul Adha. “Setiap tahun pasti naik dan mahal seperti sekarang ini,” imbuhnya dengan yakin.
Ia juga menuturkan bahwa jenis sapi yang paling diminati oleh pembeli adalah sapi Madura atau yang biasa dikenal dengan sebutan sapi merah. Permintaan terhadap jenis sapi ini meningkat tajam selama musim kurban.
“Jenis sapi merah memang banyak dicari karena posturnya ideal dan dagingnya lebih padat,” jelasnya. Para peternak pun menganggap momentum ini sebagai musim panen yang menguntungkan.
Husein mengungkapkan bahwa ia sudah berhasil menjual tiga ekor sapi sejak harga mulai naik. “Yang pertama saya jual Rp14 juta, yang kedua Rp17 juta, dan yang terakhir paling besar saya lepas Rp20 juta,” terangnya.
Kenaikan harga tidak menyurutkan antusiasme pembeli di pasar hewan. “Bahkan, semakin ramai pada minggu-minggu pertama kenaikan harga ini,” kata Husein sambil melayani pembeli.
Ia memperkirakan harga sapi akan terus meningkat seiring mendekatnya Hari Raya Idul Adha. Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk membeli lebih awal agar tidak kehabisan stok sapi pilihan.
“Kalau mau sapi bagus, ya jangan tunggu mepet hari H. Karena nanti stoknya menipis dan harganya bisa makin tinggi,” pungkas Husein. [ada/aje]






