Banyuwangi (beritajatim.com) – Hamparan perkebunan kopi di Banyuwangi menguatkan daerah ini menjadi salah satu sentra kopi. Selain itu, Banyuwangi juga menjadi pemilik penghasil kopi yang tinggi.
Total, luas perkebunan kopi rakyat di Banyuwangi mencapai 9.778 hektar. Produksi kopi rakyat mencapai 10.600 ton per tahun.
Selain sentra dan penghasil, kopi asal Bumi Blambangan juga memiliki cita rasa tersendiri. Buktinya, dari satu kecamatan saja sudah menarik perhatian lantaran memiliki ragam kopi yang berbeda.
Seperti yang tersaji saat Festival Kopi Rakyat di Kecamatan Kalibaru. Kegiatan yang digagas bertajuk Kalibaru Kopi Fiesta itu berlangsung 1-3 Agustus 2024.
Di Kecamatan Kalibaru, luasan perkebunan kopinya merupakan terluas nomor dua di Banyuwangi, mencapai 3.847 hektar yang didominasi jenis robusta, dengan rata-rata produksinya mencapai 4.256 ton pertahun.
Pada kesempatan ini, dua sentra kawasan kopi muncul dengan hasil kopi andalannya. Di antaranya, Desa Kalibaru Manis dan Desa Kebunrejo.
Ada sesi Public Cupping yang menghadirkan 13 sampel kopi arabika dan robusta dari petani lokal yang dinilai oleh para ahli.Juga ada diskusi publik sebagai penguatan literasi kopi yang diikuti petani kopi, pelaku UMKM, serta ahli kopi.
Mereka membahas beragam topik terkait pengembangan kopi di Kalibaru. Mulai dari strategi pemasaran, serta upaya peningkatan kualitas dan daya saing kopi lokal.
“Lewat festival ini, kami berharap identitas dan brand kopi Banyuwangi semakin kuat, sehingga peluang petani rakyat mendapatkan pasar juga makin terbuka,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Kopi rakyat, kata Ipuk, menyumbang produksi yang cukup tinggi. Pemerintah mencoba berupaya memberikan suplemen pemantik untuk tambah berkembang dari segi pemasaran.
“Dengan jumlah produksi kopi rakyat yang cukup besar maka bila pemasarannya dimaksimalkan bisa memberikan kesejahteraan yang maksimal bagi petani. Semoga lewat festival ini memperluas pasar mereka,” ujar Ipuk.
Bahkan sebelumnya, lanjut Ipuk, pihaknya telah mendaftarkan kopi robusta Banyuwangi untuk mendapatkan indeks geografis (IG) di Kementerian Hukum dan Ham, dengan brand Kopi Robusta Java Banyuwangi.
“Tidak lama lagi kopi Banyuwangi akan memiliki legalitas IG yang menjadi dasar legalitas kopi Banyuwangi sebagai perlindungan terhadap ke-otentikan kopi robusta Banyuwangi,” pungkas Ipuk. [rin/aje]






