Bondowoso, (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia, bahkan dunia.
Banyak kopi asal Bondowoso yang laku keras di pasar domestik nasional. Bahkan kopi Arabika Bondowoso berkualitas super bisa menembus pasar ekspor.
Lazimnya, ekspor kopi berbentuk setidaknya green bean atau kopi kering siap panggang/roasted. Ada juga yang sudah roasted dan dijual kemasan.
Namun alih-alih menjual green bean. Ternyata mayoritas petani kopi di Kabupaten Bondowoso menjual dalam bentuk HS basah.
HS basah adalah kopi yang telah dikupas kulitnya, kemudian dicuci dan dijemur sehari.
Sukamto, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Maju 2 mengaku lebih memilih menjual HS basah daripada berbentuk green bean.
“Kalau jual HS basah kan cukup menjemur 1 hari sudah bisa jadi uang,” dalih Sukamto kepada BeritaJatim.
Sedangkan untuk menjadi HS kering saja dibutuhkan waktu lebih lama antara 7-10 hari. Apalagi untuk mencapai level green bean.
“Untuk penjualan HS basah macam-macam. Yang penting harganya stabil, kami untung, baru saya jual,” tuturnya.
Berdasarkan informasi, Poktan kopi yang menjual HS basah biasanya ditampung oleh eksportir melalui kepanjangan tangannya di Bondowoso.
Mereka membeli kopi HS basah petani, kemudian mengolahnya kembali hingga menjadi green bean sebelum akhirnya dijual ke luar negeri.
Ada beberapa ‘tangan kanan’ eksportir dari luar daerah yang telah memiliki gudang kopi di Bondowoso.
Di antaranya PT Sari Makmur Tunggal Mandiri (Medan), PT Indocom Citra Persada (Lampung), PT Varion (Bandung), PT Orion (Medan) dan PT Olam (Singapura).
“Kelompok tani kami ada 38 anggota. Menggarap antara 1-5 hektar lahan,” sebutnya.
Puluhan petani itu bisa memproduksi kopi HS basah mencapai 300 ton per tahun.
“Harga HS basah 2-3 bulan lalu baru turun cuci bisa Rp 35 ribu per kilogram. Kalau sekarang turun drastis di angka Rp 32.500 per kilogram,” ulasnya.
Harga jual kopi Arabika HS basah tahun ini memang diakuinya sangat merosot dibandingkan tahun 2023 lalu.
“Masih enak tahun lalu. Jualnya bisa Rp 37 ribu sampai Rp 42 ribu per kilogram,” sebutnya.
Andi Wijaya, seorang petani sekaligus pengolah kopi di Kecamatan Sukosari menyebut, masih banyak petani tidak menjual green bean.
“Karena petani banyak tergiur dengan perputaran uang yang lebih cepat,” tutur Owner Java Raung Coffe.
Faktor kedua, sebab mayoritas petani belum memahami betul bagaimana mengolah kopi green bean yang diminati pasar besar bahkan ekspor.
“Faktor ketiga karena keterbatasan alat untuk mengolah kopi sesuai permintaan pasar ekspor itu sendiri,” kata dia.
Menurut Andi, dari ribuan petani kopi di wilayah Sumberwringin, hanya sebagian saja yang menjual green bean dan bisa menembus pasar ekspor.
“Mungkin perbandingannya per 30 atau 40 petani, hanya ada 1 petani prosesor kopi (0,025 – 0,03 persen),” sebut pria berkacamata ini. [awi/aje]






