Tirai Piala Dunia 2022 akan disibak, Minggu (20/11/2022) malam. Pertandingan antara tuan rumah Qatar melawan Ekuador akan menjadi laga pembuka dari 64 laga hingga final 18 Desember 2022. Jika menilik lawannya, Qatar berpeluang menjadi tuan rumah pertama sepanjang sejarah yang tumbang di pertandingan pertama.
Sejarah mencatat, sejak 1930, tak pernah ada tuan rumah yang tumbang pada pertandingan perdana. Enam belas kali tuan rumah menang dan enam kali imbang. Khusus Piala Dunia 2002, dua tuan rumah memetik hasil berbeda: Korea Selatan menang 2-0 atas Polandia dan Jepang bermain imbang 2-2 dengan Belgia.
Menjadi tuan rumah juga tak otomatis memuluskan langkah jadi juara. Sepanjang sejarah Piala Dunia, hanya Uruguay pada 1930, Italia pada 1934, Inggris pada 1966, Jerman Barat pada 1974, Argentina pada 1978, dan Prancis pada 1998 yang mencapai sukses ganda di penyelenggaraan dan di atas lapangan hijau.
Prancis pada Piala Dunia 1938 terhenti di putaran kedua setelah kalah 1-3 dari juara bertahan Italia. Brasil lebih tragis lagi. Bermain dalam sistem setengah kompetisi di babak empat besar, Brasil hanya membutuhkan hasil imbang melawan Uruguay di pertandingan terakhir. Betapa tidak, sebelum pertandingan terakhir, Brasil berada di pemuncak grup dengan nilai 4 dan selisih gol 13-2. Uruguay berada di posisi kedua dengan nilai 3.
Bangsa Brasil percaya diri menyambut trofi dunia pertama. Namun gol Schiaffino dan Ghiggia memupuskan harapan. Uruguay menjadi juara setelah menang 2-1 atas Brasil.
Berikutnya pada 1954, Swiss terhenti di babak perempat final setelah dikalahkan Hongaria 5-7. Empat tahun kemudian, Swedia lebih mending. Liedholm dan kawan-kawan kalah 2-5 di babak final dari Brasil.
Chile, tuan rumah pada 1962, membuat kejutan dengan menjadi runner up Grup II, menyisihkan Italia dan mengalahkan Uni Soviet 2-1 di babak perempat final. Di sebuah negara yang baru saja dihantam bencana alam hebat, menjuarai Piala Dunia tentu tak ubahnya penghiburan. Namun langkah Sanchez dan kawan-kawan harus terhenti di semifinal dan kalah 2-4 dari Brasil. Chile berhasil merebut tempat ketiga setelah mengalahkan Yugoslavia 1-0.
Tahun 1970, Meksiko tersisih di babak perempat final setelah dikalahkan Italia 1-4. Piala Dunia 1982 diselenggarakan di Spanyol. Bermain di Santiago Bernabeu, tuan rumah menjadi juru kunci Grup B dan terhenti di putaran kedua.
Piala Dunia 1986 kembali digelar di Meksiko. Lagi-lagi tuan rumah terhenti di perempat final setelah dikalahkan Jerman Barat 1-4 melalui adu penalti. Empat tahun berikutnya, peluang menjadi juara tak bisa dimanfaatkan tuan rumah Italia. Schillaci dan kawan-kawan hanya meraih tempat ketiga setelah mengalahkan Inggris 2-1.
Tak ada yang memperhitungkan Amerika Serikat saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994. Mereka dikalahkan Brasil 0-1 di putaran kedua.
Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah bersama pada 2002. Mereka gagal menjadi juara, tentu saja. Namun tim nasional dua negara itu, terutama Korea Selatan, membuat sejumlah kejutan. Korea Selatan menjuarai Grup D setelah mengalahkan Polandia 2-0 dan Portugal 1-0. Jepang pun demikian. Tim Samurai Biru merajai Grup H dengan mengalahkan Rusia 1-0, Tunisia 2-0, dan menahan imbang Belgia 2-2.
