Peringatan hari pangan sedunia jatuh hari ini. Jumat 16 Oktober. Kofifah terus dorong hilirisasi sektor pertanian. “Petani harus mendapatkan manfaat lebih besar dari hasil kerja kerasnya,” kata Gubernur Jawa Timur (Jatim) itu pada peringatan Hari Pangangan Sedunia di Surabaya.
Sudah sekian tahun ini Jatim dorong hilirisasi. Daerah itu bukan hanya jadi pusat hilirisasi tambang. Tapi juga hilirisasi hasil sawah. Hasil ladang. Hasil peternakan. Sanak saudara di provinsi lain menikmati hasilnya.
***
Kepada kita yang tinggal di Jakarta. Mungkin baiknya berterima kasih kepada Jawa Timur. Oleh karena sebagian suguhan di meja makan kita datang dari provinsi itu. Dari nasi, telur, hingga susu. Bukan hanya ibukota. Hasil ladang, sawah, serta peternakan provinsi paling timur di Pulau Jawa itu juga mengisi dapur belasan daerah di negeri ini.
Mari melihat yang di Jakarta. Tentu ada juga dari daerah lain. Beras kita datang dari Ngawi. Juga dari Madiun. Beras dari Jawa Timur masuk lewat Food Station Tjipinang Jaya. Atau lewat Perum Bulog. Dari sana beras itu mengalir ke pasar induk. Pasar ritel modern yang adem di mall. Jaringan rumah beras. Kita juga bisa beli lewat ecommerce. Tinggal buka layar seluler saja. Cepat. Ringkas. Bisa sambil duduk nonton CEO yang menyamar.
Dan ini sudah semenjak 2020. Provinsi itu jadi pemasok beras terbesar nasional. Kalahkan Jawa Tengah. Kalahkan Jawa Barat. Dan itu kata data dari BPS. Beras mereka bahkan mengisi dapur di 17 provinsi. Hingga berlabuh jauh ke ujung timur Indonesia, Papua.
Lalu mari melihat susu sapi. Yang saban pagi, jelang tidur, kita suguhkan untuk anak-anak. Ini data dari BPS juga. Masuk saja ke laman badan itu. Data ini dilansir 26 Februari 2026. Jawa Timur hasilkan 475,394.90 ton. Sekitar 57,9 persen dari total produksi susu nasional.

Di bawahnya menyusul Jawa Barat. Selisih cukup jauh. Di angka 251 ribu ton. Dan Jawa Tengah 75 ribu ton. Dan, Jawa Timur seperti berbagi sentra produksi. Tentu diorkestrasi Pemda. Kalau pasokan beras terbesar dari Ngawi dan Madiun, pasokan susu terbesar dari Pasuruan, Tulungangung, Blitar, Kediri, dan Kota Batu. Susu sapi segar dari Jatim itu diangkut masuk sejumlah pabrik raksasa.
Jika kita yang tinggal di Jakarta beli susu merek SGM dan Nestle, kemungkinan besar itu hasil olahan susu sapi dari Jawa Timur. Pasokan terbesar dua perusahaan ini datang dari daerah paling timur di Jawa itu. Nestle bahkan memilih bermitra. Langsung dengan ribuan peternak sapi dari daerah itu.
Argo Hub Jatim untuk Kita
Mungkin terlalu jauh ditarik, tapi mari sejenak mendengar Ray Dalio. Raymond Thomas Dalio. Begitu nama lengkapnya. Seorang miliarder. Seorang investor. Manager hedge fund tersohor di dunia. Lahir, 8 Agustus 1949 di New York. Lulus sekolah bisnis dari Harvard University.
Di usia 77 tahun dia masih rajin ke berbagai negara. Melayani undangan. Bicara tentang ekonomi dunia. Rabu, 12 Maret 2025 dia bicara di Singapura. Pada konferensi yang digelar CNBC. Dia cemas dengan perang dagang. Perang tarif Presiden Trump. Tahun lalu itu, dunia seperti kelimpungan gara-gara Presiden Amerika Serikat itu pasang tarif impor yang terlampau edan.
Dalio mengajak kita melihat sejarah. Pulang jauh ke tahun 1930. Demi menekan utang, mengerek revenue, Jerman dongkrak tarif barang masuk. Menjadi nasionalistik, menjadi proteksionist, kata Dalio, begitulah dunia saat itu berjalan. Dan mungkin terulang.
Dan warga dunia pernah cemas akan roti. Juga kita. Cemas akan terigu. Yang diolah jadi roti. Jadi mi instan. Kue, biskuit, dan pizza. Cemas oleh karena Rusia menyerbu Ukraina. Padahal negeri Zelensky itu pasok 10 persen gandum dunia. Jelai 13 persen. Pasok jagung dunia 15 persen. Pasok kebutuhan minyak bunga matahari 50 persen. Minyak si bunga ini sungguh diperlukan industri makanan. Juga industri kecantikan.

