Internasional

Berusia 1441 Tahun, Ini Sejarah Masjid Nabawi

Komplek Masjid Nabawi di Kota Madinah Arab Saudi. [Foto: Getty Imag]

Masjid Nabawi, tempat paling suci kedua bagi umat Islam, setelah Masjidil Haram di Mekah, adalah masjid yang dibangun semasa Nabi Muhammad. Masjid ini pertama kali dipasangi listrik pada 1909 bersamaan dengan pemasangan lampu di Semenanjung Arab, menurut Sultan Ghalib Al Quaiti, dalam bukunya, “Kota-Kota Suci, Perjalanan Ibadah dan Dunia Islam”.

Sebagaimana dilansir BBC, Nabi Muhammad membangun masjid ini pada tahun pertama setelah hijrah dari Mekah ke Madinah – yang saat itu bernama Yathrib. Al-Masjid Al-Nabawis, nama Arab masjid ini adalah tempat ibadah kedua yang dibangun di Madinah.

Masjid pertama adalah Quba, kata Safiurrahman Al-Mubakarakfuri dalam buku tentang biografi Nabi Muhammad, “The Sealed Nectar”. Tahun 632 masehi, 1441 tahun lalu, dan telah melalui berbagai perencanaan dan perluasan selama lebih dari 1.400 tahun.

Perluasan terbesar diperintahkan oleh almarhum Raja Abdullah dan masih berlangsung sampai sekarang. Setelah perluasan selesai, masjid diharapkan dapat menampung sekitar 1,8 juta jemaah.

Raja Saudi adalah penjaga Masjid Nabawi dan juga Masjidil Haram, tempat suci utama umat Islam di Mekah.
Salah satu masjid terbesar di dunia ini dibangun dengan dekorasi megah ini dan dilengkapi dengan teknologi canggih. Arab Saudi menghabiskan miliaran riyal dalam perluasan ini.

Kunjungan ke masjid ini merupakan bagian dari ibadah haji dan umrah, namun sebagian besar jemaah selalu ingin berziarah ke makam Nabi Muhammad.

Luas masjid pada awalnya hanya sekitar 30×35 meter, menurut Zafar Bangash, dalam buku “Sejarah Masjid Nabawi dan Kubah Hijau” yang diterbitkan dalam majalah bulanan Institute of Contemporary Islamic Thought (ICIT). Perluasan dilakukan beberapa kali untuk menampung jemaah.

Profesor Dr Spahic Omer, dalam makalahnya yang berjudul “Nabi Muhammad SAW dan urbanisasi Madinah” mengatakan masjid itu kini sekitar 100 kali lebih besar dari ukuran asli dan lokasinya mencakup hampir semua kawasan kota tua Madinah.

Spahic mengatakan pagar masjid kini berbatasan dengan pemakaman Janatul Baqi, pemakaman yang pada masa Nabi hidup terletak di pinggiran kota Madinah. Perluasan yang diperintahkan Raja Abdullah pada 2012 akan dapat menampung sekitar dua juta jemaah.

Menteri Keuangan Saudi Ibrahim Al-Assaf, mengatakan gedung masjid mencakup luas 1.060 x 580 meter, dan termasuk pelataran mencapai 1.300 x 785 meter, dengan kapasitas satu juta jemaah di dalam dan 800.000 di pelataran masjid.

Arab News melaporkan mengutip juru bicara masjid Sheikh Abdulwahed Al-Hattab yang mengatakan bahwa Raja Abdullah meminta pemasangan 250 payung otomatis di area sekitar 143.000 meter untuk melindungi jemaah dari sinar matahari atau hujan. Sheikh Hatab mengatakan lebih dari 3.200 orang bekerja untuk membersihkan masjid.

Beberapa gedung dan bangunan utama yang ada di sekeliling Masjid Nabawi adalah pemakaman Jannatul Baqi. Ini merupakan tempat pemakaman bagi ratusan sahabat Nabi. Bangunan lain di sekitar masjid adalah berbagai kantor pemerintah dan fasilitas kesehatan, hotel mewah, pusat perbelanjaan dan jalan-jalan utama.

Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dikelola oleh Badan Presidensi Umum untuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sedangkan penjaga kedua masjid adalah tanggung jawab Istana. Salah satu gelar raja Arab Saudi adalah Penjaga Dua Masjid Suci, menurut Dr. Zarewa.

