Kamus Besar Bahasa Indonesia daring di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan ironi sebagai ‘kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir’; dan majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya.
Namun dalam Liga 1 Musim 2023-24, ironi bisa didefinisikan singkat saja: Persebaya. Bersyukur atas hasil pertandingan tim lain pada pekan ke-32, sementara Persebaya kalah 1-3 dari Persib dalam pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (20/4/2024), jelas sebuah ironi.
Dengan tiga gol yang dilesakkan sang mantan pemain, David da Silva, pada menit 43, 67, 87, dan dibalas Dusan Stevanovic pada menit 58, sebenarnya saat itu Persebaya belum memasuki zona aman dari degradasi. Dibutuhkan setidaknya dua poin lagi untuk benar-benar memastikan lolos dari degradasi.
Persebaya baru mengantongi 39 angka dan menyisakan dua pertandingan kandang yang tak mudah, yakni melawan Bali United dan Persik Kediri. Namun akun ofisial Persebaya di X mengabarkan, bahwa: ‘…hari ini Persebaya juga patut bersyukur karena dipastikan aman dari degradasi. Itu tidak lepas dari hasil seri 1-1 Persita lawan Persik. Dengan demikian, Persita maksimal meraih 39 poin, jika terus menang di dua laga sisa, sama dengan poin Persebaya saat ini’.
Selama berkompetisi di Liga 1 sejak musim 2018, inilah ironi terbesar Persebaya. Bahkan, mungkin bukan hanya ironi, tapi juga komedi. Tim yang awalnya dipercaya bisa juara, namun di akhir musim nasibnya berada di tubir jurang dan tergantung dengan hasil pertandingan tim lain, jelas patut diketawakan dengan pahit. Pengumuman dari akun resmi klub dengan kalimat penuh syukur menunjukkan betapa jauh Persebaya terjatuh.
Saya kira semua Bonek tidak ada yang menyangka Persebaya berada dalam situasi seperti yang dihadapi Everton di Liga Primer Inggris. Sebagaimana Everton di Inggris, Persebaya menjadi satu dari sejumlah klub pendiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang berulang tahun setiap April. Sementara Everton selain ikut mendirikan Liga Inggris pada 1888, juga menjadi bagian dari pendiri Liga Primer Inggris pada 1992.
Masalahnya hari ini, nama besar dan status legendaris saja tidak cukup untuk membuat Persebaya dan Everton disegani. Tak ada lagi yang memperbincangkan Everton dan Persebaya dengan rasa gentar. Dalam video dokumenter tentang Manchester City, ada adegan Pep Guardiola mendiskusikan pertandingan melawan Liverpool pekan berikutnya justru pada saat pertandingan tandang melawan Everton hendak dimulai.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan manajemen dan fans Everton saat menyaksikan tayangan video itu. Betapa jauhnya mereka terpuruk dari puncak legenda.
Sementara itu pertandingan Persebaya sudah tak lagi dipandang sebagai pertandingan besar oleh fans klub lain. Berada di peringkat 12, Persebaya tak lagi menarik perhatian.
Hanya 11.321 kursi dari kapasitas 27 ribu kursi yang terisi di Si Jalak Harupat dalam pertandingan hari itu. Masih kalah dibandingkan jumlah penonton kandang saat Persib melawan Madura United (14.769 orang), melawan Persis Solo (20.260 orang), atau melawan Persik Kediri (24.925 orang).
Bonek sendiri sudah tak terlampau antusias membicarakan Persebaya. Tak ada gairah dan harapan besar untuk menang saat menyaksikan Persebaya di televisi atau langsung di stadion. Tak ada lagi permainan yang rancak. Menyaksikan Paulo Henrique berlarian di zona pertahanan Persib seperti menonton komedian tunggal sedang berdiri menghibur suporter lawan yang tak cemas bakal kebobolan.
Paul Munster berjanji merombak Persebaya musim depan agar tampil lebih baik. Namun mau bagaimana lagi? Hati yang jengkel tak bisa ditipu dan dihibur dengan harapan tentang hari esok. Satu-satunya harapan yang bisa dipercaya adalah matahari terbit di timur pada esok hari dan tenggelam di ufuk barat. Bukan ironi. Bukan komedi. Ini story. [wir]






