Dari 4 gram protein hewani sehari pada zaman Soekarno hingga kulkas yang kini bisa dipenuhi telur, susu, dan ikan. Indonesia sudah melangkah jauh. Jawa Timur ikut mengisi lompatan itu._
****
Bukalah kulkas kita. Di sana mungkin ada telur yang berjajar rapi di rak bagian atas pintu. Kotak susu mengisi sebelah bawah dan ikan di ruang pembeku. Bahan-bahan ini begitu dekat dengan meja makan kita.
Telur, susu, ikan. Penghuni kulkas itulah yang menjadi sumber protein, zat penting untuk membangun jaringan tubuh. Hari ini, bahan-bahan itu mungkin menjadi penghuni biasa. Namun pada masa lampau, sumber protein hewani itu belum mudah dijangkau, masih menjadi kemewahan.
Kisah getir itu terdengar dari pidato Soekarno pada 1952. Ketika itu ia mencemaskan asupan protein hewani rakyat Indonesia. Angkanya menyedihkan. Rata-rata hanya 4 gram per orang sehari. Ia membandingkan angka itu dengan negeri tetangga.
Warga Siam, yang saat ini dikenal sebagai Tailand, mengonsumsi 21 gram. Malaya yang sekarang kita sebut Malaysia, 14 gram. Indocina –Vietnam, Laos, Kamboja– 17 gram. Filipina 25 gram. Birma, yang sekarang kita memanggilnya dengan nama Myanmar, 32 gram.
Semua dua digit. Pada masa Soekarno itu hanya Indonesia yang tingkat konsumsi protein hewaninya berada pada taraf angka tunggal. “Karenanya kita telah menjadi satu bangsa yang lemah badan dan kurang dinamis,” ujar Soekarno.
Angka berubah setelah tujuh dekade berlalu. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026, rerata konsumsi protein masyarakat mencapai 62,86 gram per kapita per hari. Itu melampaui angka kecukupan gizi yang dianjurkan, yaitu 57 gram.
Namun, angka itu mencakup protein berbagai sumber, bukan hanya protein hewani yang menjadi perhatian Soekarno. Selain telur, susu, ikan, dan daging, protein juga berasal sumber nabati, seperti kacang-kacangan.
Perubahan itu bukan hasil sulap. Di balik angka itu ada kerja peternak, nelayan, pedagang, dan pengusaha pemasok pangan ke meja makan. Mereka bekerja di sentra-sentra pangan, salah satunya di Jawa Timur.
Provinsi yang baru merayakan Hari Jadi ke-81 ini merupakan produsen terbesar telur ayam ras dan susu sapi segar pada 2025. Daerah ini juga menjadi sentra perikanan tangkap laut terbesar di Indonesia.
Telur di Blitar
Pada 2025, Jawa Timur memproduksi telur ayam ras 2,03 juta ton. Sekitar 32 persen produksi nasional yang angkanya 6,31 juta ton. Produksi Jawa Timur dua setengah kali Jawa Tengah dengan 812,2 ribu ton. Hampir tiga kali Jawa Barat dengan 714,3 ribu ton.
Sebelum nangkring di rak kulkas, perjalanan telur cukup panjang. Ia bermula dari jutaan ayam di kandang-kandang peternak, baik skala kecil maupun besar. Sebagian berasal dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, salah satu sentra ayam petelur Indonesia.
Januari yang lalu, tercatat ada 3.618 peternak di Blitar. Ayam yang menghuni kandang-kandang di sana lebih dari 17 juta ekor. Pada 2025, telur yang dihasilkan 167.338,94 ton. Di balik angka itu, banyak keluarga yang menggantungkan hidup pada ayam petelur.

Salah satunya Suryono. Warga Suruhwadang, Kademangan, itu sudah 30 tahun mengalami pasang surut bersama ayam petelur. Ia menyaksikan peternak kecil tumbuh besar. Ia juga melihat kandang yang terpaksa gulung tikar.
“Kalau di lingkungan saya, ayam petelur itu mulai masuk dan berkembang di kisaran tahun 1984 sampai 1985,” kenang Suryono.
Suryono merangkak dari bawah. Merintis usaha dengan 500 ekor ayam. Kini, usahanya berkembang. Tak kurang 10.000 ekor ayam di kandang sudah menghasilkan uang untuk keluarganya.
Namun jalan tak selalu datar. Suryono juga merasakan jatuh bangun. Ia pernah melewati krisis ekonomi 1998 dan Covid-19. Dua masa yang menguji daya tahan dunia usaha, termasuk peternak ayam petelur.
Tiga dekade beternak membuat Suryono akrab dengan naik turun harga. Kadang melambung, tetapi bisa pula anjlok di bawah biaya produksi. Ketika harga pakan naik, ia harus memutar otak untuk menemukan cara bertahan.
Industri ini tak hanya berputar di kandang. Rantai usahanya panjang. Di Blitar itu, ada industri pemasok bibit ayam petelur. Penyedia ayam betina yang siap produksi. Penjual pakan. Dan penyedia tetek bengek peralatan peternakan. Komplit.
Dari kandang, telur menggelinding ke pasar. Disinilah keberadaan koperasi menjadi penting. Tidak hanya mengadakan pakan murah, melainkan juga menjadi penghubung peternak dengan pedagang dan jaringan distribusi. Koperasi membuka akses pasar.
Salah satu wadah usaha itu adalah Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Blitar. Telur produksi anggota koperasi ini sekarang sudah mengisi kulkas-kulkas warga Jakarta, Kalimantan, hingga kawasan Indonesia timur.
Susu Segar Pasuruan
Dari telur, sumber protein juga mengalir dari sapi perah. Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu kandang besar. Daerah ini menghasilkan susu segar dalam skala industri.
Kecamatan Tutur menjadi episentrum. Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan Nongkojajar menjadi penggerak. Tempat ini menjadi rumah bagi 11.400 peternak dari 16 desa di tiga kecamatan. Sekitar 7.000 di antaranya aktif menyetor susu.
Anggota Koperasi Setia Kawan memelihara 22.500 sapi perah. Mereka menghasilkan 110 ton susu segar dalam sehari. Koperasi yang sudah berumur 70 tahun ini menyalurkan susu-susu itu ke tujuh industri besar. Kini mereka berjuang memenuhi permintaan pasar.
“Kalau dari perusahaan, semuanya menginginkan 160 ton susu segar yang diproduksi dalam satu hari,” kata Ketua Koperasi Setia Kawan, Sulistiyanto, Juli lalu.