Nabi Muhammad adalah yang pertama menjadi imam di Masjid Nabawi. Sesudah ia wafat. para sahabat dan generasi penerus yang memimpin salat. Nabi Muhammad sendiri tidak punya wakil imam, sekalipun terkadang ia memerintakan Abu Bakar untuk menjadi imam bagi para sahabat yang lain.

Komplek Masjid Nabawi di Kota Madinah Arab Saudi. [Foto: Getty Imag]
Namun pernah Nabi masuk masjid ketika Abu Bakar sedang menjadi imam, Abu Bakar mundur dan Nabi kemudian menggantikannya. Sesudah Nabi wafat, Abu Bakar menjadi khalifah pertama, dan Imam di Madinah.

Saat ini, Sheikh Abdul Rahman Al-Hudaify merupakan imam masjid, walaupun pada tanggal 11 Oktober 2019, kerajaan mengumumkan dua imam lagi, Sheikh Ahmed Hudaify, putra imam sekarang dan Sheikh Khalid Al Muhanna. Imam-imam pembantu lain juga ditunjuk, khususnya untuk berjaga selama salat Tahajud.

Dari Dr. Zarewa kita mengetahui nama-nama imam di Masjid Nabawi, antara lain: Sheikh Abdulrahman Ali Hudhaify, Sheikh Abdul Bari Ath Thubaiti, Sheikh Salaah Budair, Sheikh Abdullah Buayjaan, Sheikh Ahmad Al Hudhaify, Sheikh Ahmad Taleb Hameed, Sheikh Hussain Aal Sheikh, Sheikh Imaad Zuhair Hafiz, dan Sheikh Khalid Al Muhanna

Muazin pertama di Masjid Nabawi adalah Bilal Bin Rabah, yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad.
Masjid ini kini punya 17 muazin menurut muazin utama, Sheikh Abdul Rahman Khashogji, seperti dilaporkan surat kabar Al-Riyad. Setiap hari tiga muazin bergantian menyerukan azan dari “Mukabbariyyah”, tempat khusus azan dan mengulangi takbir yang dilakukan imam saat salat.

Berikut adalah nama-nama muazin yang berhasil kami dapatkan:Sheikh Adul Majeed Surayhi, Sheikh Abdul Rahman Kashukji, Sheikh Abdullah Hattab Al Hunaini
Sheikh Adil Katib, Sheikh Ahmed Afifi, Sheikh Ahmed Ansari, Sheikh Anas Sharif, Sheikh Ashraf Afifi, Sheikh Esam Bukhari, Sheikh Faisal Noman, Sheikh Hassan Kashukji, Sheikh Iyad Shukri, Sheikh Mahdi Bari, Sheikh Muhammad Majid Hakeem, Sheikh Muhammmad Qassas, Sheikh Sami Dewali, Sheikh Saud Bukhari, Shiekh Umar Kamaal, Sheikh Umar Sunbul, Sheikh Usaama Akhdar

Menurut Mubarakfuri, Nabi tiba di Madinah (dahulu bernama Yatsrib), membeli lahan seharga 10 Dinar, yang dipakai untuk mengeringkan kurma, dari dua orang yatim yaitu Sahl and Suhail. Lahan itu merupakan tempat pertama unta Nabi Muhammad berhenti di Madinah.

Nabi ikut serta secara langsung dalam pembangunan masjid, membuat dinding lumpur di atas fondasi batu. Pelepah kurma digunakan untuk menutup sebagian atap.
Awalnya masjid itu memiliki tiga pintu dan menghadap Masjid Al-Aqsa — kiblat pertama — sebelum diubah menghadap Kabah di Mekkah.

Di bagian belakang masjid ada tempat yang teduh untuk menampung orang miskin dan orang asing, namanya “Al-saffa”. Ketika para sahabat meminta Nabi untuk memperkuat atap dengan lumpur, beliau menolak. Lantai masjid tidak ditutupi dengan apa pun hingga tiga tahun kemudian.

“Luas awal masjid adalah 1.050 meter persegi sebelum diperluas menjadi 1.452 meter persegi atas perintah Nabi, tujuh tahun sesudah Hijrah,” kata juru bicara masjid.

