Lumajang (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menjelaskan penyebab erupsi awan panas Gunung Semeru yang muncul dua kali dalam 3 hari terakhir.
Sebelumnya, erupsi berupa awan panas pertama dikeluarkan Gunung Semeru dengan jarak luncuran mencapai 5 kilometer pada, Jumat (9/1/2026).
Terbaru, erupsi awan panas dengan jarak yang sama kembali dilaporkan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), Minggu (11/1/2026) malam.
Kabid Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Lumajang Yudhi Cahyono mengatakan, sedikitnya ada dua faktor utama yang menyebabkan fenomena erupsi awan panas sering muncul.
Salah satunya adalah karena aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang masih tinggi dengan status aktivitas di level III (Siaga).
Hal ini bahkan membuat Gunung Semeru dapat memuntahkan erupsi dari kawah Jongkring Saloko sebanyak 100 kali dalam 24 jam. Sehingga, akan menyebabkan penumpukan material di puncak gunung yang akhirnya menjadi awan panas.
“Aktivitas letusan Gunung Semeru yang masing tinggi ini membuat muncul tumpukan marerial dan kalau longsor ke lereng jadinya awan panas guguran,” terang Yudhi, Senin (12/1/2026).
Menurutnya, curah hujan tinggi yang mengguyur puncak Gunung Semeru juga menjadi faktor awan panas muncul.
Sebab, saat hujan mengguyur kawasan puncak gunung, tumpukan material akan menjadi labil hingga berujung terjadi longsor yang membentuk awan panas.
“Jadi, hujan juga berperan besar yang membuat muncul awan panas,” tambahnya.
Yudhi menyebut, potensi erupsi awan panas susulan masih bisa terjadi kapan saja. Sebab, saat ini status aktivitas Gunung Semeru masih berada di level III (Siaga) dan bersifat fluktuatif.
Meski begitu, warga diimbau agar tidak mudah panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan. Utamanya bagi mereka yang masih tinggal dan beraktivitas di sekitar lereng dan daerah aliran sungai (DAS) Gunung Semeru.
“Tentu tidak menutup kemungkinan masih ada awan panas lagi. Jadi warga kami minta tetap tenang dan jangan panik, tapi harus waspada bagi mereka yang beraktivitas di area laharan seperti penambang,” tambah Yudhi.
Untuk itu, masyarakat diimbau agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga direkomendasikan tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
“Tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai,” ungkap Yudhi. (has/ted)






