Surabaya (beritajatim.com) – Tradisi budaya khas Madura kembali hadir memeriahkan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur. Tahun ini, Festival Sapi Sono 2025 siap digelar pada Minggu, 2 November 2025, bertempat di halaman Kantor Bakorwil IV Pamekasan, Jalan Slamet Riyadi No.1, Barurambat Kota, Pamekasan.
Acara tahunan yang selalu dinanti masyarakat ini akan menampilkan keanggunan sapi betina dalam balutan busana tradisional khas Madura. Tidak seperti karapan sapi yang menonjolkan kecepatan, Sapi Sono’ menitikberatkan pada keindahan, keserasian gerak, serta keanggunan langkah pasangan sapi saat berjalan menuju garis akhir.
Festival Sapi Sono’ sendiri telah dikenal sejak tahun 1960-an dan tumbuh dari budaya agraris masyarakat Madura. Sapi yang awalnya menjadi simbol kekuatan dan kesejahteraan, kini berkembang menjadi bagian dari seni pertunjukan tradisional.
Dalam kompetisi ini, setiap pasangan sapi dihias dengan ornamen warna-warni, kain sutra, hingga aksesoris berkilau. Musik tradisional saronen mengiringi langkah sapi yang berlenggak-lenggok anggun di hadapan dewan juri dan penonton.
Penilaian tidak hanya didasarkan pada keindahan penampilan, tetapi juga pada keserasian gerak. Saat mencapai garis finish, kedua kaki depan sapi harus naik secara bersamaan ke altar kayu, melambangkan harmoni dan kerja sama yang selaras — nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Madura.
Lebih dari sekadar hiburan, Festival Sapi Sono’ juga menjadi daya tarik wisata budaya yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian lokal, seperti pedagang, pengrajin hiasan sapi, hingga pelaku usaha kuliner.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan berharap ajang ini mampu memperkuat identitas budaya Madura di tengah arus modernisasi serta menjadi magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Dengan semangat pelestarian budaya dan nilai-nilai gotong royong, Festival Sapi Sono’ bukan hanya tentang lomba, tetapi juga perayaan warisan leluhur yang penuh filosofi dan keindahan. Melalui festival ini, diharapkan warisan budaya bisa tetap terjaga sekaligus dikembangkan menjadi aset wisata yang bernilai tinggi. [fyi/aje]