Dari perjalanan dunia di Jerman, dampak perang Rusia vs Ukraina, dan perang tarif edan-edanan Trump, Dalio menyarankan, “The shift toward inward-looking policies.” Bergeser kepada kebijakan yang berorientase ke dalam negeri.
Ray Dalio beberapa kali bertemu Presiden Prabowo Subianto. Dan pada pertemuan di Istana, 27 Maret 2026, Dalio dan Prabowo bicara soal Danantara. Sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Sekaligus motor kemandirian bangsa. Pada dunia yang terlihat cenderung proteksionis, kemandirian adalah cara agar dapur kita tidak tersungkur. Oleh ketergantungan kepada negara lain.
Argo Hub dari Jatim adalah tumpuan menuju kemandirian itu. Di bidang pangan. Itu lah sebabnya gubernur Khofifah menggeber si Argo Hub ini. Jadi program prioritas. Oleh karena inilah caranya perkuat peran daerah. Sebagai lumbung pangan nasional. Caranya? Hilirisasi semua produk pertanian.
Dan kita harus mengeja lagi kata ini: hilirisasi. Mengubah cara kita berdagang. Dari jual mentah jadi jual setengah jadi. Atau matang. Dari jual padi, jadi jual beras. Semua produk begitu. Mengapa? Karena dengan diolah, maka kita akan dapat nilai tambah. Harga lebih. Untung lebih besar. Begitu kata ilmu ekonomi. Begitu juga sejarah dunia bilang.
Korporasi Petani
Jawa Timur memiliki unit usaha pertanian perorangan tertinggi di Indonesia. Lihat data BPS berikut ini. Data dihimpun dari hasil sensus pertanian. Jawa Timur punya 5,6 juta unit. Jawa Tengah 4,3 juta. Dan Jawa Barat punya 3,2 juta unit. Jumlah tertinggi itu konsisten semenjak sekian tahun terakhir.
Dan para petani ini seringkali berada di posisi yang nelongso. Penjual paling murah. Pembeli paling mahal. Barang sampai ditangan mereka setelah melewati rantai panjang. Rantai ini mendorong harga naik. Mereka beli mahal. Untuk hasil ladang dan sawah mereka penjual pertama. Harga paling murah. Beli paling mahal. Jual paling murah.

Khofifah sungguh menyadari situasi ini. Itulah sebabnya dia mendorong apa yang disebut sebagai korporasi petani. Apa pula itu? Nah ini kelembagaan ekonomi petani. Bentuknya macam-macam. Intinya berbadan hukum. Dengan badan itu para petani tidak lagi sekedar membajak, tanam, nyiang, panen, lalu jual gabah. Mereka punya daya tawar. Skala mendekati perusahaan.
Dibantu Jatim hub, badan itu bisa masuk dari hulu hingga hilir. Dari bibit hingga pasar. Pada semua produk. Padi, jagung, tebu, holtikultura, daging, susu, telur, serta hasil perikanan.
Dengan cara ini, kata Khofiah pada peringatan Hari Pangan sedunia yang jatuh hari ini, “Petani mendapat manfaat dari kerja kerasnya.” Dan kisah kelabu sudah berlalu. Bahwa para petani bukan sekedar nyanyian tangan-tangan yang lelah oleh pupuk yang mahal dan murung tengkulak yang menantang, tapi di atas peluh mereka bisa bersenang. Selamat Hari Pangan Sedunia. []