Di Jawa Timur, kandang sapi perah tidak hanya Pasuruan. Susu-susu segar juga mengalir dari sentra lain, mulai Kabupaten Malang, Tulungagung, Blitar, hingga Kota Batu. Susu kotak yang mengisi bagian bawah pintu lemari es kita itu mungkin juga berasal dari daerah-daerah itu.
Menurut data BPS, produksi susu sapi segar Jawa Timur pada 2025 mencapai 475.394,9 ton. Berada di atas Jawa Barat dengan 251.871 ton dan Jawa Tengah 75.336 ton. Jawa Timur menjadi pusat susu sapi segar dengan 57,9 persen dari produksi nasional yang mencapai 820.874,8 ton.
Hilirisasi Ikan di Muncar
Laut Jawa Timur juga menghasilkan protein hewani. Dari kandang ayam dan sapi perah itu, kita ke Banyuwangi. Jika main ke daerah Muncar, kita akan melihat deretan kapal berbagai ukuran. Ada sampan mungil. Slerek, perahu kayu berukuran jumbo, juga tersedia. Ada 1.500 kapal terdaftar.
Perjalanan ikan di Muncar tidak berhenti di pantai. Ceritanya tidak habis ketika perahu nelayan bersandar di pelabuhan. Tak semua ikan dijual segar ke pasar. Dari kapal para nelayan, sebagian masuk pabrik, diolah, dikemas, lalu dikirim ke pasar dunia dengan nilai jauh lebih tinggi.
Pabrik pengalengan ikan tumbuh di Muncar. Ada belasan. Pada Juli 2026, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melepas ekspor 405 ton ikan kalengan dari Muncar, terdiri dari makarel, tuna, dan 270 ton sarden senilai Rp10 miliar.
Ikan kalengan dikirim ke lima benua. Asia. Afrika. Eropa. Amerika. Australia. Jika kita membeli ikan kalengan di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Maroko, dan Aljazair, bisa jadi di kaleng kemasan tertulis nama Banyuwangi.
Industri ikan olahan itu kini ditunjang pabrik kaleng kemasan. Saat berkunjung pada Juli itu, Khofifah juga meresmikan pabrik kaleng kemasan dengan nilai investasi Rp200 miliar. Pabrik itu mampu menyerap 200 tenaga kerja. Produksinya masif. Sebulan sanggup membuat 50 juta kaleng. Setahun 600 juta kaleng.

Pabrik kaleng itu mengurangi ketergantungan impor, seperti yang dilakukan pada tahun yang sudah-sudah. Kaleng kemasan kini bisa dihasilkan di Muncar. Sehingga ongkos produksi pengolahan ikan turun 10 hingga 15 persen. Lebih efisien.
Di Banyuwangi, industri pengolahan ikan membentuk ekosistem. Berkelindan. Ujung proses itu memberi nilai tambah produk ikan sebelum dilepas ke pasar. Inilah salah satu bentuk nyata hilirisasi, istilah yang sekian tahun belakangan terasa lekat di telinga kita.
Pada sistem itulah Khofifah menyandarkan harapan. Ia berharap ekosistem ini membawa kemakmuran warga, khususnya Banyuwangi. “Semoga pasarnya semakin luas, semakin besar, sehingga industri hilirisasi ini terus berkembang,” tutur Khofifah, Juli lalu.
Pada 2025, produk perikanan telah menjadi penyumbang terbesar bagi ekspor Banyuwangi yang totalnya Rp3,9 triliun. Hingga Juli 2026, produk ikan olahan dalam kaleng masih tetap mendominasi.
Dan, Jawa Timur bukan hanya Banyuwangi. Pelabuhan ikan merubung wilayah ini dari pantai selatan hingga utara Jawa. Trenggalek. Malang. Situbondo. Probolinggo. Sumenep di Madura. Ada juga Lamongan yang menjadi penghasil ikan tangkap laut besar.
Daerah-daerah itu menjadi tempat ikan dilabuhkan. Dari sana pula diantar ke pasar, pabrik, hingga dikirim ke luar negeri. Catatan BPS tahun 2024 menulis produksi perikanan tangkap laut Jawa Timur 619,1 ribu ton. Jawa Tengah menghasilkan 528,3 ribu ton, Sulawesi Selatan 466,7 ribu ton. Jawa Timur berada di posisi teratas di antara provinsi itu.
Angka-angka yang kita baca itu bercerita banyak hal. Ia membawa kita dari kulkas ke kandang peternak, koperasi, kapal nelayan, hingga pabrik pengolahan ikan. Jawa Timur punya peran besar pada rantai pasok pangan nasional.
Cerita telur, susu, dan ikan, tidak usai saat diproduksi. Semua baru berarti ketika pangan bergizi itu bisa dijangkau. Bahan pangan itu semakin menemukan maknanya di tempat paling dekat dengan keluarga: kulkas kita. []






