Surabaya (beritajatim.com) – Bulan Suro atau Muharram merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Hijriyah. Dalam tradisi Jawa, bulan Suro diyakini sebagai waktu yang penuh nuansa mistis dan sakral. Sementara dalam Islam, Muharram termasuk ke dalam empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim). Hadis ini menjadi pengingat bahwa Muharram adalah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah seperti puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram).
Almagfurlah KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen dalam sebuah video pengajian di kanal YouTube PP Al Anwar Sarang, menyampaikan bahwa dari dua belas bulan dalam Islam, empat di antaranya memiliki kemuliaan khusus.
“Bulan itu banyaknya adanya 12 dan yang mulia banyaknya ada empat, Muharram, Rajab, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah,” terang Mbah Moen.
Beliau juga menjelaskan bahwa dari empat bulan tersebut, ada dua yang bisa menjadi jalan mendekat kepada Allah, yaitu Rajab dan Muharram. Dalam sabda Rasulullah disebutkan: “Rojabun syahrullah wal muharramu syahrullah” yang artinya Rajab adalah bulannya Allah dan Muharram pun bulannya Allah.
“Yang dua lainnya itu menjadikan mulia yaitu bulan Dzulqo’dah dan Dzulhijjah,” tambahnya.
Menurut Mbah Moen, manusia sebagai ciptaan Allah memang harus tersambung dengan Sang Pencipta. Sebab semua yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia. Dan salah satu kemuliaan manusia tercapai jika sudah menunaikan ibadah haji. Beliau bahkan mengingatkan bahwa jika setelah berhaji hidup seseorang justru semakin tidak baik, maka itu menjadi pertanda bahaya.
“Namun ketika ada orang haji kok tambah hidup tidak enak, wah bahaya itu,” ungkap beliau dalam tausiyahnya.
Dalam budaya Jawa, Bulan Suro juga dikenal sebagai waktu untuk introspeksi diri, tirakat, dan menjauhi hura-hura. Banyak masyarakat yang memilih menyepi atau melakukan ritual spiritual sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan yang diyakini sakral ini.
Dengan bersumber dari syariat dan diperkuat nasihat ulama, Muharram atau Suro menjadi bulan penuh peluang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menjemput keberkahan. Momentum ini sebaiknya tidak disia-siakan, sebab kemuliaannya bukan hanya di dunia, tapi juga untuk bekal akhirat. [ian]






