Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kemacetan yang terjadi di Jalan Prof. Dr. Moestopo akibat dampak proyek pembangunan konektivitas saluran drainase, Rabu (1/7/2026).
Permohonan maaf itu disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita. Pihaknya mengatakan, “Mohon maaf sebelumnya memang ada sedikit gangguan terhadap pengguna jalan, terutama di daerah Jalan Prof. Dr. Moestopo,”.
Menurutnya, proyek yang mulai dikerjakan pada Kamis 25 Juni 2026 tersebut, merupakan pembangunan box culvert sebagai saluran penghubung menuju Rumah Pompa Dharmahusada.
Adi menjelaskan pembangunan saluran tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengatasi genangan banjir yang terjadi di kawasan Karang Menjangan.
“Jadi untuk menangani masalah problem genangan yang ada di Karang Menjangan. Salah satunya itu,” katanya.
Kendati demikian, Pemkot Surabaya telah menyiapkan langkah percepatan penyelesaian proyek di ruas Jalan Prof. Dr. Moestopo tersebut, di mana proyek ditargetkan akan rampung pada bulan September 2026.
“Jadi memang proyeknya selama empat bulan, tapi kita kejar untuk di posisi jalan arterinya yang Moestopo itu kita percepat,” jelas Adi.
Adi menuturkan, bahwa percepatan pekerjaan ini sebelumnya sempat terkendala utilitas PDAM yang berada di lokasi proyek. “Kemarin memang ada persinggungan dengan utilitas PDAM, sehingga memang perlu waktu. Itu karena kemarin juga dampaknya ada sedikit kebocoran di pipa PDAM,” ungkapnya.
Penggalian dilakukan mulai dari depan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga Kampus A hingga simpang lampu lalu lintas Jalan Karang Menjangan. Namun, pengerjaan di ruas Jalan Prof. Dr. Moestopo menjadi prioritas percepatan.
Setelah proyek rampung, Adi menjelaskan bahwa saluran baru itu akan mengalirkan air dari kawasan Karang Menjangan menuju Rumah Pompa Dharmahusada sebelum dibuang ke Kali Jeblokan. Dengan sistem tersebut, genangan di kawasan tersebut diharapkan dapat lebih cepat surut.
“Jadi memang fungsinya ini untuk saluran konektivitas. Nanti yang dari (Jalan) Karang Menjangan, yang sekiranya kemarin ada permasalahan genangan itu nanti kita pompa, kita sedot di (rumah) pompa Dharmahusada untuk dibuang ke Kali Jeblokan,” terangnya.
Untuk meminimalkan dampak terhadap lalu lintas, pekerjaan konstruksi dilakukan pada pukul 21.00 hingga 05.00 WIB, sesuai arahan kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub). Sementara pada pagi hingga sore hari, Pemkot Surabaya melakukan rekayasa lalu lintas melalui penyesuaian waktu lampu lalu lintas serta penempatan personel di lokasi.
“Jadi ngapunten (mohon maaf) pengerjaan memang kita lakukan malam hari, sesuai dengan arahan dari teman-teman kepolisian dan dari Dinas Perhubungan (Dishub),” ujarnya.
Selain itu, Adi menuturkan bahwa petugas Dishub Surabaya bersama pihak kontraktor juga disiagakan untuk membantu mengatur arus kendaraan selama proyek berlangsung. “Jadi kalau sekiranya tadi memang ada sedikit bottleneck, penyempitan, kami mohon maaf kepada para pengguna jalan,” tuturnya.
Adi memastikan pekerjaan tetap berlangsung setiap hari, termasuk pada hari libur dan tanggal merah, agar proyek dapat selesai sesuai target. “Tetap (dikerjakan), hari kalender kita tidak ada libur,” pungkasnya. (rma/ted)