Lokasi rumah Nabi awalnya berada di samping masjid dan di sanalah Nabi wafat dan dimakamkan – di ruang Aisyah. Dr. Zarewa mengatakan, ketika Nabi Muhammad wafat para sahabat berunding di mana Nabi akan dimakamkan. Abu Bakar memberi tahu, Nabi pernah bersabda bahwa para nabi dimakamkan di tempat di mana Allah mencabut nyawa mereka.

Maka, Nabi pun dimakamkan di kamar yang menjadi ruang bagi istrinya, Aisyah. Ketika Abu Bakar sakit, ia meminta izin Aisyah agar bisa dimakamkan di dekat makam Nabi Muhammad, dan Aisyah setuju. Umar bin Khattab — khalifah kedua — juga mengajukan permintaan yang sama dan Aisyah, yang merupakan anak Abu Bakar, juga mengizinkan.

Perluasan masjid selama berabad-abad membuat kamar, makam dan bangunan di samping masjid kini menjadi bagian dari masjid. Kubah Hijau yang terkenal kini terletak di dalam kamar ini.

Masjid dibangun dengan arsitektur dan teknologi yang menakjubkan, dengan presisi dan kemegahan di seluruh gedung. Keindahan masjid ini ada pada teknologi, arsitektur, pengelolaan, efisiensi dan presisinya, mulai dari interior sampai bagian luarnya.

Mulai dari dalam gedung hingga ke halaman, dan atap gedung, masjid ini dipenuhi berbagai ornamen yang memanjakan mata. Dari ukuran dan tinggi, kubah dan menara, halaman dan kanopi, atap dan langit-langit serta sistem pengeras suara, pendingin, dinding dan lantai, pintu dan tangga, pilar bahkan karpet.Semuanya mengandung keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Juru bicara Masjid Nabawi, Sheikh Abdulwahed Al-hattab, mengatakan kompleks bangunan dan halaman masjid dilengkapi dengan 250 payung otomatis yang dipasang untuk melindungi jemaah dari cuaca panas dan hujan.

Setiap payung dilengkapi sistem pengairan tersendiri dan bisa melindungi sekitar 800 jemaah, menutupi ruang seluas 143 meter persegi.

Masjid memiliki setidaknya 41 gerbang. Di atas setiap pintu, terdapat plakat batu dengan aksara Arab: “Masuklah dengan damai dan aman” (diambil dari Surat Al-hijr, 15:46). Jumlah keseluruhan pintu adalah 85.

Beberapa gerbang memiliki pintu satu, dua, tiga atau bahkan lima. Nama-nama gerbang yang kami dapatkan dari Badan Presidensi Umum untuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan madainproject.com: Bab Al-salam, Bab Abubakar Siddiq, Bab Al-rahmah, Bab Al-hijrah, Bab Quba, Bab Al-malik Sa’ud, Bab Imam Al-bukhari, Bab Al-aqiq, Bab Al-sultan Abdulmajid, Bab Umar bn Al-Khattab, Bab Badr, Bab Al-malik Fahd, Bab Uhud, Bab Usman bin Affan, Bab Ali bn Abi-Thalib, Bab Abu-zar, Bab Al-imam Muslim, Bab Al-malik Abdulaziz, Bab Makka, Bab Bilal, Bab Nisa’, Bab Jibril, Bab Al-baqi’, Bab Al-ana’iz, Bab Al-a’imma.

Ukuran awal masjid ketika dibangun oleh Nabi Muhammad di tahun pertama Hijriah adalah 1.050 meter persegi, dan diperluas hingga 1.452 meter persegi atas perintah Nabi ketika beliau baru kembali dari Khaybar, pada tahun 7 Hijriah. Renovasi dan pengembangan terus dilakukan sejak masa Umar bin Khattab, kemudian ke khalifah Usman, pemerintahan Bani Umayyah, Abbasiah, hingga masa kekhalifahan Usmani dan era Arab Saudi.

