Malang (beritajatim.com) – Psikolog yang juga Dosen Prodi Psikologi Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Muhammadiyah (UMM) Uun Zulfiana, M.Psi menjelaskan tentang ciri, gejala, dan faktor skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan psikotik berupa disorientasi realita.
“Gangguan ini menyebabkan kontak terhadap kenyataan berkurang atau bahkan tidak berfungsi jika gangguan tersebut terlampau parah,” ungkap dosen yang sering disapa Uun ini, Kamis (22/2/2024).
Uun menunjukkan data Kementerian Kesehatan RI 2023 gangguan kesehatan mental atau depresi telah menjadi masalah kejiwaan yang rentan dialami remaja. Sebanyak 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental, salah satunya adalah skizofrenia.
“Skizofrenia berdampak pada pemikiran, emosional, dan perilaku manusia. Jika dilihat lebih dalam, gangguan ini bisa disebabkan oleh empat faktor. Pertama faktor biologis,” ujarnya.
Faktor biologis artinya jika seseorang mempunyai riwayat keturunan atau silsilah keluarga yang terdiagnosa skizofrenia, maka potensi keturunannya lebih besar mengidap gejala ini. Apalagi dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
“Faktor kedua adalah kepribadian diri sendiri artinya untuk melakukan problem solving, melihat dirinya (self-esteemnya) apakah termasuk introvert atau extrovert,” lanjut dosen FPSi UMM ini.
Kemudian, ketiga berkaitan dengan lingkungan atau psikososial yang meliputi ekonomi, sosial masyarakat, dan lainnya. Keempat, penggunaan obat terlarang yang cukup lama, hal tersebut menyebabkan kerusakan otak dan bisa mempengaruhi skizofrenia.
Adapun gejala atau ciri penderita skizofrenia juga ada empat. Pertama, seseorang yang melakukan isolasi diri karena merasa mencapai agresif yang berlebihan. Kedua, secara emosional tidak terkendali, bisa sangat pasif seperti malas dan sebaliknya bisa terlalu aktif.
“Ciri ketiga, secara kognitif munculnya disorientasi tidak nyambung mengenai waktu dan suasana, yang bisa saja mengartikan sesuatu jadi tidak benar. Keempat, gejala yang paling menonjol, halusinasi atau delusi dengan munculnya bisikan atau ajakan melakukan hal yang sebenarnya tidak dilakukan orang normal,” jelas Uun..
Namun, seseorang yang memenuhi keempat ciri seperti tersebut tidak dapat langsung dilakukan diagnosa. Cirinya harus menetap selama enam bulan secara persisten dan konsisten.
Dosen UMM ini menyebut terkait potensi kesembuhan pasien skizofrenia bergantung pada level gangguan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesembuhannya.

“Semakin dia mudah mengalami gangguan dan sudah lama mengidapnya, maka kemungkinan penyembuhannya tidak bisa 100%. Namun, jika gangguan muncul saat usia tua dan terdeteksi dengan cepat maka kemungkinan kesembuhannya lebih positif,” ujarnya.
Proses penyembuhan pasien dapat melalui sisi medis, fisiologis, dan psikoterapi dengan berbagai pendekatan. Uun juga memberikan tips agar gangguan skizofrenia tidak terulang ke generasi penerus dengan manajemen stres yang baik.
“Selain itu, perlu juga proses relaksasi pikiran dengan refreshing dan menghindari faktor pemicu. Langkah terbaik adalah menyelesaikan faktor pemicunya, namun jika tidak bisa lebih baik untuk menghindar,” lanjutnya.
Psikolog ini berharap penderita Skizofrenia dapat lebih peka dengan keadaan ketika merasakan ciri atau gejalanya. Ia menghimbau agar tidak malu untuk bercerita tentang masalah yang sedang dialami pada orang terdekat atau yang paling dipercaya. “Jika tidak, segera konsultasikan karena saat ini anda telah dimudahkan oleh teknologi yang membuat anda bisa melakukan konsultasi dengan tenaga profesional hanya melalui gawai,” katanya menutup. (dan/kun)






