Malang (beritajatim.com) – Mantan penyerang Timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho, angkat bicara mengenai polemik kualitas dasar pemain sepak bola Indonesia yang kerap dikeluhkan oleh pelatih Timnas, Shin Tae-yong. Menurut sosok yang kini aktif melatih bakat muda ini, masalah teknik dasar pemain tidak bisa dipisahkan dari buruknya infrastruktur di level akar rumput (grassroot).
Saat menghadiri turnamen usia dini Superco Superfest di Malang, Indriyanto menyoroti realitas pahit yang dihadapi Sekolah Sepak Bola (SSB) di daerah. Ia menegaskan, kritik mengenai kemampuan passing dan kontrol bola yang lemah bukan sepenuhnya kesalahan pemain atau pelatih, melainkan fasilitas yang tidak memadai.
“Shin Tae-yong pernah bilang, ‘wah passing pemain tidak bisa’. Jangan bicara seperti itu dulu, tolong lihat ke bawah, tolong lihat ke grassroot,” ujar Indriyanto.
Ia merespons keluhan Shin Tae-yong, menjelaskan bahwa sulit bagi pelatih di daerah mengajarkan teknik yang benar jika kondisi lapangan jauh dari kata layak. Ia menggunakan istilah grentes (permukaan tidak rata/bergelombang) untuk menggambarkan kondisi mayoritas lapangan di Indonesia.
“Maaf, lapangan di Indonesia ngertos diwi (tahu sendiri) kondisinya. Bagaimana kita mau melatih mereka passing dasar yang bagus, kontrol yang bagus, kalau lapangannya seperti itu?” tegas pelatih yang akrab disapa Coach Indri ini.
Budaya Intervensi Orang Tua Merusak Mental Anak Usia Dini
Selain infrastruktur, Indriyanto juga menyoroti budaya buruk orang tua di Indonesia yang sering mengintervensi anak saat bertanding. Ia membandingkan hal ini dengan budaya sepak bola di Italia yang pernah ia rasakan selama tiga tahun.
“Di Italia, orang tua cuma mengantar sampai depan pintu. Mereka tidak melihat apa yang terjadi di lapangan. Kalaupun menonton, mereka hanya memberi semangat positif,” jelasnya.
Kontras dengan Indonesia, di mana teriakan instruksi teknis dari orang tua di pinggir lapangan justru membuat anak bingung. “Pelatih ngomong A, orang tua teriak B. Anaknya jadi bingung,” lanjut Coach Indri.
Menurutnya, anak-anak usia dini (8-10 tahun) harus dibiarkan bermain bebas agar motoriknya berkembang. “Mental anak bisa rusak jika terus ditekan dari luar lapangan,” tambahnya. Indriyanto menegaskan perlunya edukasi agar orang tua tidak ‘menyetir’ anak-anak, melainkan membiarkan mereka bermain lepas.
Apresiasi Kompetisi Daerah dan Sentilan untuk PSSI
Meskipun kondisi infrastruktur belum ideal, Indriyanto mengapresiasi antusiasme pembinaan usia dini yang tinggi, terutama di daerah seperti Malang dan Yogyakarta, bahkan peserta turnamen ada yang datang dari Kalimantan dan Lampung.
Ia menilai turnamen seperti Superco Superfest yang konsisten digelar menjadi oase di tengah minimnya kompetisi berkualitas. “Fondasi utama Timnas itu ya di grassroot. Saya ingin dari kompetisi seperti ini muncul Marselino-Marselino baru,” harapnya.
Indriyanto juga menyentil PSSI dan Asprov untuk lebih aktif merangkul daerah dan tidak hanya berfokus pada pemain naturalisasi atau diaspora di level usia dini.
“Pemain diaspora di senior boleh, silakan. Tapi kalau di bawah (usia dini), jangan lah. Pemain kita di dasar sebenarnya bagus-bagus, tinggal fasilitasnya saja,” pungkasnya. Indriyanto mengaku saat ini memilih fokus mengabdi untuk anak-anak Indonesia, meski masih membuka peluang melatih di Liga 1 atau Liga 2. [dan/beq]