Jepang terhenti di putaran kedua setelah kalah 0-1 dari Turki. Namun keajaiban Korea Selatan masih berlanjut dengan mengalahkan Italia 2-1 di putaran kedua, dan menghentikan Spanyol 5-3 melalui adu penalti di babak perempat final.
Baru Jerman yang berhasil menghentikan mimpi Korea Selatan dengan skor 1-0 di semifinal. Korea juga gagal merebut posisi ketiga setelah kalah 2-3 dari Turki.
Tahun 2006, giliran Jerman yang bertekuk lutut di kandang sendiri. Mereka hanya merebut tempat ketiga setelah mengalahkan Portugal 3-1. Tahun 2010, Afrika Selatan menjadi tuan rumah berkat lobi Nelson Mandela. Namun Mandela tak bisa membantu penampilan di atas lapangan hijau. Afrika Selatan terhenti di babak penyisihan setelah menduduki peringkat ketiga Grup A.
Namun tak ada tuan rumah yang gagal dengan sangat menyedihkan selain Brasil pada 2014. Dijagokan banyak orang, mereka justru dihancurkan Jerman 1-7 di semifinal. Ini kekalahan dengan skor terbesar dalam sejarah semifinal Piala Dunia. Kekalahan ini merontokkan mental pemain Brasil dan pada perebutan tempat ketiga mereka kalah 0-3 dari Belanda.
Empat tahun kemudian Rusia menjadi tuan rumah. Setelah berhasil mengalahkan Spanyol di babak kedua, mereka dikalahkan Kroasia melalui adu penalti.
Bagaimana dengan Qatar? Satu grup dengan Ekuador, Senegal, dan Belanda, satu-satunya target realistis pasukan Felix Sanchez ini adalah menghindari posisi juru kunci agar tidak terlampau memalukan. Kemungkinan itu bisa terwujud jika bisa mengalahkan Ekuador.
Qatar akan lebih disibukkan menjadi tuan rumah yang baik di tengah kontroversi yang menerpa sejak terpilih menjadi tuan rumah. Pemilihan Qatar menjadi tuan rumah dianggap bermasalah, karena negara itu tak punya tradisi dan infrastruktur sepak bola memadai. Belum lagi isu hak asasi manusia dalam pembangunan infrastruktur stadion berkali-kali menghantam. Seruan boikot terdengar di mana-mana, walau hanya sebatas di bibir dan spanduk.
[berita-terkait number=”4″ tag=”piala-dunia”]
Namun ini masalah politik. Bukan hanya masalah sebelas lelaki melawan sebelas lelaki dalam 90 menit pertandingan. Dalam buku The Fall Of The House Of FIFA, jurnalis investigatif David Conn menulis: Michel Platini yang saat itu menjabat Presiden UEFA memilih Qatar setelah acara jamuan makan dengan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan putra pemimpin Qatar, Pangeran Tamim bin Hamad Al Thani, pada 2013.
Sarkozy jelas menginginkan Platini mendukung Qatar jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Dia juga diminta membujuk Qatar membeli klub Paris Saint-Germain yang tengah mengalami kesulitan finansial saat itu. Menurut Conn, Sarkozy tengah mengupayakan kesepakatan dagang dengan Qatar untuk menyelamatkan ekonomi Prancis selama krisis keuangan yang melanda Eropa dan Barat.
Nick Holt, dalam buku The Mammoth Book Of The World Cup menyebut, pemilihan Qatar menjadi tuan rumah adalah keputusan terburuk. “Saya bukannya tak ingin Piala Dunia digelar di Timur Tengah, tapi setidaknya pilihlah negara yang punya uang dan derajat sepak bola yang benar. Kenapa bukan Mesir saja?” tulisnya.
Jadi, begitulah. Qatar lebih menarik dibicarakan dari aspek politik sepak bola ketimbang permainan tim nasionalnya. [wir/but]