Selain peningkatan populasi di Madinah, landasan asli masjid dipertahankan sebagai sumbu dalam perluasan ke berbagai arah. Menurut Dr. Zarewa, keutamaan masjid ini bagi Muslim adalah salat yang dilaksanakan di sini pahalanya 1.000 kali lipat daripada di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Tambahan lagi, Masjid Nabawi adalah satu dari tiga masjid yang dianjurkan dikunjungi oleh Muslim dengan menempur perjalanan jauh. Jutaan Muslim mengunjungi masjid ini dalam kesempatan menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Dr. Zarewa mencatat bahwa Khalifah Umar pernah mengatakan tak apa memperluas masjid ini bahkan hingga sampai Suriah, selagi masih di atas fondasi awalnya.
Dalam makalah berjudul “Nabi Muhammad SAW dan urbanisasi Madinah”, Dr. Spahic Omer mengatakan masjid ini kini luasnya 100 kali lipat ukuran aslinya dan tersebar hingga hampir menutupi kota tua Madinah.

Profesor Omer menjelaskan bahwa pagar luar masjid kini merupakan batas Janatul Baqi, pemakaman yang pada masa Nabi terletak di kawasan luar kota Madinah. Perluasan pertama dilakukan di era khalifah Umar, dengan membeli lahan di kawasan barat, selatan dan utara masjid.

Penerus Umar, Usman, juga melakukan perluasan masjid setelah melakukan konsultasi dengan para sahabat pada 29 H atau pada tahun 650. Perluasan terus dilakukan di era kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah yang membuat luas masjid bertambah menjadi 8.890 meter persegi dengan 60 jendela dan 24 pintu.

Di era Usmani, juga dilakukan renovasi dan perluasan.
Pada era Saudi, Raja Abdulazeez Al-saud pada 1950 memerluas masjid menjadi 16.327 meter persegi, dengan 706 tiang dan 170 kubah.

Terus bertambahnya pengunjung mendorong Raja Faisal pada 1973 mengalokasikan area seluas 35.000 meter persegi di barat masjid untuk mendukung kegiatan di masjid tersebut. Perluasan terbesar dilakukan pada 2012 atas perintah mendiang Raja Abdullah agar masjid bisa menampung sekitar dua juta jemaah.

Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim Al-Assaf, menyatakan gabungan luas masjid dan plaza nantinya 1.020.500 meter persegi, dengan rincian kapasitas masjid dan plaza masing-masing satu juta dan 800.000 jemaah.

Menurut juru bicara Badan Pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Sheikh Abdulwahed Al-hattab, Raja Abdullah memerintahkan pemasangan 250 payung besar yang melindungi area seluas 143.000 meter persegi.

Kanopi otomatis ini melindungi jemaah dari terpaan matahari dan hujan. Menurut Sheikh Hattab, ada 3.200 pekerja yang membersihkan masjid itu.

Fase ketiga pengembangan masjid sedang dilakukan dan pada tahun 2040 diharapkan bisa menampung tambahan 1,2 juta jemaah.

Mimbar Nabi, tempat Nabi Muhammad menyampaikan khotbah, merupakan salah satu tempat paling dianggap berharga di Masjid Nabawi. Mimar pertama di masijd dibuat dari kayu kurma dan punya tiga anak tangga, menurut Al-mubarakfuri.

Khalifah penerus Nabi juga menggunakan mimbar saat menyampaikan khotbah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, mereka menyampaikan khotbah dari anak tangga kedua. Khalifah Usman sempat menyampaikan khotbah dari anak tangga pertama, namun kemudian ia melakukannya dari tangga ketiga, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad.

Mimbar Nabi hancur ketika terjadi kebakaran pada 886 H. Kemudian mimbar dibuat dengan bata, lalu pada Sultan Qaitbay dari dinasti Mamluk mengirimkan marmer putih untuk menggantinya.

Masjid Nabawi punya beberapa mihrab, tempat imam memimpin salat. Yang pertama adalah mihrab asli atau Mihrab Nabawi yang digunakan oleh Nabi Muhammad saat masjid ini masih dalam keadaan aslinya.

Letaknya dekat dengan mimbar Nabi, dan kini dekat dengan Al Raudah dan Mukabbariyya, tempat mengumandangkan azan.

Mihrab kedua adalah Mihrab Usmani, yang masih digunakan sekarang. Mihrab ini dibangun saat perluasan masjid pada era khalifah Usman, terakhir kalinya dilakukan perluasan ke arah utara masjid.

