Surabaya (beritajatim.com) – HUT ke-80 RI menjadi momen perdana bagi ratusan Eks Jamaah Islamiyah menyanyikan Indonesia Raya sembari mengangkat tangan kanan. Jari-jari rapat dan lurus. Telapak tangan menghadap kebawah dan sedikit miring. Ujung jari tengah menyentuh pelipis kanan. Mata melihat sang Saka Merah Putih yang berkibar semakin tinggi.
Momen eks kelompok separatis Jamaah Islamiyah melaksanakan upacara HUT ke-80 RI bukan hanya terjadi di satu lokasi. Total ada tujuh lokasi tempat eks Jamaah Islamiyah mengadakan penghormatan kepada bendera Merah Putih. Diantaranya, Ponpes Al-Uswah (Sumenep, Madura), Ponpes Al-Islam (Solokuro, Lamongan), Ponpes Al-Ikhlas (Brondong, Lamongan), Ponpes Abdurrahman Bin Auf (Bojonegoro), Ponpes Ar-Rohmah (Ngawi), Ponpes Al-Ihsan (Kebonsari, Madiun), serta Ponpes Ibnu Abbas (Gadang, Malang).
Eks anggota JI asal Bojonegoro Ustadz Mujiono bahkan mengajak para peserta untuk ingat dan mengenang jasa pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Baginya, perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan harta dan nyawa harus direfleksikan agar kedepan Indonesia semakin berdaulat kedepan.
“Ayo kita lanjutkan perjuangan mereka, dengan mewujudkan bangsa yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Sehingga terwujud Indonesia yang berdaulat. Rakyat sejahtera. Indonesia maju,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas (Sedayu Lawas, Brondong, Lamongan) Ustadz Azhari Dipokusumo. Dengan teriakan lantang, Azhari menyerukan persatuan Indonesia. “Semoga Negara ini menjadi seperti yang disebut dalam Al-Quran Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur (Maju dan berakhlak mulia),” jelasnya.
Semangat nasionalis dan komitmen untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga diserukan oleh pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Achmad mengungkapkan bahwa momen HUT Kemerdekaan RI bisa menjadi momentum dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
“Ini menjadi ajang bagi kami, pengurus dan pengajar di sini untuk mengingat dan merefleksi perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Tentunya akan kami sampaikan kepada santri-santri kami pentingnya semangat persatuan,” jelasnya.
Dalam upacara yang digelar di tujuh lokasi berbeda itu, para pemimpin upacara membacakan amanat upacara dari Kementerian Agama RI. Banyak pesan yang disampaikan. Namun, satu yang penting. eks anggota JI mempererat silaturahmi, ukhuwah wathaniyah dengan masyarakat agar menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kehidupan yang harmonis dan toleran.
“Pondok pesantren harus terus menjaga dan menjunjung nilai-nilai berbangsa yang telah ditanamkan sebelum kemerdekaan RI. Para kyai dan santri juga menjadi garda terdepan berjihad fi sabilillah dalam bingkai cinta tanah air, persatuan dan kesatuan, serta bhinneka tunggal ika,” pungkasnya.
Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, mengikuti upacara HUT ke-80 RI mungkin adalah hal yang biasa. Namun bagi sebagian besar anggota eks Jamaah Islamiyah, momen HUT ke-80 RI merupakan waktu yang bersejarah. Karena pada momen ini, mereka baru pertama kali melaksanakan upacara dengan khidmat.
Momen sakral terasa saat para peserta mengangkat tangan kanan. Sikap hormat. Mata tertuju pada Merah Putih yang kian tinggi tiap bait Indonesia Raya dinyanyikan. Tentunya, peristiwa seperti ini tidak akan ditemui beberapa waktu lalu. Saat mereka masih menganut ideologi Khilafah dan memerangi Indonesia. (ang/kun)






