Surabaya (beritajatim.com) – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.
Penolakan tersebut terjadi saat krisis minyak global memasuki pekan keempat, menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Dampak konflik ini tidak hanya bersifat geopolitik, tetapi juga mengguncang sistem energi dunia. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut situasi saat ini sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak”, yang memicu respons darurat dari berbagai negara, mulai Eropa hingga Asia Tenggara.
Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, 20% Pasokan Dunia Terdampak
Salah satu titik krusial dalam krisis ini adalah Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi energi global. Sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati jalur tersebut.
Namun kini, aktivitas pelayaran di kawasan itu hampir berhenti total. Data BBC Verify yang mengutip analisis Kpler menunjukkan lalu lintas kapal anjlok hingga 95%, dari sekitar 138 kapal per hari menjadi hanya lima hingga enam kapal.
Kondisi ini memaksa negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Harga Minyak Melonjak, Dampak Lebih Parah dari Perang Ukraina
Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD 73 per barel kini melesat melampaui USD 100. Meski sempat turun setelah proposal damai AS diajukan, pasar kembali bergejolak setelah Iran menolaknya.
CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan bahwa krisis ini berdampak lebih besar dibanding invasi Rusia ke Ukraina.
Ia menyatakan, “akan membutuhkan waktu untuk membangun kembali persediaan jenis minyak mentah yang tepat dan jenis bahan bakar yang tepat,” bahkan jika jalur distribusi kembali normal.
Dampak krisis terasa paling cepat di Asia. Filipina menetapkan darurat energi nasional setelah stok bahan bakar diperkirakan hanya cukup untuk 45 hari. Harga solar bahkan melonjak hingga dua kali lipat, melampaui 120 peso per liter.
Sementara itu, Sri Lanka kembali menerapkan sistem penjatahan BBM berbasis QR code dan menetapkan hari libur nasional setiap Rabu untuk menekan konsumsi energi.
Di Asia Timur, Jepang mengumumkan pelepasan hampir 80 juta barel dari cadangan minyak strategis—terbesar sepanjang sejarahnya. Korea Selatan juga mulai memberlakukan pembatasan harga bahan bakar untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun.
Di Eropa, Slovenia menjadi negara Uni Eropa pertama yang memberlakukan penjatahan BBM, sementara Spanyol menggelontorkan paket bantuan senilai €5 miliar untuk menahan dampak krisis energi.
Efek Domino ke Industri dan Transportasi
Krisis ini meluas ke berbagai sektor industri. Raksasa kimia asal Jerman, BASF, menaikkan harga bahan baku hingga 30%, sementara Lanxess menaikkan harga bahan produksi ban hingga 50%.
Di sektor penerbangan, maskapai nasional Vietnam mulai mengurangi hampir 20 penerbangan domestik per minggu akibat keterbatasan bahan bakar jet.
Negosiasi Masih Buntu
Upaya diplomasi yang dimediasi oleh Turki, Mesir, dan Pakistan masih belum membuahkan hasil.
Pemerintah Amerika Serikat mengklaim pihaknya “sangat dekat” dengan tujuan militernya. Namun dengan Iran tetap menolak proposal gencatan senjata dan Selat Hormuz masih terblokade, masa depan pasokan energi global masih diliputi ketidakpastian.
“Rantai pasokan fisik tidak merespons dengan segera,” ujar Wirth, menegaskan bahwa dampak krisis ini kemungkinan akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. (ted)






