Lumajang (beritajatim.com) – Kepanikan warga di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, terjadi saat hujan abu kembali mengguyur cukup lebat, Minggu (5/12/2021) siang ini. Warga memacu motornya untuk kembali turun ke tempat aman.
Pantauan beritajatim.com, guyuran abu vulkanik Gunung Semeru kembali terjadi, Minggu (5/12/2021), sekitar pukul 10.30 WIB.
Abu pekat menyelimuti seluruh Desa Supiturang, warga sebelumnya ingin melihat kondisi rumahnya. Mereka terpaksa bergegas turun meninggalkan kampung halamannya.
Kondisi udara sangat membahayakan, karena bersamaan dengan guyuran abu vulkanik, angin bertiup cukup kencang. Deburan abu vulkanik juga membuat mata perih dan sesak nafas.
“Ayo.. turun, jangan keatas. Abu vulkanik turun lagi,” teriak warga menghalau pengendara yang akan menuju daerah lebih tinggi.
Menurut Ahmad Yasin (40), salah seorang warga mengaku, kepanikan warga lantaran angin berhembus cukup kencang. Sehingga membuat abu vulkanik berhamburan ke udara.
Kendati begitu, Ahmad Yasin mengungkapkan, setidaknya dua dusun yang berada di wilayah atas mengalami dampak cukup parah. Yakni Dusun Sumbersari dan Dusun Umbulan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
“Diatas ada tiga dusun terdampak, tetapi yang terparah adalah Dusun Sumbersari dan Dusun Umbulan. Semua rumah rusak, kalau Dusun Kamar A, tidak semuanya,’ terang Yasin ditemui di lokasi, Minggu siang.
Kondisi udara cukup membahayakan bagi kesehatan warga, membuat petugas gabungan bersama relawan membagikan masker di depan Kantor Desa Supiturang.
Sementara itu, Camat Pronojiwo Abdillah Irsyad membenarkan, daerah terdampak erupsi Gunung Semeru terparah adalah Desa Supiturang. Disusul kemudian Desa Oro-Oro Ombo, serta Desa Sumbersari.
“Daerah terdampak paling parah adalah Desa Supiturang,” tegasnya ditemui di salah satu posko pengungsian di Kecamatan Pronojiwo.
Abdillah mengungkapkan, bahwa memang banyak warga yang memilih pulang hari ini. Tujuannya adalah melihat dan mengamankan barang-barang berharga, padahal itu cukup berbahaya.
“Makanya kami menghimbau warga agar tidak pulang, tetap saja di pengungsian. Karena sangat membahayakan,” pungkasnya. (yog/ted)






