Ringkasan Berita:
- IHSG ditutup melemah 0,52 persen ke level 6.127 pada akhir perdagangan pekan lalu.
- Investor asing mencatat penjualan bersih atau outflow sebesar Rp19,4 triliun di pasar reguler sepanjang Mei 2026.
- Pelemahan pasar dipengaruhi sentimen global dan domestik, terutama tekanan rupiah dan arus keluar modal.
- IPOT merekomendasikan saham GGRM, MAPI, ICBP, serta ETF XIIC untuk dicermati investor pada pekan ini.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.127 atau melemah sekitar 0,52 persen dibandingkan pekan sebelumnya pada akhir perdagangan Jumat (29/5/2026). Menariknya, di tengah pelemahan IHSG selama kurang lebih satu bulan terakhir, investor asing melakukan penjualan bersih (outflow) mencapai Rp19,4 triliun di pasar reguler sepanjang Mei 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menegaskan pelemahan pasar saham dan keluarnya dana asing dipengaruhi kombinasi sentimen global maupun domestik.
Dari sisi global, terdapat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Menurut David, tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan tanda-tanda mereda setelah munculnya draf Memorandum of Understanding (MoU) mengenai gencatan senjata selama 60 hari yang masih menunggu persetujuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Sentimen tersebut meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek perdamaian di kawasan, sehingga mendorong koreksi harga minyak. Dalam satu bulan terakhir, harga minyak Brent tercatat turun sekitar 17 persen, sementara harga minyak WTI melemah sebesar 17,14 persen,” jelas David.
Namun dari dalam negeri, pasar masih menghadapi tekanan nilai tukar rupiah. Rupiah menutup pekan di kisaran Rp17.863 per dolar AS dan mendekati level terendah sepanjang masa. Pelemahan sekitar 6,6 persen secara year to date (YtD) menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia bersama Rupee India dan Peso Filipina.
“Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan Kuartal I 2026 sebesar USD 4 miliar atau 1,09 persen PDB, permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada Kuartal II serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed,” tandas David.
Memasuki Juni 2026, perhatian investor diperkirakan akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing. Menurut David, stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor paling krusial dalam menentukan arah pasar ke depan.
Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan eksternal, pasar masih akan mencermati apakah kebijakan tersebut cukup efektif untuk menahan volatilitas rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal.
“Jika Rupiah mampu menunjukkan stabilisasi dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik,” ujarnya.
Selain faktor domestik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni berpotensi menjadi katalis terbesar bulan ini. Investor menunggu sinyal terbaru mengenai arah suku bunga dan prospek inflasi Amerika Serikat.
“Sikap The Fed yang masih cenderung hawkish berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang. Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko termasuk pasar saham Indonesia dapat memperoleh sentimen positif,” jelasnya.
Merespons dinamika pasar tersebut, IPOT yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator) merekomendasikan sejumlah instrumen investasi untuk dicermati investor pada pekan ini.
Rekomendasi pertama adalah saham GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. Saham ini direkomendasikan buy pada harga 17.000 dengan target harga 18.525 dan stop loss 16.275. Menurut IPOT, secara teknikal GGRM kembali bergerak di atas MA5 dan berpotensi memasuki tren naik setelah sebelumnya bergerak sideways.
Rekomendasi kedua adalah saham MAPI atau PT Mitra Adiperkasa Tbk. Saham ini direkomendasikan buy pada level 1.495 dengan target harga 1.600 dan stop loss 1.450. MAPI dinilai menarik karena konsisten bergerak di atas MA5 dan berpotensi menguat apabila berhasil menembus area konsolidasi.
Pilihan berikutnya adalah saham ICBP atau PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Saham ini direkomendasikan buy pada harga 7.100 dengan target harga 7.525 dan stop loss 6.875. Menurut IPOT, harga ICBP mulai menunjukkan pola bottoming di area support dan indikator MACD memperlihatkan sinyal hidden bullish divergence.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan ETF Consumer Indonesia atau XIIC. Produk investasi berbasis sektor konsumer tersebut dinilai berada pada area yang menarik untuk mulai dicermati investor ritel. Berfokus pada sektor consumer, XIIC memberikan eksposur terhadap sejumlah emiten pilihan yang dekat dengan aktivitas konsumsi masyarakat dan berpotensi memperoleh sentimen positif seiring prospek pemulihan sektor konsumsi nasional. [beq]