Mihrab ketiga, menurut Dr. Akhter, disebut sebagai Mihrab Suleymaniyah atau Mihrab Ahnaf, yang dibuat atas perintah Sultan Sulaiman.

Imam dari mazhab Hanafi memimpin salat dari mihrab ini, sementara imam dari mazhab Maliki memimpin dari Mihrab Nabawi.

Al Raudah ini adalah taman yang terletak di antara mimbar dan rumah Nabi Muhammad. Nabi pernah bersabda — dicatat di Shahih Bukhari — diriwayatkan oleh Abu Hurairah “Antara rumahku dan mimbar, ada potongan taman dari Surga”. Al Raudah terbuka bagi pengunjung dengan waktu terpisah untuk kunjungan laki-laki dan perempuan. Biasanya pengunjung melakukan salat sunah di sana, sebelum mengucapkan salam ke arah makam Nabi.

Dengan perluasan dan renovasi Masjid Nabawi, Al Raudah kini dihiasi dengan dekorasi seperti karpet dan berbagai ornamen. Badan Pengelola menyatakan luas Al Raudah adalah 330 meter persegi, dengan panjang 22 meter dan lebar 15 meter. Di area ini selalu ada petugas keamanan dan kebersihan.

Kubah Hijau adalah salah satu monumen paling mencolok di Masjid Nabawi. Kubah ini dibangun di atas ruang yang menjadi tempat makam Nabi Muhammad.

Al Samhudi dalam “Wafa Al-Wafa” mengatakan kubah pertama dibangun di situ sesudah 650 tahun, pertama kalinya pada tahun 1279 (678 H) oleh Sultan Qalawun, terbuat dari kayu. “Kubah Hijau yang kita lihat sekarang ini sebetulnya adalah kubah bagian luar. Ada kubah bagian dalam yang lebih kecil, dan ada nama Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar terukir di dalamnya,” kata Dr. Akhter.

Kubah itu berbentuk persegi di dasar, dan persegi delapan dari atas serta direnovasi setelah terbakar beberapa kali. Menurut Ensiklopedi Al Jazeera, Sultan Ghazi Mahmud pada masa kekhalifahan Usmani sempat membangun ulang kubah itu.

Badan Pengelola mengatakan perpustakaan dibangun di Masjid Nabawi pada tahun 1352 Hijriah atas usul Direktur Awkaf Madinah, Obaid Madani ketika itu.

Beberapa buku bertarikh sebelum perpustakaan dibangun seperti Maktabah Sheikh Mohammed Aziz Al-Wazir, tahun 1320 H. Buku ini termasuk yang dibawa ke sana sesudah perpustakaan dibangun.

Selain ruang baca, perpustakaan memiliki Ruang Audio (Seks i17), untuk menyimpan materi kuliah, khotbah dan salat. Sedangkan Bagian Teknis (terletak di pintu 22) bertugas dalam penjilidan, restorasi dan sterilisasi naskah-naskah tua.

Seksi Buku Langka menyimpan buku langka dari segi usia pencetakan, dekorasi, bentuk, gambar dan sebagainya.

Seksi lain termasuk juga Seksi Naskah, Perpustakaan Digital, Riset dan Penerjemahan, Keamanan dan Keselamatan, Hadiah dan Penukaran serta Seksi Sirkulasi dan seksi-seksi lain.

Perpustakaan ini memiliki ruang baca untuk pria, perempuan dan anak-anak. Terletak di dalam masjid, di lingkaran kedua Bab Usman, bisa digunakan oleh semua pengunjung.

Masjid Nawabi, salah satu masjid terbesar di dunia, dihias dengan dekorasi menakjubkan dan teknoogi yang penuh presisi yang memakan biaya miliaran riyal untuk rekonstruksi, pengembangan dan dekorasi. Masjid ini menampung jutaan Muslim setiap tahunnya, terutama saat bulan Ramadan dan musim Haji.

Penjaga masjid, raja Arab Saudi, terus berupaya memperindah dan mempernyaman masjid ini. Kunjungan ke masjid tidak menjadi bagian dari ibadah haji dan umrah, tapi para jemaah umumnya tidak puas melakukan ibadah tersebut tanpa mengunjungi Masjid Nabawi, berada di dalamnya dan mengucapkan salam ke arah makam Nabi Muhammad. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar