Ringkasan Berita:
- Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI menemukan struktur yang diduga bagian permukiman elit di Situs Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto.
- Temuan berupa lantai bata, batu kali, dan struktur memanjang menguatkan dugaan adanya kawasan hunian pada masa Kerajaan Majapahit.
- Ekskavasi 2026 melibatkan UGM dan warga lokal, membuka tiga titik penggalian untuk memetakan tata ruang situs secara lebih komprehensif.
Mojokerto (beritajatim.com) – Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI tengah melakukan kegiatan penyelamatan Situs Sentonorejo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Dalam proses ekskavasi tersebut, tim menemukan sejumlah struktur yang diduga merupakan bagian dari kawasan permukiman elit pada masa Kerajaan Majapahit.
Ketua Tim Ekskavasi Situs Sentonorejo, Muhammad Ichwan, mengatakan temuan terbaru berupa struktur bata, batu kali, susunan batu bulat, lantai bata, hingga struktur memanjang yang diduga menjadi pembatas atau dinding kawasan permukiman.
“Dilihat dari pola dan karakteristiknya, ini merupakan situs permukiman,” ungkapnya, Senin (6/7/2026).
Ichwan menyebut, terdapat lantai dari bata dan struktur memanjang yang saat ini masih dikaji lebih lanjut apakah berfungsi sebagai dinding atau pagar pembatas ruang permukiman. Selain itu, tim juga menemukan susunan batu kali berbentuk lantai di tiga titik ekskavasi.
“Kami menemukan lantai dari susunan batu kali di tiga titik. Apakah ini benar merupakan lantai masih akan kami teliti lebih lanjut, namun temuan seperti ini juga pernah ditemukan di Situs Segaran yang berada di halaman Museum Majapahit” katanya.
Ia menjelaskan, Situs Sentonorejo sejak lama dikenal para arkeolog sebagai kawasan yang memiliki keistimewaan dibandingkan situs lain di Trowulan. Keistimewaan itu tidak hanya terlihat dari tinggalan arkeologi, tetapi juga didukung oleh toponimi atau nama-nama wilayah yang masih bertahan hingga kini.
Di sekitar lokasi terdapat Dusun Kedaton, Sentonorejo, Plintahan, hingga kawasan yang dalam Kitab Bujangga Manik disebut sebagai Bubat. Menurutnya, keterkaitan nama-nama tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan ini memiliki peran penting pada masa Majapahit.
“Dari sisi struktur juga terlihat adanya lantai segi enam yang menjadi ciri istimewa. Di kawasan ini juga terdapat Situs Kedaton, Sumur Upas, dan situs umpak yang masih memiliki korelasi. Berdasarkan data-data tersebut, kami menduga kawasan ini merupakan pemukiman elit,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan Situs Sumur Upas yang struktur bangunannya sudah terlihat jelas, di Sentonorejo indikasi kawasan permukiman mulai tampak melalui kemunculan lantai bata, lantai batu kali, serta struktur memanjang yang diduga menjadi batas antarbangunan atau kompleks permukiman.
Ekskavasi 2026 ini menjadi penggalian pertama yang dilakukan oleh BPKW XI di lokasi tersebut. Saat ini, tim membuka tiga titik penggalian yang telah dibebaskan, yakni di sebelah barat Situs Umpak, sebelah barat Situs Lantai Segi Enam, dan satu lokasi di seberang area ekskavasi utama.
“Sejumlah titik tersebut diduga membentuk satu kesatuan kawasan sehingga diharapkan dapat menghasilkan data yang lebih komprehensif mengenai tata ruang permukiman pada masa Majapahit. Penggalian yang dilakukan mahasiswa dan dosen di lokasi lain juga menemukan struktur bangunan serta lantai segi enam,” ujarnya.
Temuan tersebut tersambung dengan Situs Lantai Segi Enam di bagian timur, yang semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan Sentonorejo merupakan kompleks permukiman penting, bahkan diduga menjadi hunian kalangan elit pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Ekskavasi yang berlangsung pada 24 Juni hingga 8 Juli 2026 ini turut melibatkan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Total 33 orang terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari 18 warga setempat sebagai tenaga penggali dan 15 tenaga teknis. [tin/suf]






